Berita Sejarah

Tugu Batu Pejuang RI: Saksi Bisu Tragedi Berdarah 25 Maret 1949 di Tanah Anai

533
×

Tugu Batu Pejuang RI: Saksi Bisu Tragedi Berdarah 25 Maret 1949 di Tanah Anai

Sebarkan artikel ini

Di sudut sun­yi Desa Kam­pung Tanah Anai, Keca­matan Batipuh X Koto, Sumat­era Barat, berdiri sebuah tugu seder­hana yang meny­im­pan kisah pilu bangsa. Bukan mon­u­men megah atau taman yang ter­awat rapi, melainkan sebuah batu memo­r­i­al den­gan daf­tar nama 37 pejuang Repub­lik Indone­sia yang gugur men­ja­di kor­ban keke­ja­man kolo­nial Belan­da pada 25 Maret 1949.

Tugu ini dike­nal war­ga seba­gai “Tugu Batu Daf­tar Pejuang RI Kor­ban Kolo­nial Belan­da”. Mes­ki ben­tuknya seder­hana, nilainya tak terni­lai. Di atas batu yang mulai pudar dimakan wak­tu, terukir nama-nama para pejuang beser­ta usia mere­ka keti­ka mere­gang nyawa. Dari yang ter­mu­da, hanya 17 tahun, hing­ga yang ter­tua beru­sia 60 tahun, semuanya men­ja­di sak­si bisu bah­wa kemerdekaan tidak per­nah datang secara cuma-cuma.

Menu­rut pen­je­lasan yang dibagikan Afrizal Chan di media sosial, peri­s­ti­wa itu ter­ja­di di bawah wilayah koman­do pertem­pu­ran Padang Pan­jang, Batipuh X Koto. War­ga setem­pat menye­but tugu ini bera­da di lokasi yang dulun­ya men­ja­di medan tem­pur antara pejuang RI dan ten­tara kolo­nial.

Batu peringatan ini memu­at daf­tar kor­ban den­gan rin­ci: nama, gelar, dan ala­mat mas­ing-mas­ing. Nama-nama seper­ti Samin­ud­din, Malik, Saleh, Usman, hing­ga Tam Dike­nal, ter­catat aba­di di situ. Namun, di balik seti­ap nama ada kisah kelu­ar­ga yang kehi­lan­gan, saha­bat yang berdu­ka, dan gen­erasi penerus yang harus menat­ap masa depan tan­pa mere­ka.

  Rahasia Nanas Hias Langka yang Dipercaya Menyembuhkan

Dari penu­tu­ran Peter­nak Hara­pan, salah satu war­ganet yang menang­gapi ung­ga­han Afrizal Chan, banyak di antara para kor­ban adalah anggota Pasyarikat Muham­madiyah, bahkan salah sat­un­ya adalah paman dari neneknya.

Bang Dawan, seo­rang peng­gu­na Face­book lain, mene­gaskan bah­wa tugu pahlawan tidak seharus­nya dib­iarkan semer­awut. “Tan­pa jasa pahlawan negeri ini tak kan merde­ka,” tulis­nya.

Ceri­ta unik juga datang dari David Tarare, yang men­gaku menge­tahui adanya pin­tu di balik batu terse­but. Menu­rut­nya, pin­tu itu bisa dima­su­ki, namun kini banyak dihu­ni ular. Hal ini memu­nculkan rasa penasaran, apakah di balik tugu ini ter­da­p­at ruang peny­im­panan atau bekas bunker masa perang.

Semen­tara itu, TkkSB Truck­ing berba­gi kisah dari orang tua dan masyarakat setem­pat. Ia berceri­ta bah­wa pada masa itu, kor­ban ditangkap saat sedang berak­tiv­i­tas di sawah atau panen padi. Mere­ka dibawa ke jem­bat­an kere­ta api, ditem­bak, dan jasad­nya dib­iarkan begi­tu saja. Beber­a­pa ada yang sela­mat, dan dari merekalah ceri­ta ini diwariskan turun-temu­run.

Banyak komen­tar war­ga yang menyerukan agar tugu ini segera dipu­gar dan dirawat den­gan baik. Arwis­mal Pil­iang menekankan bah­wa tugu ini san­gat pent­ing untuk men­ja­ga lit­erasi sejarah masyarakat. “Agar semua orang tau dan melek sejarah,” ujarnya.

  Bukan Horor, Ini Ciamis: Makam Keramat dengan Jejak Sejarah Panjang

Han­dri Masa mengin­gatkan bah­wa daf­tar kor­ban seper­ti ini juga ada pada trage­di lain di masa APRI tahun 1958, dan pent­ing untuk diusut agar sejarah tidak hilang begi­tu saja.

Har­rya­guswido­do bahkan men­gusulkan agar lokasi tugu dijadikan sarana wisa­ta sejarah, sehing­ga lebih banyak orang yang tahu. Ia mem­bayangkan, jika jalur kere­ta api di dekat­nya kem­bali aktif, maka lokasi ini akan ramai dikun­jun­gi.

Nora Jones mem­beri saran prak­tis: “Harus dirawat, tulisan nya diper­je­las lagi.” Sebab memang, seba­gian huruf pada batu peringatan ini sudah mulai memu­dar, mem­bu­at pem­ba­ca kesuli­tan men­ge­nali nama-nama pahlawan yang terukir di sana.

Tak semua komen­tar berna­da posi­tif. Atjeh Pusa­ka mengek­spre­sikan keti­dakper­cayaan­nya pada keaslian sejarah yang ter­tulis, walaupun banyak yang meyaki­ni kisah ini benar adanya. Ada pula komen­tar dari Mali­no Poe­t­ra yang menyayangkan kon­disi sek­i­tar tugu yang dipenuhi semak belukar.

Umar Johan meny­oroti bah­wa per­awatan mon­u­men sejarah tidak seband­ing den­gan penampi­lan luar yang ser­ing dibang­gakan pihak-pihak ter­ten­tu. Sedan­gkan Arif Rah­man Sina­ga hanya menulis singkat, “Miris sekali negeri ku.”

Mie Mie men­gir­im doa agar para pahlawan ini bera­da di tem­pat ter­baik di sisi Tuhan, semen­tara komen­tar lain seper­ti Faisal Kha­ta dan beber­a­pa war­ga setem­pat menan­dakan bah­wa kepedu­lian masyarakat ter­hadap tugu ini sebe­narnya masih ada, namun belum ter­wu­jud dalam tin­dakan nya­ta.

  Uang Kuno Kesultanan Banten Jadi Sorotan, Simbol Sejarah dan Budaya Nusantara

Tugu ini adalah sim­bol pen­gor­banan. Ia menyuarakan kisah yang tidak ter­tulis di buku pela­jaran seko­lah, ten­tang bagaimana war­ga biasa petani, pemu­da desa, tokoh masyarakat men­ja­di kor­ban kek­erasan kolo­nial demi mem­per­ta­hankan kemerdekaan yang baru diraih.

Kini, tugu itu berdiri di ten­gah semak, seba­gian hurufnya pudar, seba­gian cat­nya terkelu­pas. Namun di balik kerentanan fisiknya, ia memikul beban sejarah yang tak terni­lai.

Jika tidak segera dirawat, bukan hanya batu itu yang akan hilang, tetapi juga mem­o­ri kolek­tif sebuah bangsa ten­tang per­juan­gan lokal yang hero­ik.

Tugu Batu Pejuang RI di Tanah Anai ini seharus­nya men­ja­di des­ti­nasi edukasi sejarah yang ter­in­te­grasi den­gan wisa­ta daer­ah. Pemer­in­tah daer­ah, pegiat sejarah, dan masyarakat dap­at berko­lab­o­rasi untuk mem­ber­sihkan­nya, mem­per­bai­ki cat ser­ta uki­ran nama, dan mem­bu­at papan infor­masi lengkap ten­tang latar belakang trage­di 25 Maret 1949.

Den­gan begi­tu, gen­erasi muda tidak hanya men­ge­nal pahlawan nasion­al dari buku, tetapi juga menge­tahui pahlawan lokal yang darah­nya tumpah di tanah tem­pat mere­ka berpi­jak.

Seba­gaimana yang dit­ulis Bang Dawan, “Tan­pa jasa pahlawan, negeri ini tak kan merde­ka.” Pesan ini, seder­hana namun men­dalam, seharus­nya men­ja­di pengin­gat bah­wa kemerdekaan adalah hasil dari keberan­ian orang-orang yang bahkan namanya mungkin hanya ter­tulis di sebuah batu tua di ping­gir desa. (Ahmad).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *