Berita Sejarah

Ramai Ziarah ke Makam Puyang Sakti Dusun Tue, Warganet Berdebat Soal Syirik dan Tradisi

482
×

Ramai Ziarah ke Makam Puyang Sakti Dusun Tue, Warganet Berdebat Soal Syirik dan Tradisi

Sebarkan artikel ini

Banyuasin, SniperNew.id – Sebuah ung­ga­han dari akun Face­book Deka Chan­dra Ase­na pada 14 Juni lalu men­ja­di viral dan memicu perde­batan hangat di media sosial. Dalam ung­ga­han terse­but, ia mem­bagikan momen ziarah ke makam Puyang Sak­ti yang ter­letak di Dusun Tue, Desa Pal­das, Keca­matan Rantau Bayur, Kabu­pat­en Banyuasin Sela­tan, Sumat­era Sela­tan, Jumat 01 Agus­tus 2025.

  "Senandung Wingit di Bukit Surowiti”

Ung­ga­han terse­but menun­jukkan sekelom­pok orang duduk san­tai di sek­i­tar makam, men­ge­nakan paka­ian san­tai hing­ga ikat kepala tra­di­sion­al. Hing­ga saat ini, postin­gan itu telah mem­per­oleh 1.922 tan­da suka, 93 komen­tar, dan dibagikan sebanyak 13 kali.

Namun, apa yang sem­u­la hanya tam­pak seba­gai kegiatan ziarah biasa jus­tru memicu perde­batan di kolom komen­tar. Beber­a­pa war­ganet mem­per­tanyakan apakah kegiatan terse­but ter­ma­suk per­bu­atan syirik.

Seo­rang peng­gu­na berna­ma La Ves­pa mene­gaskan bah­wa ziarah ke makam tidak bisa lang­sung diang­gap seba­gai syirik. Ia menulis, “Wang tu tan­dang ke makam be doa ngen yang kua­so. Nah, tuan makam tu nolong nyam­pai ke, ken doa tu gan­cang keru­an.” Ia menam­bahkan bah­wa masyarakat datang untuk berdoa kepa­da Tuhan, bukan kepa­da penghu­ni makam.

  Jejak Prabu Tawang Alun dan Misteri Rowo Bayu: Antara Legenda, Pohon Kembar, dan Macan Putih

Komen­tar terse­but memicu diskusi lan­ju­tan. Dobi Seti­awan mere­spons den­gan meny­atakan bah­wa semua manu­sia adalah ketu­runan Nabi Nuh dan Adam. Namun dalam komen­tar berikut­nya, ia mem­peringatkan, “Jan­gan mem­inta kepa­da selain Allah… Mem­inta kepa­da kubu­ran itu bagian dari kemusyrikan.”

Semen­tara itu, Hafiz Kenedy Dani meny­atakan setu­ju agar tra­disi seper­ti ini tidak berkem­bang men­ja­di pengkul­tu­san dan peng­ham­baan. Abdul­ha­di Yd men­jawab bah­wa niat seti­ap orang berbe­da, ter­gan­tung arah dan tujuan mas­ing-mas­ing sete­lah kema­t­ian. Ia juga men­da­p­at tang­ga­pan dari Adi Kan­ti, yang men­ga­jak untuk bela­jar lebih jauh dan tidak mudah menyalahkan.

Komen­tar lucu juga muncul, seper­ti dari Han­dra Res­fati Hand yang berka­ta, “Puyang di kami bini nye banyak 🤣, itu kelebi­han nye.” Komen­tar itu memanc­ing gelak tawa war­ganet lain.

  Prasasti Bikin Netizen Penasaran: Antara Penataran, Kelut, dan Yang Posting Lagi Setres

Perde­batan terse­but mencer­minkan keber­aga­man pan­dan­gan masyarakat ter­hadap tra­disi ziarah makam leluhur. Bagi seba­gian orang, ini meru­pakan bagian dari budaya dan peng­hor­matan. Namun bagi seba­gian lain­nya, prak­tik terse­but rentan dis­ala­har­tikan seba­gai ben­tuk syirik jika tidak dilan­dasi pema­haman aga­ma yang tepat.

Hing­ga kini, makam Puyang Sak­ti masih men­ja­di salah satu titik kun­jun­gan war­ga lokal untuk berdoa dan men­ge­nang leluhur mere­ka, sem­bari men­ja­di top­ik hangat yang meny­atukan antara budaya, aga­ma, dan tra­disi masyarakat Sumat­era Sela­tan.

Edi­tor: (Ahmad).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *