Berita Daerah

Aksi Tolak Angin untuk KPK: Sindiran Warga Pati atas Kasus Korupsi Pejabat S”

154
×

Aksi Tolak Angin untuk KPK: Sindiran Warga Pati atas Kasus Korupsi Pejabat S”

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id - Alian­si Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) kem­bali menyi­ta per­ha­t­ian pub­lik den­gan aksi sim­bo­lis yang mere­ka lakukan di hada­pan Komisi Pem­ber­an­tasan Korup­si (KPK).

Dalam momen terse­but, mere­ka meny­er­ahkan obat herbal merek Tolak Angin seba­gai ben­tuk sindi­ran ter­hadap kin­er­ja lem­ba­ga anti­ra­suah yang dini­lai lam­ban dalam mem­pros­es kasus dugaan korup­si yang meny­eret nama Bupati Pati, S.

Aksi yang viral di media sosial ini menim­bulkan beragam tang­ga­pan, baik dari masyarakat Pati sendiri maupun war­ganet dari berba­gai daer­ah di Indone­sia. Banyak pihak meni­lai, cara unik ini men­ja­di ben­tuk kri­tik kre­atif ter­hadap lem­ba­ga pene­gak hukum.

AMPB mengge­lar aksi sim­bo­lis den­gan mem­berikan “hadi­ah” beru­pa obat herbal Tolak Angin kepa­da KPK. Obat terse­but dip­il­ih bukan tan­pa alasan. Menu­rut mere­ka, KPK seakan “masuk angin” atau melam­bat dalam menan­gani dugaan kasus korup­si yang meny­eret Peja­bat Pati, S.

Masyarakat meni­lai, langkah KPK yang belum juga mene­tap­kan sta­tus ter­sang­ka kepa­da S menim­bulkan tan­da tanya besar. Melalui sim­bol Tolak Angin, mere­ka berharap KPK segera “sem­buh” dari kelam­banan dan kem­bali bek­er­ja cepat dalam mene­gakkan hukum.

Aksi ini dilakukan oleh Alian­si Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), sebuah kelom­pok masyarakat yang menaruh per­ha­t­ian besar pada kasus dugaan korup­si di daer­ah­nya. Dalam ung­ga­han akun media sosial suaraakar­rumputt, ter­li­hat per­wak­i­lan war­ga mem­bawa bungku­san Tolak Angin sam­bil men­gangkat­nya ting­gi di ruang kon­fer­en­si, seba­gai ben­tuk pene­gasan protes mere­ka.

  DPRD Pringsewu Tanggapi Masalah Pupuk Subsidi: Pengawasan Diperketat demi Kepastian Harga dan Ketahanan Pangan

Tar­get aksi ini jelas, yakni Komisi Pem­ber­an­tasan Korup­si (KPK) seba­gai lem­ba­ga yang berwe­nang men­gusut dan mene­tap­kan sta­tus hukum bagi para peja­bat yang ter­li­bat korup­si.

Aksi sim­bo­lis ini dilakukan di kan­tor KPK, Jakar­ta. Pemil­i­han lokasi terse­but men­ja­di ben­tuk perny­ataan lang­sung kepa­da lem­ba­ga pusat agar tidak mengabaikan suara masyarakat daer­ah. Kehadi­ran war­ga Pati ke ibu kota juga mem­per­li­hatkan keseriu­san mere­ka dalam menun­tut kead­i­lan.

Semen­tara itu, pub­likasi aksi ini viral di media sosial, salah sat­un­ya melalui ung­ga­han akun suaraakar­rumputt di plat­form Threads. Dari sini­lah peri­s­ti­wa terse­but menye­bar cepat ke masyarakat luas.

Berdasarkan ung­ga­han di media sosial, aksi ini berlang­sung sek­i­tar tujuh hari lalu sejak ung­ga­han dipub­likasikan. Den­gan cepat, cup­likan video aksi terse­but menye­bar dan men­da­p­at per­ha­t­ian pub­lik, hing­ga men­ja­di salah satu top­ik yang ramai dibicarakan di lini masa.

Alasan uta­ma aksi ini adalah keke­ce­waan masyarakat Pati atas lam­ban­nya KPK dalam mem­pros­es kasus dugaan korup­si yang meny­eret Bupati S.

Masyarakat meni­lai, kasus yang sudah cukup lama bergulir itu seharus­nya dap­at segera ditun­taskan agar tidak menim­bulkan prasang­ka buruk dan keti­dakper­cayaan kepa­da lem­ba­ga antiko­rup­si. Den­gan mem­beri Tolak Angin, mere­ka menyindir bah­wa KPK sedang “kurang sehat” atau “masuk angin” dalam men­jalankan tugas­nya.

Selain itu, aksi sim­bo­lis ini juga dimak­sud­kan untuk menarik per­ha­t­ian media nasion­al, agar kasus korup­si di Pati tidak tengge­lam di ten­gah banyaknya isu poli­tik dan hukum di tingkat pusat.

Aksi dilakukan secara damai dan sim­bo­lis. Per­wak­i­lan war­ga Pati mem­bawa satu bungkus Tolak Angin, kemu­di­an men­gangkat­nya ting­gi-ting­gi dalam forum. Momen terse­but direkam dan kemu­di­an dise­barkan di media sosial.

