Berita Sejarah

Ramai Ziarah ke Makam Puyang Sakti Dusun Tue, Warganet Berdebat Soal Syirik dan Tradisi

411
×

Ramai Ziarah ke Makam Puyang Sakti Dusun Tue, Warganet Berdebat Soal Syirik dan Tradisi

Sebarkan artikel ini

Banyuasin, SniperNew.id – Sebuah unggahan dari akun Facebook Deka Chandra Asena pada 14 Juni lalu menjadi viral dan memicu perdebatan hangat di media sosial. Dalam unggahan tersebut, ia membagikan momen ziarah ke makam Puyang Sakti yang terletak di Dusun Tue, Desa Paldas, Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin Selatan, Sumatera Selatan, Jumat 01 Agustus 2025.

Unggahan tersebut menunjukkan sekelompok orang duduk santai di sekitar makam, mengenakan pakaian santai hingga ikat kepala tradisional. Hingga saat ini, postingan itu telah memperoleh 1.922 tanda suka, 93 komentar, dan dibagikan sebanyak 13 kali.

Namun, apa yang semula hanya tampak sebagai kegiatan ziarah biasa justru memicu perdebatan di kolom komentar. Beberapa warganet mempertanyakan apakah kegiatan tersebut termasuk perbuatan syirik.

Seorang pengguna bernama La Vespa menegaskan bahwa ziarah ke makam tidak bisa langsung dianggap sebagai syirik. Ia menulis, “Wang tu tandang ke makam be doa ngen yang kuaso. Nah, tuan makam tu nolong nyampai ke, ken doa tu gancang keruan.” Ia menambahkan bahwa masyarakat datang untuk berdoa kepada Tuhan, bukan kepada penghuni makam.

Komentar tersebut memicu diskusi lanjutan. Dobi Setiawan merespons dengan menyatakan bahwa semua manusia adalah keturunan Nabi Nuh dan Adam. Namun dalam komentar berikutnya, ia memperingatkan, “Jangan meminta kepada selain Allah… Meminta kepada kuburan itu bagian dari kemusyrikan.”

Sementara itu, Hafiz Kenedy Dani menyatakan setuju agar tradisi seperti ini tidak berkembang menjadi pengkultusan dan penghambaan. Abdulhadi Yd menjawab bahwa niat setiap orang berbeda, tergantung arah dan tujuan masing-masing setelah kematian. Ia juga mendapat tanggapan dari Adi Kanti, yang mengajak untuk belajar lebih jauh dan tidak mudah menyalahkan.

Komentar lucu juga muncul, seperti dari Handra Resfati Hand yang berkata, “Puyang di kami bini nye banyak 🤣, itu kelebihan nye.” Komentar itu memancing gelak tawa warganet lain.

Perdebatan tersebut mencerminkan keberagaman pandangan masyarakat terhadap tradisi ziarah makam leluhur. Bagi sebagian orang, ini merupakan bagian dari budaya dan penghormatan. Namun bagi sebagian lainnya, praktik tersebut rentan disalahartikan sebagai bentuk syirik jika tidak dilandasi pemahaman agama yang tepat.

Hingga kini, makam Puyang Sakti masih menjadi salah satu titik kunjungan warga lokal untuk berdoa dan mengenang leluhur mereka, sembari menjadi topik hangat yang menyatukan antara budaya, agama, dan tradisi masyarakat Sumatera Selatan.

Editor: (Ahmad).