Jakarta, SniperNew.id - Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) kembali menyita perhatian publik dengan aksi simbolis yang mereka lakukan di hadapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Dalam momen tersebut, mereka menyerahkan obat herbal merek Tolak Angin sebagai bentuk sindiran terhadap kinerja lembaga antirasuah yang dinilai lamban dalam memproses kasus dugaan korupsi yang menyeret nama Bupati Pati, S.
Aksi yang viral di media sosial ini menimbulkan beragam tanggapan, baik dari masyarakat Pati sendiri maupun warganet dari berbagai daerah di Indonesia. Banyak pihak menilai, cara unik ini menjadi bentuk kritik kreatif terhadap lembaga penegak hukum.
AMPB menggelar aksi simbolis dengan memberikan “hadiah” berupa obat herbal Tolak Angin kepada KPK. Obat tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Menurut mereka, KPK seakan “masuk angin” atau melambat dalam menangani dugaan kasus korupsi yang menyeret Pejabat Pati, S.
Masyarakat menilai, langkah KPK yang belum juga menetapkan status tersangka kepada S menimbulkan tanda tanya besar. Melalui simbol Tolak Angin, mereka berharap KPK segera “sembuh” dari kelambanan dan kembali bekerja cepat dalam menegakkan hukum.
Aksi ini dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), sebuah kelompok masyarakat yang menaruh perhatian besar pada kasus dugaan korupsi di daerahnya. Dalam unggahan akun media sosial suaraakarrumputt, terlihat perwakilan warga membawa bungkusan Tolak Angin sambil mengangkatnya tinggi di ruang konferensi, sebagai bentuk penegasan protes mereka.
Target aksi ini jelas, yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai lembaga yang berwenang mengusut dan menetapkan status hukum bagi para pejabat yang terlibat korupsi.
Aksi simbolis ini dilakukan di kantor KPK, Jakarta. Pemilihan lokasi tersebut menjadi bentuk pernyataan langsung kepada lembaga pusat agar tidak mengabaikan suara masyarakat daerah. Kehadiran warga Pati ke ibu kota juga memperlihatkan keseriusan mereka dalam menuntut keadilan.
Sementara itu, publikasi aksi ini viral di media sosial, salah satunya melalui unggahan akun suaraakarrumputt di platform Threads. Dari sinilah peristiwa tersebut menyebar cepat ke masyarakat luas.
Berdasarkan unggahan di media sosial, aksi ini berlangsung sekitar tujuh hari lalu sejak unggahan dipublikasikan. Dengan cepat, cuplikan video aksi tersebut menyebar dan mendapat perhatian publik, hingga menjadi salah satu topik yang ramai dibicarakan di lini masa.
Alasan utama aksi ini adalah kekecewaan masyarakat Pati atas lambannya KPK dalam memproses kasus dugaan korupsi yang menyeret Bupati S.
Masyarakat menilai, kasus yang sudah cukup lama bergulir itu seharusnya dapat segera dituntaskan agar tidak menimbulkan prasangka buruk dan ketidakpercayaan kepada lembaga antikorupsi. Dengan memberi Tolak Angin, mereka menyindir bahwa KPK sedang “kurang sehat” atau “masuk angin” dalam menjalankan tugasnya.
Selain itu, aksi simbolis ini juga dimaksudkan untuk menarik perhatian media nasional, agar kasus korupsi di Pati tidak tenggelam di tengah banyaknya isu politik dan hukum di tingkat pusat.
Aksi dilakukan secara damai dan simbolis. Perwakilan warga Pati membawa satu bungkus Tolak Angin, kemudian mengangkatnya tinggi-tinggi dalam forum. Momen tersebut direkam dan kemudian disebarkan di media sosial.
Tidak ada kericuhan atau tindakan anarkis yang terjadi. Justru, dengan cara kreatif ini, pesan protes mereka berhasil sampai ke publik luas.
Dalam video yang beredar, terlihat seorang pria mengenakan kemeja garis-garis berdiri di hadapan forum sambil mengangkat bungkus Tolak Angin ke udara. Teks dalam video bertuliskan “Warga Pati Hadiahi KPK” menegaskan maksud simbolis aksi tersebut.
Reaksi publik pun beragam. Sebagian warganet mendukung langkah masyarakat Pati yang dinilai kreatif, berani, dan tetap santun. Mereka menilai, aksi simbolis semacam ini lebih efektif menarik perhatian dibandingkan dengan demonstrasi konvensional.
Namun, ada pula yang menilai aksi tersebut sebagai tanda frustrasi masyarakat atas lemahnya penegakan hukum di daerah. Mereka khawatir, jika KPK tidak segera mengambil langkah tegas, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga antikorupsi bisa semakin merosot.
Nama Bupati Pati, S, menjadi sorotan utama dalam kasus ini. Ia disebut-sebut terlibat dalam dugaan tindak pidana korupsi, meski hingga kini KPK belum menetapkannya sebagai tersangka.
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu menilai, status hukum yang belum juga diumumkan mencerminkan lambannya kinerja KPK. Padahal, masyarakat menuntut kejelasan agar tidak ada kesan bahwa hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas.
Bagi warga Pati, kasus ini bukan hanya menyangkut soal dugaan korupsi semata, melainkan juga menyangkut harga diri masyarakat daerah yang ingin melihat pejabatnya bersih dan berintegritas.
Pilihan memberikan Tolak Angin memiliki makna mendalam. Obat herbal ini populer di Indonesia sebagai penawar masuk angin, simbol kondisi tubuh yang lemah atau tidak fit.
Dengan menghadiahkan Tolak Angin, warga Pati bermaksud menyindir bahwa KPK sedang “tidak fit” dalam menjalankan tugas utamanya memberantas korupsi. Mereka berharap, “obat” ini bisa membuat KPK kembali sehat, bekerja cepat, dan berani menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
Simbol semacam ini bukan pertama kali dilakukan dalam aksi protes di Indonesia. Sebelumnya, masyarakat juga kerap menggunakan benda sehari-hari sebagai simbol kritik, mulai dari bunga, boneka, hingga makanan. Namun, penggunaan Tolak Angin kali ini dinilai unik dan relevan dengan pesan yang ingin disampaikan.
Aksi simbolis ini diperkirakan akan memberikan tekanan moral kepada KPK agar segera mengambil sikap tegas terhadap kasus yang melibatkan Bupati S.
Jika KPK tetap lamban, tidak menutup kemungkinan aksi serupa akan kembali digelar dengan simbol-simbol lain yang lebih kuat. Sebaliknya, jika KPK merespons cepat, aksi ini bisa menjadi contoh bagaimana suara masyarakat daerah dapat memengaruhi keputusan di tingkat pusat.
Selain itu, aksi ini juga menegaskan bahwa masyarakat daerah kini semakin melek politik dan hukum. Mereka tidak segan-segan menyuarakan aspirasi dengan cara kreatif agar mendapatkan perhatian publik nasional.
Aksi “Tolak Angin untuk KPK” yang digelar oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu menjadi salah satu bentuk kritik kreatif masyarakat terhadap lembaga antirasuah. Dengan simbol sederhana, mereka menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya integritas, kecepatan, dan ketegasan dalam memberantas korupsi.
Bagi warga Pati, aksi ini bukan hanya soal Bupati S, melainkan juga tentang masa depan tata kelola pemerintahan daerah yang bersih dan dipercaya. Publik kini menunggu respons KPK: apakah kritik simbolis ini akan menjadi pengingat untuk bekerja lebih tegas, atau justru dibiarkan menjadi sekadar viral di media sosial. (Dar/Ahm)













