Berita Daerah

Galian Tanah Mengancam Keselamatan Warga: Pemkab Pesawaran Diminta Tegur PTPN 1 Regional 7

240
×

Galian Tanah Mengancam Keselamatan Warga: Pemkab Pesawaran Diminta Tegur PTPN 1 Regional 7

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id — Warga Desa Halan­gan Ratu, Keca­matan Negeri Katon, Kabu­pat­en Pesawaran, Provin­si Lam­pung, men­geluhkan keber­adaan galian tanah besar di area per­batasan antara per­muki­man pen­duduk den­gan kawasan perke­bunan kela­pa saw­it milik PTPN 1 Region­al 7. Galian terse­but dise­but-sebut memi­li­ki uku­ran cukup besar den­gan pan­jang men­ca­pai sek­i­tar satu kilo­me­ter, kedala­man ham­pir empat meter, dan lebar sek­i­tar empat meter.

Keber­adaan galian ini dini­lai mem­ba­hayakan kese­la­matan masyarakat, teruta­ma anak-anak, ser­ta meng­gang­gu aktiv­i­tas war­ga di sek­i­tar lokasi.

Kekhawati­ran War­ga: Anca­man Kese­la­matan dan Lingkungan,Menurut penu­tu­ran Bu Lia, salah seo­rang war­ga Desa Halan­gan Ratu

yang berpro­fe­si seba­gai ibu rumah tang­ga, galian tanah terse­but mulai tam­pak sejak Feb­ru­ari 2025. Hing­ga kini, kata dia, belum ada upaya penu­tu­pan ataupun penga­manan dari pihak perusa­haan. Ia menyam­paikan kekhawati­ran­nya ter­hadap poten­si bahaya yang ditim­bulkan, mengin­gat lokasi galian berdekatan den­gan area tem­pat anak-anak ser­ing bermain seti­ap sore hari.

“Di sek­i­tar galian itu banyak anak-anak kecil. Kami khawatir kalau mere­ka ter­per­osok atau jatuh ke dalam lubang, kare­na dalam­nya ham­pir empat meter,” ujar Bu Lia, Kamis (9/10/2025), saat dite­mui di kedia­man­nya.

Lebih lan­jut, Bu Lia menu­turkan bah­wa kon­disi galian men­ja­di semakin berba­haya saat musim hujan. Air hujan yang tidak terser­ap menye­babkan lubang besar itu ter­ge­nang den­gan ket­ing­gian air yang dap­at men­ca­pai dua meter.

Selain menim­bulkan poten­si tengge­lam, genan­gan air terse­but juga berisiko men­ja­di sarang hewan berbisa seper­ti ular dan katak, ser­ta men­ja­di tem­pat berkem­bang biak nya­muk yang dap­at menu­larkan penyak­it.

“Kalau hujan, airnya mengge­nang dalam. Belum lagi banyak kamb­ing war­ga yang tidak bisa melin­tas. Kami berharap pihak perusa­haan bisa menut­up kem­bali galian itu atau seti­daknya mem­bu­at jem­bat­an agar masyarakat bisa berak­tiv­i­tas den­gan aman,” tam­bah­nya.

  Rakerwil Tani Merdeka Indonesia 2025: Memberdayakan Petani, Memperkuat Komunitas di Sumatera Utara

Tokoh Adat Angkat Bicara: “Jan­gan Tung­gu Kor­ban Jiwa” Kekhawati­ran seru­pa dis­am­paikan oleh Asli Gelar Pengikhan Pedu­ka, salah satu tokoh adat Desa Halan­gan Ratu. Ia meni­lai keber­adaan galian tanah di wilayah per­batasan desa tan­pa pagar penga­man meru­pakan ben­tuk kelala­ian yang san­gat mem­ba­hayakan masyarakat.

“Coba bayangkan, kalau musim hujan air bisa men­ca­pai dua sam­pai tiga meter tan­pa ada pagar penga­man. Bagaimana kalau ada anak-anak ter­ce­bur ke dalam? Sia­pa yang akan bertang­gung jawab?” ujarnya.

Asli Gelar Pengikhan Pedu­ka mene­gaskan, masyarakat tidak meno­lak aktiv­i­tas perusa­haan di sek­i­tar wilayah mere­ka sela­ma kegiatan terse­but mem­per­hatikan aspek kese­la­matan dan tang­gung jawab sosial. Namun, ia menyayangkan sikap PTPN 1 Region­al 7 yang hing­ga kini belum mem­berikan keteran­gan res­mi maupun tin­dakan nya­ta ter­hadap keluhan masyarakat.

“Kami minta pihak perusa­haan segera menut­up kem­bali galian itu. Pemer­in­tah daer­ah juga harus turun tan­gan demi kese­la­matan war­ga Desa Halan­gan Ratu,” pungkas­nya.

Berdasarkan pan­tauan di lapan­gan, galian yang mem­ben­tang sep­a­n­jang ham­pir satu kilo­me­ter itu mem­ben­tuk par­it besar yang memisahkan area perke­bunan saw­it den­gan pemuki­man war­ga.

Beber­a­pa war­ga men­duga, galian terse­but awal­nya dibu­at untuk drainase atau sis­tem pen­gairan perke­bunan. Namun, penger­jaan­nya diang­gap tidak sesuai prose­dur kare­na dilakukan ter­lalu dekat den­gan area per­muki­man tan­pa adanya papan infor­masi kegiatan, ram­bu kese­la­matan, atau pagar penga­man.

“Kalau memang untuk drainase, seharus­nya ada papan proyek dan pen­gawasan dari pihak berwe­nang. Ini dib­iarkan begi­tu saja, tidak ada tan­da-tan­da peker­jaan res­mi,” ujar Rah­man, war­ga setem­pat yang sehari-hari bek­er­ja seba­gai petani.

Menu­rut Rah­man, banyak war­ga kini memil­ih memu­tar jalan lebih jauh untuk menu­ju kebun atau ladang kare­na khawatir melin­tasi area terse­but. Selain itu, beber­a­pa hewan ter­nak seper­ti kamb­ing dan sapi milik war­ga juga dik­abarkan ter­je­bak di area galian, teruta­ma saat hujan dan tanah men­ja­di licin.

  Aksi Season 2 Tuntut Bupati Pati Mundur, Salah Satu Tokoh Utama Menyatakan Mundur

Per­mintaan War­ga: Pemer­in­tah dan DPRD Dim­inta Turun Tan­gan. Masyarakat Desa Halan­gan Ratu secara tegas mem­inta inter­ven­si pemer­in­tah daer­ah, khusus­nya Bupati Pesawaran, Dinas Lingkun­gan Hidup, ser­ta DPRD Kabu­pat­en Pesawaran, untuk menin­jau lang­sung kon­disi di lapan­gan.
Mere­ka berharap pemer­in­tah dap­at mem­berikan tegu­ran dan tin­dakan admin­is­tratif kepa­da PTPN 1 Region­al 7 agar segera menut­up kem­bali galian yang mem­ba­hayakan itu.

“Kami war­ga tidak meno­lak pem­ban­gu­nan atau kegiatan perusa­haan, tapi mohon kese­la­matan kami juga diper­hatikan. Jan­gan tung­gu ada kor­ban baru bertin­dak,” kata Asli Gelar Pengikhan Pedu­ka.

Menu­rut­nya, situ­asi ini bukan hanya per­soalan lingkun­gan, tetapi juga pelang­garan ter­hadap aspek kese­la­matan pub­lik (pub­lic safe­ty) dan tang­gung jawab sosial perusa­haan (CSR) yang semestinya dijalankan oleh BUMN seper­ti PTPN.

Seba­gai perusa­haan pelat mer­ah yang berop­erasi di bawah naun­gan Hold­ing Perke­bunan Nusan­tara (PTPN III Persero), PTPN 1 Region­al 7 memi­li­ki tang­gung jawab besar dalam men­jalankan prak­tik bis­nis yang berke­lan­ju­tan dan bereti­ka.
Kegiatan perusa­haan di sek­i­tar per­muki­man war­ga seharus­nya melalui mekanisme Anal­i­sis Dampak Lingkun­gan (AMDAL) atau seti­daknya Upaya Pen­gelo­laan Lingkun­gan (UKL) dan Upaya Peman­tauan Lingkun­gan (UPL) yang meli­batkan masyarakat.

Pengaba­ian ter­hadap aspek kese­la­matan pub­lik dap­at berdampak pada rep­utasi perusa­haan sekali­gus menyalahi prin­sip-prin­sip Good Cor­po­rate Gov­er­nance (GCG) yang sela­ma ini dijun­jung oleh BUMN.

“Kami tahu PTPN itu perusa­haan besar milik negara. Tapi kalau kegiatan seper­ti ini dib­iarkan, masyarakat akan kehi­lan­gan keper­cayaan,” ujar Bu Lia.

Hing­ga beri­ta ini diter­bitkan, pihak PTPN 1 Region­al 7 belum mem­berikan keteran­gan res­mi terkait keluhan masyarakat Desa Halan­gan Ratu. Upaya kon­fir­masi yang dilakukan melalui perangkat desa dan per­wak­i­lan keca­matan Negeri Katon juga belum mem­buahkan hasil.
Beber­a­pa war­ga menye­but, peker­ja lapan­gan dari perusa­haan sudah jarang ter­li­hat sejak Maret 2025, dan aktiv­i­tas peng­galian berhen­ti tan­pa penu­tu­pan atau pemuli­han lahan.

Pihak media dan masyarakat berharap agar man­a­je­men PTPN 1 Region­al 7 segera mem­berikan klar­i­fikasi ter­bu­ka, baik melalui pemer­in­tah daer­ah maupun forum res­mi bersama war­ga.

  Tradisi Ladang: Harmoni Alam dan Doa Petani

War­ga Desa Halan­gan Ratu menut­up keluhan­nya den­gan seru­an agar pemer­in­tah tidak menun­da tin­dakan. Mere­ka menekankan bah­wa kese­la­matan masyarakat harus men­ja­di pri­or­i­tas di atas kepentin­gan ekono­mi perusa­haan.

“Kami tidak ingin ada kor­ban jiwa baru masalah ini ditan­gani. Kami mohon Pemkab Pesawaran dan DPRD turun lang­sung ke lapan­gan,” ujar salah satu war­ga lain­nya, Hasan, mewak­ili kelom­pok war­ga yang ting­gal di sek­i­tar lokasi.

Selain penu­tu­pan galian, war­ga juga mem­inta agar perusa­haan mem­ban­gun jalur akses aman atau jem­bat­an daru­rat bagi war­ga yang harus melin­tas ke kebun. Langkah itu diang­gap per­lu seba­gai ben­tuk tang­gung jawab sosial semen­tara sebelum ada kepu­tu­san res­mi terkait penan­ganan galian.

Kasus galian tanah di Desa Halan­gan Ratu mencer­minkan per­lun­ya pen­gawasan lebih ketat ter­hadap aktiv­i­tas perusa­haan besar di daer­ah, teruta­ma yang berdekatan den­gan per­muki­man war­ga.
Perusa­haan ditun­tut untuk menguta­makan kese­la­matan masyarakat, kelestar­i­an lingkun­gan, ser­ta keter­bukaan infor­masi pub­lik, seba­gaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 ten­tang Per­lin­dun­gan dan Pen­gelo­laan Lingkun­gan Hidup, ser­ta Per­at­u­ran Menteri Lingkun­gan Hidup Nomor 05 Tahun 2012 ten­tang Pan­d­u­an Pelak­sanaan Tang­gung Jawab Sosial dan Lingkun­gan.

Masyarakat berharap agar Bupati Pesawaran, Dinas Lingkun­gan Hidup, Dinas Peker­jaan Umum, dan DPRD Kabu­pat­en Pesawaran segera menin­dak­lan­ju­ti lapo­ran ini melalui inspeksi lapan­gan dan medi­asi antara war­ga den­gan pihak perusa­haan.
Keber­adaan galian tanah den­gan kedala­man hing­ga empat meter dan pan­jang satu kilo­me­ter tan­pa penga­manan yang memadai jelas tidak sejalan den­gan prin­sip kese­la­matan pub­lik dan berpoten­si menim­bulkan keru­gian sosial maupun ekol­o­gis.

“Kami hanya ingin hidup aman, tan­pa rasa takut kalau anak-anak main di sek­i­tar rumah,” tut­up Bu Lia.

Catatan Redak­si: Lapo­ran ini dis­usun berdasarkan hasil wawan­cara lang­sung den­gan war­ga Desa Halan­gan Ratu, Keca­matan Negeri Katon, Kabu­pat­en Pesawaran, ser­ta hasil obser­vasi lapan­gan. Pihak redak­si masih menung­gu tang­ga­pan res­mi dari PTPN 1 Region­al 7 guna kese­im­ban­gan pem­ber­i­taan sesuai Kode Etik Jur­nal­is­tik Pasal 1 dan 3.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *