Berita Hukum

Terkait Pembunuhan dan Pemerkosaan Siswi SMP, Kepolisian Pastikan Proses Hukum Tiga Anak Dibawah Umur

459
×

Terkait Pembunuhan dan Pemerkosaan Siswi SMP, Kepolisian Pastikan Proses Hukum Tiga Anak Dibawah Umur

Sebarkan artikel ini

Palem­bang, SniperNew.id — Pihak Kepolisian memas­tikan pros­es hukum ter­hadap Tiga (3) anak bawah umur yang ter­li­bat pem­bunuhan dan pemerkosaan siswi SMP inisial AA (13), terus ber­jalan.

Pol­da Sum­sel dalam hal ini penyidik
Satreskrim Pol­restabes Palem­bang diback up Ditreskri­mum Pol­da Sum­sel, secara pro­fe­sion­al dan pro­por­sion­al menan­gani kasus yang men­ja­di per­ha­t­ian pub­lik terse­but.

Teruta­ma soal sta­tus 3 pelaku, MZ (13), NS (12), AS (12). Kabid Humas Pol­da Sum­sel Kombes Pol Sunar­to SIK MM, mene­gaskan keti­ganya tetap bersta­tus ter­sang­ka.

“Saat ini pros­es penyidikan masih berlang­sung, berkas perkaranya kami kebut untuk sesegera mungkin kami limpahkan ke jak­sa penun­tut umum,” tegas Sunar­to, Senin sore (9/9/2024).

Sedari awal dite­mukan­nya jenazah kor­ban di TPU Talang Kerik­il, Ming­gu sore (1/9/2024), pihak kepolisian sudah men­jadikan­nya aten­si.

“Alham­dulil­lah dalam jang­ka wak­tu 2x24 jam, 4 orang pelakun­ya berhasil dia­mankan. Yang san­gat memiriskan, terny­a­ta pelakun­ya juga anak-anak,” sesal­nya.

Update infor­masi kasus yang men­ja­di per­ha­t­ian pub­lik ini, dalam kon­fer­en­si pers di depan PSR ABH Indralaya, Pol­da Sum­sel meng­hadirkan nara­sum­ber lengkap.

Mulai dari Pol­restabes Palem­bang, Kabag Psi Biro SDM Pol­da Sum­sel, Wak­il Ket­ua KPAD Sum­sel, Kepala UPTD PSR ABH Indralaya, dan Bapas Kelas I Palem­bang.

“Hal-hal yang men­ja­di per­tanyaan pub­lik, terkait den­gan sta­tus para pelaku, dari KPAD akan mem­berikan pencer­a­han kepa­da kita semua. Bah­wa payung kita adalah Undang-Undang,” tuturnya.

Jadi payung penyidik di sini, Undang-Undang yang harus dijadikan pedo­man untuk menan­gani perkara kasus ini.

“Kita doakan mudah-muda­han almarhumah ten­ang di sisi-Nya. Dan kepa­da kelu­ar­ga yang dit­ing­galkan, diberikan keku­atan kesabaran,” ucap Sunar­to.

Wak­il Ket­ua KPAD Sum­sel Efy Hen­dri, men­gatakan bah­wa kasus ini sudah men­ja­di sorotan pub­lik. Baik media lokal maupun nasion­al.

“Kami meman­tau bah­wa kasus ini memang menarik untuk kita cer­mati bersama. Bah­wa terny­a­ta pelakun­ya juga anak-anak,” katanya.

Kare­na itu, ini men­ja­di per­masala­han yang ada. Tetapi den­gan tidak men­gu­ran­gi duka cita yang men­dalam ter­hadap kelu­ar­ga dan kepri­hati­nan ter­hadap peri­s­ti­wa yang menim­pa almarhumah, pros­es ini harus tetap ber­jalan seba­gaimana prose­dur hukum yang ada.

