Indonesia, SniperNew.id – Viral sebuah video berdurasi 29 detik memperlihatkan seorang ibu-ibu yang dengan lantang melarang keras sekolah-sekolah untuk menjual seragam seperti baju batik dan baju olahraga. Ia menyebut bahwa sekolah cukup memberikan contoh model seragam saja, tanpa menjualnya. Video tersebut sontak menyulut diskusi panas di media sosial. Unggahan yang dibagikan oleh akun Facebook “Farhan Uba Fani” Selaras 08 Juni 2025 ini hari, itu telah menuai lebih dari 9.757 komentar dan dibagikan sebanyak 27 lebih ribu kali lebih.
Pernyataan itu langsung ditanggapi beragam oleh warganet. Banyak yang mendukung, namun tidak sedikit pula yang membela pihak sekolah, terutama yang berada di daerah pelosok yang minim akses dan fasilitas. Netizen dengan akun “Bakpia SiJo” menuliskan komentar tajam:
“Kalau gak bikin ribet bukan pejabat Konoha, Kak… Ditindak itu yang sekolah-sekolah memang cari untung. Tapi kalau yang hanya bantu siswa, tak usahlah dipermasalahkan. Di pelosok itu sangat membantu orang tua. Harganya lebih murah daripada di pasar dan bisa dicicil. Hanya karena ulah segelintir, semua disamaratakan. Pemerintah itu kurang fleksibel membuat kebijakan.”
Sementara akun “Seribu Rupiah” membela pentingnya identitas sekolah lewat seragam:
“Imanda 😂 tau gak, identitas sekolah itu ya batik, olahraga. Mau mahal atau murah terserah, yang penting identitas sekolah terpasang. Kalau beli di sekolah harganya sama dan bisa dicicil. Seragam bekas juga gak masalah asal modelnya sama.”
Yang paling menohok datang dari Agus Gusandy Rahayu, netizen yang aktif memberikan tanggapan panjang:
“Ini cuma pencitraan pejabat. Belinya di sekolah bisa nyicil. Malah membantu. Jangan samaratakan semua. Memang ada guru-guru yang ambil untung, tapi banyak juga yang hanya bantu. Justru kalau sekolah menyediakan langsung, bisa lebih ringan untuk rakyat kecil. Kalau beli di luar, harus bayar tunai. Mana bisa?”
Motivasi untuk Sekolah yang Masih Menjual Seragam
Di tengah badai kritik dan kebijakan yang berubah-ubah, sekolah-sekolah yang masih berani menyediakan seragam untuk siswa-siswinya layak mendapatkan apresiasi. Bukan karena ingin menambah keuntungan, tapi karena mereka melihat langsung realita di lapangan: tidak semua orang tua punya waktu, kendaraan, atau uang kontan untuk membeli seragam di luar.
Sekolah-sekolah ini menjadi jembatan. Mereka hadir bukan sebagai pedagang, tetapi sebagai perpanjangan tangan orang tua yang mencari kemudahan. Dengan menyamakan harga, menyediakan kualitas seragam yang seragam (pun intended), serta menawarkan sistem pembayaran yang lebih fleksibel, mereka justru menjalankan fungsi sosial yang sering kali tidak dilihat oleh para pengambil kebijakan dari balik meja.
Di desa-desa terpencil, tidak ada pusat perbelanjaan, apalagi toko seragam sekolah. Bahkan, untuk ke pasar pun, orang tua harus menempuh perjalanan berjam-jam. Belum tentu juga dapat model seragam yang sesuai. Di sinilah peran sekolah menjadi sangat penting.
Untuk itu, kepada sekolah-sekolah yang tetap memilih untuk menyediakan seragam tetap semangat. Kalian bukan pencari untung, kalian adalah pencari solusi.
Bukan Masalah Seragam, Tapi Masalah Perspektif
Isu ini bukan semata tentang boleh atau tidaknya sekolah menjual seragam. Ini soal perspektif: apakah pemerintah dan masyarakat sudah benar-benar memahami realitas yang dihadapi sekolah-sekolah di lapangan?
Pelarangan yang disamaratakan bisa menjadi blunder, apalagi jika tidak dibarengi dengan solusi alternatif yang nyata. Pemerintah pusat seharusnya membuat kebijakan yang adaptif, bukan represif. Karena tidak semua daerah punya akses dan daya beli yang sama. Dalam dunia pendidikan, satu ukuran tak bisa dipaksakan untuk semua.
Sekolah Harus Transparan, Tapi Pemerintah Juga Harus Bijak
Solusinya sederhana: transparansi. Jika sekolah benar-benar tidak mengambil untung, buatkan laporan terbuka. Undang komite sekolah, libatkan orang tua dalam pengambilan keputusan, dan tampilkan harga pokok pembelian.
Namun di sisi lain, pemerintah pun harus bijak. Jangan hanya menindak yang kelihatan “jual”, tapi abaikan yang menjual secara terselubung lewat pihak ketiga. Masalahnya bukan pada siapa yang menjual, tetapi pada sistem yang tidak diawasi dengan baik.
Mari berhenti menciptakan drama di dunia pendidikan. Masalah seragam bukan perkara hitam-putih. Ada banyak abu-abu di tengah-tengah yang perlu kita pahami bersama. Biarkan sekolah tetap hadir sebagai tempat belajar, bukan medan konflik antara niat baik dan kecurigaan.
Kepada sekolah-sekolah yang berani hadir untuk membantu tetaplah berjuang. Bantu dengan hati, bukan dengan niat bisnis. Buktikan bahwa yang kalian lakukan bukan pencitraan, tapi pengabdian.
Dan kepada pembuat kebijakan turunlah ke bawah, dengarkan langsung. Karena dari bawah, kalian akan tahu bahwa yang dibutuhkan bukan larangan, tapi pemahaman. (Darmawan)



