  Jalan Rusak Tak Kunjung Tuntas, Warga Sukoharjo–Pringsewu Minta Pemerintah Turun Lapangan, Bukan Sekadar Terima Laporan

Tidak ada ker­icuhan atau tin­dakan anarkis yang ter­ja­di. Jus­tru, den­gan cara kre­atif ini, pesan protes mere­ka berhasil sam­pai ke pub­lik luas.

Dalam video yang beredar, ter­li­hat seo­rang pria men­ge­nakan keme­ja garis-garis berdiri di hada­pan forum sam­bil men­gangkat bungkus Tolak Angin ke udara. Teks dalam video bertuliskan “War­ga Pati Hadi­ahi KPK” mene­gaskan mak­sud sim­bo­lis aksi terse­but.

Reak­si pub­lik pun beragam. Seba­gian war­ganet men­dukung langkah masyarakat Pati yang dini­lai kre­atif, berani, dan tetap san­tun. Mere­ka meni­lai, aksi sim­bo­lis semacam ini lebih efek­tif menarik per­ha­t­ian diband­ingkan den­gan demon­strasi kon­ven­sion­al.

Namun, ada pula yang meni­lai aksi terse­but seba­gai tan­da frus­trasi masyarakat atas lemah­nya pene­gakan hukum di daer­ah. Mere­ka khawatir, jika KPK tidak segera mengam­bil langkah tegas, keper­cayaan masyarakat ter­hadap lem­ba­ga antiko­rup­si bisa semakin merosot.

Nama Bupati Pati, S, men­ja­di sorotan uta­ma dalam kasus ini. Ia dise­but-sebut ter­li­bat dalam dugaan tin­dak pidana korup­si, mes­ki hing­ga kini KPK belum mene­tap­kan­nya seba­gai ter­sang­ka.

Alian­si Masyarakat Pati Bersatu meni­lai, sta­tus hukum yang belum juga diu­mumkan mencer­minkan lam­ban­nya kin­er­ja KPK. Pada­hal, masyarakat menun­tut keje­lasan agar tidak ada kesan bah­wa hukum hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas.

Bagi war­ga Pati, kasus ini bukan hanya menyangkut soal dugaan korup­si sema­ta, melainkan juga menyangkut har­ga diri masyarakat daer­ah yang ingin meli­hat peja­bat­nya bersih dan berin­tegri­tas.

Pil­i­han mem­berikan Tolak Angin memi­li­ki mak­na men­dalam. Obat herbal ini pop­uler di Indone­sia seba­gai penawar masuk angin, sim­bol kon­disi tubuh yang lemah atau tidak fit.

Den­gan meng­ha­di­ahkan Tolak Angin, war­ga Pati bermak­sud menyindir bah­wa KPK sedang “tidak fit” dalam men­jalankan tugas uta­manya mem­ber­an­tas korup­si. Mere­ka berharap, “obat” ini bisa mem­bu­at KPK kem­bali sehat, bek­er­ja cepat, dan berani mene­gakkan hukum tan­pa pan­dang bulu.

  Kirab Budaya PSI di Tegal Dihadiri Jokowi dan Kaesang, Ribuan Warga Padati Alun-Alun

Sim­bol semacam ini bukan per­ta­ma kali dilakukan dalam aksi protes di Indone­sia. Sebelum­nya, masyarakat juga ker­ap meng­gu­nakan ben­da sehari-hari seba­gai sim­bol kri­tik, mulai dari bun­ga, bone­ka, hing­ga makanan. Namun, peng­gu­naan Tolak Angin kali ini dini­lai unik dan rel­e­van den­gan pesan yang ingin dis­am­paikan.

Aksi sim­bo­lis ini diperki­rakan akan mem­berikan tekanan moral kepa­da KPK agar segera mengam­bil sikap tegas ter­hadap kasus yang meli­batkan Bupati S.

Jika KPK tetap lam­ban, tidak menut­up kemu­ngk­i­nan aksi seru­pa akan kem­bali dige­lar den­gan sim­bol-sim­bol lain yang lebih kuat. Seba­liknya, jika KPK mere­spons cepat, aksi ini bisa men­ja­di con­toh bagaimana suara masyarakat daer­ah dap­at memen­garuhi kepu­tu­san di tingkat pusat.

Selain itu, aksi ini juga mene­gaskan bah­wa masyarakat daer­ah kini semakin melek poli­tik dan hukum. Mere­ka tidak segan-segan menyuarakan aspi­rasi den­gan cara kre­atif agar men­da­p­atkan per­ha­t­ian pub­lik nasion­al.

Aksi “Tolak Angin untuk KPK” yang dige­lar oleh Alian­si Masyarakat Pati Bersatu men­ja­di salah satu ben­tuk kri­tik kre­atif masyarakat ter­hadap lem­ba­ga anti­ra­suah. Den­gan sim­bol seder­hana, mere­ka menyam­paikan pesan kuat ten­tang pent­ingnya integri­tas, kecepatan, dan kete­gasan dalam mem­ber­an­tas korup­si.

Bagi war­ga Pati, aksi ini bukan hanya soal Bupati S, melainkan juga ten­tang masa depan tata kelo­la pemer­in­ta­han daer­ah yang bersih dan diper­caya. Pub­lik kini menung­gu respons KPK: apakah kri­tik sim­bo­lis ini akan men­ja­di pengin­gat untuk bek­er­ja lebih tegas, atau jus­tru dib­iarkan men­ja­di sekadar viral di media sosial. (Dar/Ahm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *