Ujungkulon, SniperNew.id — Di ujung barat Pulau Jawa, berdirilah sebuah tanjung sunyi yang oleh para tetua disebut Sangiang Sirah, kepala sang pulau, tempat awal segala arah dimulai. Di sanalah laut bertemu langit tanpa batas, dan angin membawa bisik doa para leluhur.
Hutan Ujung Kulon bernafas dalam kesunyian yang sakral, menjadi saksi bisu atas kisah purba tentang asal mula kesadaran manusia, Selasa (11/11/2025).
Menurut legenda yang diwariskan turun-temurun, pada masa ketika bumi masih muda, Sangiang Jagat Pramudita menurunkan tiga penyangga tanah Jawa:
Sangiang Sirah, di ujung barat, lambang kesadaran dan kaur sejati. Sangiyang Udel, di tengah pulau, lambang kehidupan. Sangiang Lapas Bumi, di timur, lambang langkah perjalanan manusia menuju cahaya.
Dari kepala pulau inilah, kata para petapa zaman dahulu, pikiran dan nur manusia berasal. Di sinilah tempat turunnya Sabda Tunggal, ajaran tentang keseimbangan antara rasa, hitam, dan karsa, harmoni antara manusia dan semesta.
Dalam salah satu gua di tepi karang, terdapat sumber air jernih yang memantulkan cahaya keemasan. Air itu diyakini memiliki daya suci. Orang-orang percaya, siapa pun yang mandi di sana dengan hati bersih akan memperoleh pancaran kaur kebijaksanaan dari Sangiyang Sirah.
Namun legenda juga menuturkan adanya penjaga gaib, yang disebut Siang Penjaga Ombak, makhluk halus yang menjaga kesucian tempat tersebut. Ia dipercaya akan menegur siapa saja yang bersikap sombong, meremehkan alam, atau menantang gelombang.
“Barang siapa bersikap sentral dan menantang samudra, niscaya akan ditelan ombak,” begitu pesan para karuhun.
Para pendeta tua dahulu berkata. “Bila manusia kehilangan arah, maka ia harus kembali ke Sirah, kembali ke kesadarannya. Sebab di sanalah Pulau Jawa berdoa kepada langit.”
Kini, Sangiang Sirah tak hanya menjadi legenda, tapi juga simbol refleksi spiritual tentang keseimbangan manusia dengan alam. Di tengah derasnya arus modernitas, kisah ini mengingatkan bahwa kesadaran sejati bukanlah tentang menaklukkan dunia, melainkan menyatu dengannya. (Sumber: Akun Beti Setiawati)
Penulis (Iskandar)












