Bandung, SniperNew.id – Suasana pagi yang hangat dan penuh semangat terasa di sebuah kafe di tengah kota Bandung, ketika puluhan alumni Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung angkatan 1982 berkumpul dalam sebuah kegiatan yang sederhana namun sarat makna. Dalam suasana yang akrab, sarapan pagi ini tidak sekadar menjadi ajang reuni, melainkan juga forum gagasan yang strategis untuk mendorong kontribusi ekonomi melalui jaringan Ikatan Keluarga Alumni (IKA) NHI, Rabu (06/08)
Dalam unggahan media sosial resminya, tokoh publik dan Duta Besar RI untuk Selandia Baru periode 2014–2019, Tantowi Yahya, yang kini juga menjabat sebagai Ketua IKA NHI, menyampaikan refleksi dan optimismenya:
“Pagi ini sarapan seru dengan teman-teman alumni NHI angkatan 82 dari berbagai jurusan. Banyak usulan bagus yang saya terima yang berangkat dari kepedulian dan cinta mereka kepada almamater. Ini membuat saya semakin optimis dalam mengemudi kapal besar yang bernama Ikatan Keluarga Alumni (IKA) NHI.”
Kegiatan berlangsung di Jabarano Coffee, sebuah kafe lokal yang juga menjadi simbol geliat ekonomi kreatif dan wirausaha berbasis komunitas di Bandung. Dalam dua foto yang dibagikan, tampak lebih dari 20 alumni duduk melingkar di bawah payung besar sembari menikmati kopi dan makanan ringan. Beberapa di antaranya tampak akrab bercengkerama, sementara lainnya fokus dalam diskusi yang diduga membahas inisiatif kolaboratif ke depan.
Pertemuan informal ini menjadi cerminan bagaimana alumni yang kini tersebar di berbagai sektor industri dapat menjadi motor penggerak ekonomi, baik secara lokal maupun nasional. Lulusan NHI dikenal banyak berkiprah di dunia pariwisata, perhotelan, kuliner, hingga ekonomi kreatif. Banyak pula di antara mereka yang kini menjabat sebagai pemilik usaha, konsultan industri, atau profesional di lembaga pemerintahan dan swasta.
Dengan latar belakang ini, sinergi alumni seperti yang dilakukan oleh IKA NHI memiliki potensi besar untuk mendorong kolaborasi dalam bentuk:
Pembentukan koperasi alumni berbasis pariwisata, Penguatan rantai pasok industri hospitality, Pendampingan usaha mikro alumni muda atau mahasiswa, Investasi bersama dalam proyek pariwisata daerah, Program beasiswa dan pelatihan tenaga kerja berbasis industri.
Menurut Tantowi, ide-ide yang dikemukakan oleh para alumni angkatan 1982 tidak hanya menunjukkan kepedulian, tetapi juga menggambarkan kesiapan untuk berkontribusi nyata terhadap pembangunan almamater dan sektor ekonomi secara luas.
Kegiatan seperti ini, meskipun tidak tergolong besar dari sisi jumlah peserta atau anggaran, justru memiliki nilai ekonomi yang sangat signifikan. Dalam studi ekonomi sosial, jaringan alumni merupakan bagian dari modal sosial (social capital), yakni aset tak berwujud yang berperan dalam memperkuat kepercayaan, pertukaran informasi, serta mempercepat proses inovasi dan kolaborasi ekonomi.
Dengan keberadaan IKA NHI sebagai lembaga formal, dan semakin aktifnya kegiatan alumni lintas angkatan, terbuka peluang besar untuk memanfaatkan jaringan ini sebagai katalisator pertumbuhan usaha kecil dan menengah berbasis komunitas.
Sejumlah program potensial yang dapat digarap oleh IKA NHI mencakup:
Pemetaan potensi usaha alumni di seluruh Indonesia,
Digitalisasi jaringan alumni untuk koneksi bisnis,
Kampanye wisata lokal berbasis alumni, terutama di daerah asal masing-masing,
Kolaborasi branding produk UMKM alumni.
Dipilihnya Jabarano Coffee sebagai tempat pertemuan juga menjadi catatan tersendiri. Kafe ini bukan sekadar tempat nongkrong, melainkan bagian dari geliat bisnis kopi lokal yang terus berkembang. Berdirinya tempat seperti ini menjadi bukti bagaimana sektor F&B (food and beverage) di Bandung mengalami pertumbuhan berkat sinergi antara komunitas, kreativitas, dan jejaring sosial.
Bila jaringan alumni seperti IKA NHI dapat memanfaatkan tempat-tempat serupa sebagai titik temu dan ekspansi bisnis, maka akan tercipta ekosistem ekonomi baru yang berakar dari kekuatan relasi dan solidaritas antar alumni.
Sebagai figur publik yang kini menakhodai IKA NHI, Tantowi Yahya tampak percaya bahwa kekuatan alumni bukan hanya sebatas nostalgia. Dalam pertemuan tersebut, ia tidak hanya menyerap gagasan, tetapi juga memberi dorongan agar alumni aktif dalam program-program pembangunan ekonomi melalui peran masing-masing.
Ungkapannya tentang “mengemudi kapal besar” menggambarkan skala organisasi alumni yang kompleks namun sarat potensi. Bila dikelola dengan visi dan tata kelola yang baik, IKA NHI bisa menjadi lembaga non-formal yang mendorong ekonomi berbasis komunitas dan profesionalisme lulusan pendidikan vokasi.
Kegiatan sederhana seperti sarapan bersama di pagi hari mungkin terlihat sepele, namun jika dipadukan dengan visi yang kuat dan sinergi berkelanjutan, dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
Alumni bukan hanya aset sejarah, tetapi juga aset masa depan. Jejaring yang dibangun dengan niat tulus dan cinta terhadap almamater, seperti yang ditunjukkan oleh alumni NHI angkatan 1982, adalah benih dari sistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Foto:
1. Puluhan alumni NHI angkatan 1982 berkumpul di Jabarano Coffee, Bandung. Tampak suasana akrab dalam sarapan pagi yang diwarnai diskusi hangat.
2. Beberapa alumni terlibat dalam percakapan serius yang diyakini membahas agenda penguatan kontribusi alumni terhadap almamater dan industri pariwisata.
Editor Ahmad