“Artinya apa? Bah­wa dari mulai tahap penyidikan, kemu­di­an pros­es sam­pai den­gan penun­tu­tan di pen­gadi­lan, maka itu akan tetap dijalankan,” tegas­nya.

  Miris Kematian Bayi Perempuan di Batu Bara Tak Kunjung Terungkap

Namun demikian, ram­bu-ramb tetap dipa­ha­mi. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 ten­tang Sis­tem Peradi­lan Pidana Anak (SPPA), bah­wa pena­hanan untuk ini tidak dilakukan di
pol­res atau kepolisian.

“Kare­na memang atu­ran­nya demikian, ini akan dikem­ba­likan kepa­da kelu­ar­ga atau den­gan lem­ba­ga keja­hatan sosial yang ada di Sumat­era Sela­tan,” jelas­nya.

Maka pen­em­patan­nya ada di LPKS Dhar­ma Pala ini, atau PSR ABH Dhar­ma Pala.

Pen­em­patan di sini, menu­rut­nya tidak men­gu­ran­gi esen­si dari pros­es yang ada. Angga­pan bah­wa ada asum­si tidak dipros­es den­gan ditem­patkan di sini kemu­di­an ada perny­ataan bebas, itu tidak benar.

“Kami yakinkan lagi bah­wa hal terse­but tidak ter­ja­di dan pros­es­nya akan tetap ber­jalan. Artinya, seba­gaimana dis­am­paikan pada rilis ter­dahu­lu, anca­man huku­man 15 tahun pen­jara untuk anak ini akan tetap berpros­es,” tegas­nya.

Hanya saja, nan­ti akan dis­esuaikan den­gan pasal yang dike­nakan kepa­da anak terse­but. “Itu yang dap­at kami sam­paikan, kami tegaskan bah­wa pros­es hukum tetap ber­jalan,” tukas­nya.

Tidak ada yang bisa mem­bu­at kasus ini men­ja­di samar. “Tidak ada samar, kare­na kead­i­lan harus dite­gakkan,” tegas­nya lagi.

Terkait den­gan pem­bi­naan yang dilakukan di PSR ABH ini, ber­jalan sam­pai den­gan pros­es penun­tu­tan nan­ti­nya. “Sam­pai den­gan pros­es pen­gadi­lan kemu­di­an dilan­jutkan ke pen­gadi­lan dan putu­san hakim ten­tun­ya pada akhirnya,” ujarnya.

Kabid Humas Pol­da Sum­sel Kombes Pol Sunar­to SIK MM menim­pali. Dia mene­gaskan asum­si bah­wa den­gan adanya para pelaku di bawah umur yang diti­tip­kan di PSR ABH Indralaya, kemu­di­an akan menge­samp­ingkan pros­es hukum, itu tidak­lah benar.

“Pros­es hukum ber­jalan, jus­tru pros­es hukum itu harus sesuai den­gan kori­dor hukum yang harus dipegang oleh penyidik,” tegas lulu­san Akpol 1992 itu.

Dia men­je­laskan, seba­gaimana Pasal 32 UU Nomor 11 Tahun 2012 ten­tang Sis­tem Peradi­lan Pidana Anak, yakni pena­hanan ter­hadap anak tidak boleh dilakukan, dalam hal mem­per­oleh jam­i­nan dari orang tua atau lem­ba­ga bah­wa anak tidak melarikan diri, menghi­langkan barang buk­ti atau merusak barang buk­ti atau tidak akan men­gu­lan­gi tin­dak pidana.

Pena­hananan dap­at dilakukan den­gan syarat, umur anak 14 tahun, dan diduga melakukan tin­dak pidana den­gan anca­man pidana pen­jara sela­ma 7 tahun atau lebih. “Dalam hal ini, keti­ga ABH ini belum 14 tahun,” jelas Sunar­to.

Kemu­di­an dalam Pasal 69 UU yang sama, bah­wa ter­hadap anak yang berkon­flik hukum yang belum beru­sia 14 tahun hanya dap­at dike­nai tin­dakan, bukan pemi­danaan.

  Dugaan Korupsi Proyek Lampu Jalan 2013: Amir Kadir Tegaskan Kasus Sudah Selesai!

Meliputi pengem­balian kepa­da orang tua, peny­er­a­han kepa­da sese­o­rang, per­awatan di rumah sak­it jiwa, dan per­awatan di Lem­ba­ga Penye­leng­garaan Kese­jahter­aan Sosial (LPKS), kewa­jiban mengiku­ti pen­didikan for­mal dan atau pelati­han yang diadakan oleh pemer­in­tah atau badan swasta.

“Dan dalam hal ini saya tegaskan, apa yang dilakukan penyidik sesuai kori­dor, sesuai atu­ran hukum dan undang-undang yang berlaku,” ulas Sunar­to.

Semen­tara Kepala UPTD PSR ABH Indralaya, Dian Arief, menam­bahkan untuk 3 ABH itu begi­tu tiba, dib­i­na mulai dari pros­es assess­ment sam­pai treat­ment-treat­ment yang akan dilakukan.

“Mere­ka di sini akan kami rehab sep­a­n­jang putu­san pen­gadi­lan kelu­ar. Jadi sete­lah kepu­tu­san kelu­ar, kami akan ser­ahkan anak-anak sesuai den­gan prose­dur hukum yang berlaku. Itu sudah ter­tuang dalam Per­me­n­sos dan UU Nomor 11,” ujarnya.

Ben­tuk pem­bi­naan yang akn dilakukan, mulai dari pem­bi­naan fisik, men­tal, keaga­maan, dan keter­ampi­lan. Juga kedisi­plinan.

“Kami ajarin mere­ka salat, nga­ji, selawatan, terus olahra­ganya juga ada untuk fisik. Terus keter­ampi­lan juga ada ke per­bengke­lan motor dan las,” urai Dian.

Semen­tara ini, keti­ga ABH ser­a­han Pol­restabes Palem­bang itu sedang men­jalani pros­es obser­vasi. Tiga orang di satu ruang khusus, tahap obser­vasi dan assess­ment.

“Alham­dulil­lah mere­ka sehat, naf­su makan nor­mal, terus tidak menun­jukkan tan­da-tan­da stres. Seper­ti anak-anak orang pada umum­nya. Tidak ada tan­da-tan­da frus­tasi, tidak ada tan­da-tan­da stres,” ungkap Dian.

Sena­da dikatakan Kabag Psi Biro SDM Pol­da Sum­sel AKBP Sumary­ono SPsi MPsi. Dia men­je­laskan, para ter­duga pelaku beru­sia antara 12 sam­pai 18 tahun.

Dalam per­spek­tif psikolo­gi, orang yang beru­sia di rentang umur terse­but ter­ma­suk masa rema­ja. “Masa rema­ja adalah masa tran­sisi dari anak-anak sam­pai dewasa,” jelas­nya.

Ciri khas masa rema­ja adalah mere­ka itu men­gala­mi kri­sis iden­ti­tas atau pen­car­i­an jati diri. Anak-anak atau rema­ja yang tum­buh di lingkun­gan yang kurang lebih kurang pen­guasaan orang tua, kemu­di­an secara sosial ekono­mi menen­gah ke bawah, itu rentan.

“Rentan untuk melakukan tin­dakan-tin­dakan yang berten­tan­gan den­gan nor­ma atau den­gan atu­ran-atu­ran yang berlaku di masyarakat,” paparnya.

Kemu­di­an ciri yang lain adalah rema­ja itu akan mengi­den­ti­fikasi den­gan teman-teman­nya, yang dise­but den­gan klik atau geng.

“Jadi nor­ma yang berlaku di lingkun­gan perte­m­anan itu­lah yang mungkin akan dianut oleh para rema­ja terse­but,” ulas­nya.

Terkait den­gan keja­di­an yang ter­ja­di pada kor­ban AA, ini adalah salah satu ben­tuk kenakalan rema­ja yang cukup ekstrim,
kare­na sam­pai menim­bulkan kor­ban.

  Uang Rakyat Menguap di PDAM Banggai: Eks Dirut Diserahkan ke Kejaksaan, Kerugian Negara Capai Rp462 Juta

“Jadi di sini per­lu kami sam­paikan, bah­wa keja­di­an ini kepri­hati­nan kita bersama dan men­ja­di tang­gung jawab kita bersama, teruta­ma di lingkun­gan sosial masyarakat yang bera­da di wilayah terse­but,” tegas­nya.

Dije­laskan dalam rilis di Pol­restabes Palem­bang, bah­wa kor­ban sudah mening­gal kemu­di­an diperkosa kem­bali oleh keem­pat pelaku.

“Sejauh yang kami perik­sa, belum dite­mukan tan­da-tan­da abnor­mal­i­tas terse­but. Jadi para ter­duga pelaku mem­berikan keteran­gan sesuai den­gan apa yang diala­mi dan dilakukan,” jelas Sumary­ono.

Pem­bimb­ing Kemasyarakatan Ahli Madya Bal­ai Pemasyarakatan Kelas I Palem­bang, Chan­dra, menyam­paikan penyidik Pol­ri sudah men­jalankan sesuai UU Nomor 11 Tahun 2012 ten­tang SPPA.

“Sam­pai 17 tahun kurang sehari, 18, dia masih pelaku anak. Pelaku anak ada 2 kat­e­gori, di atas umur 14 dan di bawah umur 14 tahun,” paparnya.

Bagi yang di atas umur 14 tahun, wajib dita­han dan men­jalankan pidana. Sedan­gkan umur di bawah 14 tahun ada tiga.

“Makanya diti­tip di sini, itu tidak bisa
dita­han dan tidak bisa dip­i­dana hanya diberikan tin­dakan,” tegas­nya.

Nah, tin­dakan di LPKS ini beru­pa per­awatan. Kalau seandainya putus di per­si­dan­gan, Bapas men­yarankan huku­man­nya tin­dakan.

“Jadi kalau tidak dita­han itu tidak benar. Tapi yang namanya di bawah umur 14 tahun tidak dima­sukkan di dalam Rutan maupun LP, walaupun
sudah putus sidang tadi,” jelas­nya.

Kabid Humas Pol­da Sum­sel Kombes Pol Sunar­to, memu­ngkasi kon­fer­en­si pers yang juga dihadiri Kasat Reskrim Pol­restabes Palem­bang AKBP Yunar Hot­ma Paru­lian Sir­ait, Kan­it PPA Iptu Fifin Sumailan, dan Kasi Humas Kom­pol Evial Kalza.

“Jadi poinnya adalah yang per­ta­ma kita semua ten­tu berdu­ka cita. Yang ked­ua, seper­ti yang dije­laskan oleh para nara­sum­ber ten­tang keber­adaan men­ga­pa tidak kemu­di­an dita­han,” ucap­nya.

Keti­ga, bah­wa semuanya men­dasari pada atu­ran hukum yang berlaku.
Kemu­di­an yang keem­pat, poin ter­pent­ing adalah bah­wa pros­es hukum terkait kasus ini tetap berlan­jut oleh penyidik dari Satreskrim Pol­restabes Palem­bang.

“Mohon doa dan dukun­gan­nya kepa­da kita semua untuk penyidik kita bisa segera menye­le­saikan kasus ini. Hara­pan kita semua ten­tun­ya kasus demikian tidak teru­lang lagi,” hara­p­nya.

Semua memi­li­ki kewa­jiban untuk mem­berikan edukasi kepa­da masyarakat Sum­sel. “Kita bersama-sama men­ja­ga wilayah hukum Pol­da Sumat­era Sela­tan agar tetap kon­dusif, kemu­di­an ter­hin­dar dari kasus-kasus yang merugikan kita semua,” tutup­nya. (Fir­daus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *