Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Pendidikan

Seragam Sekolah Dilarang Dijual? Sekolah Pelosok Bicara: Kami Bukan Cari Untung, Kami Cari Solusi!

723
×

Seragam Sekolah Dilarang Dijual? Sekolah Pelosok Bicara: Kami Bukan Cari Untung, Kami Cari Solusi!

Sebarkan artikel ini

Indone­sia, SniperNew.id – Viral sebuah video berdurasi 29 detik mem­per­li­hatkan seo­rang ibu-ibu yang den­gan lan­tang melarang keras seko­lah-seko­lah untuk men­jual ser­agam seper­ti baju batik dan baju olahra­ga. Ia menye­but bah­wa seko­lah cukup mem­berikan con­toh mod­el ser­agam saja, tan­pa men­jual­nya. Video terse­but son­tak menyu­lut diskusi panas di media sosial. Ung­ga­han yang dibagikan oleh akun Face­book “Farhan Uba Fani” Selaras 08 Juni 2025 ini hari, itu telah men­u­ai lebih dari 9.757 komen­tar dan dibagikan sebanyak 27 lebih ribu kali lebih.

Perny­ataan itu lang­sung ditang­gapi beragam oleh war­ganet. Banyak yang men­dukung, namun tidak sedik­it pula yang mem­bela pihak seko­lah, teruta­ma yang bera­da di daer­ah pelosok yang min­im akses dan fasil­i­tas. Neti­zen den­gan akun “Bakpia SiJo” menuliskan komen­tar tajam:

“Kalau gak bikin ribet bukan peja­bat Kono­ha, Kak… Ditin­dak itu yang seko­lah-seko­lah memang cari untung. Tapi kalau yang hanya ban­tu siswa, tak usahlah diper­masalahkan. Di pelosok itu san­gat mem­ban­tu orang tua. Har­ganya lebih murah dari­pa­da di pasar dan bisa dici­cil. Hanya kare­na ulah segelin­tir, semua disama­ratakan. Pemer­in­tah itu kurang flek­si­bel mem­bu­at kebi­jakan.”

  Satgas Habema Gelar Upacara Peringatan Kemerdekaan Ke-79 Republik Indonesia di Kampung Mumugu

 

Semen­tara akun “Seribu Rupi­ah” mem­bela pent­ingnya iden­ti­tas seko­lah lewat ser­agam:

“Iman­da 😂 tau gak, iden­ti­tas seko­lah itu ya batik, olahra­ga. Mau mahal atau murah terser­ah, yang pent­ing iden­ti­tas seko­lah ter­pasang. Kalau beli di seko­lah har­ganya sama dan bisa dici­cil. Ser­agam bekas juga gak masalah asal mod­el­nya sama.”

 

Yang pal­ing meno­hok datang dari Agus Gusandy Rahayu, neti­zen yang aktif mem­berikan tang­ga­pan pan­jang:

“Ini cuma penci­traan peja­bat. Belinya di seko­lah bisa nyi­cil. Malah mem­ban­tu. Jan­gan sama­ratakan semua. Memang ada guru-guru yang ambil untung, tapi banyak juga yang hanya ban­tu. Jus­tru kalau seko­lah menye­di­akan lang­sung, bisa lebih ringan untuk raky­at kecil. Kalau beli di luar, harus bayar tunai. Mana bisa?”

 

Moti­vasi untuk Seko­lah yang Masih Men­jual Ser­agam

Di ten­gah badai kri­tik dan kebi­jakan yang berubah-ubah, seko­lah-seko­lah yang masih berani menye­di­akan ser­agam untuk siswa-siswinya layak men­da­p­atkan apre­si­asi. Bukan kare­na ingin menam­bah keun­tun­gan, tapi kare­na mere­ka meli­hat lang­sung reali­ta di lapan­gan: tidak semua orang tua pun­ya wak­tu, kendaraan, atau uang kon­tan untuk mem­be­li ser­agam di luar.

  Semangat Anak Sekolah Rakyat 45 Semarang Hangatkan Kunjungan Menteri dan Kepala Daerah

Seko­lah-seko­lah ini men­ja­di jem­bat­an. Mere­ka hadir bukan seba­gai peda­gang, tetapi seba­gai per­pan­jan­gan tan­gan orang tua yang men­cari kemu­da­han. Den­gan menya­makan har­ga, menye­di­akan kual­i­tas ser­agam yang ser­agam (pun intend­ed), ser­ta menawarkan sis­tem pem­ba­yaran yang lebih flek­si­bel, mere­ka jus­tru men­jalankan fungsi sosial yang ser­ing kali tidak dil­i­hat oleh para pengam­bil kebi­jakan dari balik meja.

Di desa-desa ter­pen­cil, tidak ada pusat per­be­lan­jaan, apala­gi toko ser­agam seko­lah. Bahkan, untuk ke pasar pun, orang tua harus men­em­puh per­jalanan ber­jam-jam. Belum ten­tu juga dap­at mod­el ser­agam yang sesuai. Di sini­lah per­an seko­lah men­ja­di san­gat pent­ing.

Untuk itu, kepa­da seko­lah-seko­lah yang tetap memil­ih untuk menye­di­akan ser­agam  tetap seman­gat. Kalian bukan pen­cari untung, kalian adalah pen­cari solusi.

Bukan Masalah Ser­agam, Tapi Masalah Per­spek­tif

Isu ini bukan sema­ta ten­tang boleh atau tidaknya seko­lah men­jual ser­agam. Ini soal per­spek­tif: apakah pemer­in­tah dan masyarakat sudah benar-benar mema­ha­mi real­i­tas yang dihadapi seko­lah-seko­lah di lapan­gan?

Pelarangan yang disama­ratakan bisa men­ja­di blun­der, apala­gi jika tidak dibaren­gi den­gan solusi alter­natif yang nya­ta. Pemer­in­tah pusat seharus­nya mem­bu­at kebi­jakan yang adap­tif, bukan repre­sif. Kare­na tidak semua daer­ah pun­ya akses dan daya beli yang sama. Dalam dunia pen­didikan, satu uku­ran tak bisa dipak­sakan untuk semua.

  Gubernur RMD Hapus Uang Komite Sekolah TA 2025/2026, Masyarakat Lampung Dukung Kebijakannya

 

Seko­lah Harus Transparan, Tapi Pemer­in­tah Juga Harus Bijak

Solusinya seder­hana: transparan­si. Jika seko­lah benar-benar tidak mengam­bil untung, buatkan lapo­ran ter­bu­ka. Undang komite seko­lah, libatkan orang tua dalam pengam­bi­lan kepu­tu­san, dan tampilkan har­ga pokok pem­be­lian.

Namun di sisi lain, pemer­in­tah pun harus bijak. Jan­gan hanya menin­dak yang keli­hatan “jual”, tapi abaikan yang men­jual secara terselubung lewat pihak keti­ga. Masalah­nya bukan pada sia­pa yang men­jual, tetapi pada sis­tem yang tidak diawasi den­gan baik.

Mari berhen­ti men­cip­takan dra­ma di dunia pen­didikan. Masalah ser­agam bukan perkara hitam-putih. Ada banyak abu-abu di ten­gah-ten­gah yang per­lu kita paha­mi bersama. Biarkan seko­lah tetap hadir seba­gai tem­pat bela­jar, bukan medan kon­flik antara niat baik dan kecuri­gaan.

Kepa­da seko­lah-seko­lah yang berani hadir untuk mem­ban­tu  teta­plah berjuang. Ban­tu den­gan hati, bukan den­gan niat bis­nis. Buk­tikan bah­wa yang kalian lakukan bukan penci­traan, tapi pengab­di­an.

Dan kepa­da pem­bu­at kebi­jakan  turun­lah ke bawah, den­garkan lang­sung. Kare­na dari bawah, kalian akan tahu bah­wa yang dibu­tuhkan bukan larangan, tapi pema­haman. (Dar­mawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *