Padang, SniperNew.id — Ratusan karyawan PT Bumi Sari kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan gerbang perusahaan sebagai bentuk protes terhadap keterlambatan pembayaran gaji selama empat bulan terakhir.
Aksi ini menjadi sorotan publik setelah akun media sosial lokal pdg24jam membagikan video kerumunan massa yang mengenakan seragam kerja berwarna oranye dan berjilbab, tampak memadati area depan perusahaan dengan kondisi terik matahari yang menyengat, Rabu (06/08).
Dalam unggahan yang dibagikan sekitar satu jam lalu, pdg24jam menyampaikan keterangan sebagai berikut:
“4 Bulan Belum Bayar Gaji‼️
Karyawan PT Bumi Sari kembali unjuk rasa menuntut haknya terkait pembayaran gaji selama 4 bulan.”
#pdg24jam
Dalam video berdurasi singkat tersebut, tampak ratusan pekerja, baik pria maupun wanita, memadati gerbang masuk perusahaan yang dikelilingi pagar biru dan tembok kuning. Sebagian besar dari mereka mengenakan pakaian kerja khas pabrik dan penutup kepala, menunjukkan bahwa mayoritas peserta adalah buruh pabrik, kemungkinan besar berasal dari bagian produksi. Tidak sedikit pula yang membawa tas kerja, menunjukkan bahwa aksi ini bisa jadi dilakukan sebelum atau sesudah jam kerja.
Tulisan pada gerbang bertuliskan “TAMU HARAP LAPOR SECURITY” menunjukkan lokasi aksi berada tepat di akses utama keluar-masuk perusahaan. Aksi tersebut tampak damai, namun menunjukkan ketegangan akibat kekecewaan dan tekanan ekonomi yang sudah memuncak.
Aksi ini bukan kali pertama terjadi. Berdasarkan pantauan warganet dan komentar di media sosial, keterlambatan pembayaran gaji di PT Bumi Sari sudah berulang kali terjadi, bahkan sebelumnya juga pernah memicu aksi serupa. Namun kali ini, keterlambatan selama empat bulan penuh menjadi pemicu utama kemarahan buruh yang merasa hak-haknya diabaikan.
Para pekerja mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan secara internal kepada pihak manajemen, namun tak kunjung mendapatkan kejelasan atau solusi pasti. Sebagian besar dari mereka adalah tulang punggung keluarga yang bergantung pada penghasilan harian untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Unggahan dari akun pdg24jam, yang merupakan media lokal berbasis di Padang, mendapat banyak perhatian dan reaksi dari warganet. Banyak yang menunjukkan solidaritas terhadap nasib para buruh dan mengkritik perusahaan yang dianggap tidak bertanggung jawab terhadap kesejahteraan karyawannya.
Komentar seperti “Sudah kerja keras, tapi haknya tak dibayar” dan “Semoga cepat ada solusi, kasihan buruhnya” membanjiri kolom komentar. Beberapa netizen bahkan menyarankan agar pemerintah setempat atau Dinas Ketenagakerjaan segera turun tangan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak perusahaan PT Bumi Sari. Namun, dari informasi yang dihimpun, perwakilan serikat pekerja tengah menyusun laporan ke Dinas Tenaga Kerja Kota Padang guna meminta mediasi dan perlindungan hukum terhadap para buruh yang merasa dirugikan.
Sejumlah tokoh masyarakat dan aktivis buruh pun mulai ikut bersuara, mendesak agar pemerintah daerah bertindak tegas terhadap perusahaan yang lalai dalam memenuhi kewajibannya.
“Kami mendesak Disnaker untuk segera memanggil pihak manajemen PT Bumi Sari dan menuntut kejelasan terkait pembayaran gaji. Ini menyangkut hajat hidup ratusan keluarga,” ujar salah satu pengurus serikat buruh lokal.
Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, perusahaan wajib membayar upah pekerja tepat waktu sesuai dengan perjanjian kerja atau ketentuan peraturan perundang-undangan. Keterlambatan atau pengabaian pembayaran gaji selama empat bulan termasuk dalam kategori pelanggaran serius.
“Ini bukan sekadar persoalan administrasi, tapi pelanggaran hukum yang berdampak langsung pada hak dasar pekerja,” kata seorang pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Andalas.
Jika terbukti terjadi pelanggaran, PT Bumi Sari dapat dikenai sanksi administratif hingga pidana, tergantung hasil pemeriksaan dari pihak berwenang.
Keterlambatan pembayaran gaji selama empat bulan jelas memberikan dampak besar terhadap kehidupan para buruh. Banyak di antara mereka yang mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar cicilan, hingga biaya pendidikan anak-anak.
“Saya harus pinjam sana-sini demi beli beras dan bayar sekolah anak,” keluh salah satu pekerja perempuan yang ikut aksi.
Situasi ini juga memicu keresahan di lingkungan masyarakat sekitar perusahaan, karena banyak warga yang ekonominya tergantung pada keberlangsungan operasional PT Bumi Sari. Bila kondisi ini tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin akan terjadi gejolak sosial yang lebih luas.
Dalam aksinya, para buruh menuntut dua hal utama:
1. Pembayaran penuh gaji selama 4 bulan yang tertunggak.
2. Jaminan tidak terjadi keterlambatan serupa di masa depan.
Beberapa perwakilan buruh juga berharap perusahaan bisa bersikap transparan mengenai kondisi keuangan internal, sehingga pekerja bisa memahami dan mendukung bila memang ada solusi jangka panjang yang adil bagi kedua belah pihak.
Mereka juga meminta pemerintah ikut melakukan pengawasan ketat terhadap perusahaan yang memiliki tenaga kerja dalam jumlah besar, agar kejadian serupa tidak terus berulang di industri lain.
Kasus keterlambatan pembayaran gaji yang menimpa karyawan PT Bumi Sari menjadi potret nyata dari krisis ketenagakerjaan yang kerap luput dari perhatian. Di balik seragam kerja yang tampak rapi dan kerumunan yang tertib, tersimpan jeritan dan beban hidup ratusan keluarga yang berharap hak mereka ditegakkan.
Aksi damai ini bukan sekadar unjuk rasa, tapi bentuk perlawanan atas ketidakadilan yang harus segera disikapi dengan serius oleh perusahaan dan pemerintah.
Perjuangan buruh adalah cermin dari kualitas keadilan sosial di negeri ini.
Editor Ahmad.



















