Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Peristiwa

Ratusan Pekerja Asing di Kamboja Mengamuk, Diduga Gara-Gara Gaji Tak Dibayar

540
×

Ratusan Pekerja Asing di Kamboja Mengamuk, Diduga Gara-Gara Gaji Tak Dibayar

Sebarkan artikel ini

Sihanoukville, SniperNew.id — Sab­tu malam, 4 Okto­ber 2025, kawasan Chi­na Town di Sihanoukville, Kam­bo­ja, men­dadak ricuh sete­lah ratu­san peker­ja asing yang bek­er­ja di sebuah markas judi dar­ing dan penipuan tele­pon (scam call cen­ter) menga­muk. Para peker­ja asal luar negeri itu meng­han­curkan sejum­lah fasil­i­tas dan aset perusa­haan tem­pat mere­ka bek­er­ja, Selasa (07/10).

Peri­s­ti­wa ini per­ta­ma kali dila­porkan oleh akun media poskotanet­work melalui plat­form Threads, dis­er­tai ung­ga­han video yang mem­per­li­hatkan suasana kacau di dalam gedung perusa­haan. Dalam video berdurasi singkat itu tam­pak puluhan peker­ja bert­e­ri­ak dan sal­ing dorong di dalam ruan­gan yang dipenuhi meja ker­ja dan per­ala­tan elek­tron­ik. Suara teri­akan dan ben­tu­ran ben­da ter­den­gar keras, menggam­barkan keka­cauan yang ter­ja­di.

Menu­rut lapo­ran terse­but, kerusuhan ter­ja­di sek­i­tar Sab­tu malam wak­tu setem­pat. Para peker­ja yang ter­li­bat berasal dari berba­gai negara, ter­ma­suk Indone­sia, India, dan Pak­istan. Mere­ka terekam meng­han­curkan barang-barang elek­tron­ik, kom­put­er, ser­ta per­lengka­pan kan­tor lain­nya milik perusa­haan yang dike­tahui dim­i­li­ki oleh war­ga negara Tiongkok.

Menu­rut sum­ber di lapan­gan yang diku­tip poskotanet­work, ker­icuhan diduga dipicu oleh per­soalan peng­ga­jian. Para peker­ja men­geluh kare­na gaji yang dijan­jikan tidak diba­yarkan secara penuh atau ter­tun­da dalam wak­tu lama. Beber­a­pa di antara mere­ka bahkan men­gaku belum mener­i­ma bayaran sela­ma berbu­lan-bulan.

Perusa­haan tem­pat mere­ka bek­er­ja dise­but berg­er­ak di bidang operasi online scam dan judi dar­ing (online gam­bling). Dalam beber­a­pa tahun ter­akhir, indus­tri semacam ini berkem­bang pesat di Sihanoukville — sebuah kota pelabuhan di Kam­bo­ja yang dike­nal seba­gai pusat bis­nis dar­ing ile­gal dan per­ju­di­an lin­tas negara.

  Motor Ditemukan di Sungai Wonosari KM 13, Polisi Selidiki Dugaan Kejahatan Jalanan

Banyak peker­ja asing, teruta­ma dari Asia Sela­tan dan Asia Teng­gara, direkrut den­gan jan­ji peker­jaan di bidang teknolo­gi atau pemasaran dig­i­tal. Namun sete­lah tiba di lokasi, mere­ka men­da­p­ati keny­ataan bah­wa peker­jaan mere­ka adalah bagian dari jaringan penipuan tele­pon atau situs per­ju­di­an online.

Salah satu sum­ber lokal menye­butkan bah­wa “karyawan yang bek­er­ja di sana ser­ingkali ter­tipu, dipak­sa bek­er­ja tan­pa izin res­mi, bahkan ada yang dis­ekap dan tidak bisa kelu­ar dari kom­plek perusa­haan.”

Aparat kepolisian Kam­bo­ja segera diter­junkan ke lokasi keja­di­an untuk mence­gah melu­as­nya kerusuhan. Polisi tam­pak ber­ja­ga di sek­i­tar area kan­tor yang men­ja­di pusat ben­trokan dan mengevakuasi sejum­lah peker­ja.

Menu­rut lapo­ran media setem­pat yang diku­tip ulang oleh poskotanet­work, pihak berwe­nang Kam­bo­ja men­duga aksi itu bukan hanya aki­bat keter­lam­bat­an pem­ba­yaran gaji, tetapi juga adanya keti­dakpuasan ter­hadap kon­disi ker­ja yang buruk dan dugaan eksploitasi.

“Polisi berusa­ha mene­nangkan situ­asi agar tidak menim­bulkan kor­ban jiwa maupun kerusakan lebih parah,” tulis akun terse­but. Sejum­lah video amatir yang beredar mem­per­li­hatkan petu­gas kea­manan berser­agam men­co­ba meng­ha­lau keru­mu­nan dan menga­mankan beber­a­pa indi­vidu yang diduga pro­voka­tor.

Ung­ga­han poskotanet­work terse­but memicu berba­gai tang­ga­pan dari peng­gu­na Threads. Dalam kolom komen­tar, sejum­lah war­ganet menang­gapi den­gan beragam per­spek­tif  dari sinis hing­ga pri­hatin.

Akun @lanvin.gieves menulis, “Lah kan dap­at dari nipu orang, nga­pain kom­plain ke pusat? Mungkin pura-pura marah biar gak ketangkep semua wkwk­wk.”

Komen­tar itu mengisyaratkan pan­dan­gan skep­tis ter­hadap motif para peker­ja, seo­lah men­gang­gap ama­rah terse­but seba­gai tak­tik agar mere­ka tidak ter­jer­at hukum.

Semen­tara itu, akun @thisrie_hamid menuliskan. “Lah kok mukanya kebanyakan kek orang Asia Sela­tan… Emang jaringan India, di mana-mana jadi scam­mer!!!”

Komen­tar terse­but men­u­ai kri­tik dari seba­gian peng­gu­na lain kare­na men­gan­dung unsur stereotip dan diskrim­i­nasi ter­hadap kelom­pok etnis ter­ten­tu.

  Viral Bikin Nyesek, Pihak Pengantin Perempuan Buka Angpao Sendiri Tidak Diketahui Keluarga Pria

Peng­gu­na lain, @gendhoek_limboek, mem­beri pan­dan­gan lebih luas. “Judol itu selalu jadi racun untuk SDM ren­dah, yang gak bisa berpikir bah­wa efeknya judi selalu mudarat…”

Komen­tar ini meny­oroti akar masalah sosial dari prak­tik per­ju­di­an dar­ing yang merusak moral ser­ta mem­bu­ka ruang bagi eksploitasi peker­ja di sek­tor ile­gal terse­but.

Sihanoukville sela­ma ini dike­nal seba­gai pusat aktiv­i­tas ekono­mi berba­sis dar­ing yang tidak selu­ruh­nya legal. Sete­lah Kam­bo­ja secara res­mi melarang per­ju­di­an online pada 2019, banyak oper­a­tor memindahkan aktiv­i­tas mere­ka ke bawah tanah, meman­faatkan celah hukum dan lemah­nya pen­gawasan.

Perusa­haan-perusa­haan ini ser­ingkali dijalankan oleh war­ga asing, teruta­ma dari Tiongkok, dan mem­peker­jakan ribuan tena­ga ker­ja dari berba­gai negara Asia. Seba­gian besar peker­ja direkrut melalui iklan peker­jaan pal­su den­gan iming-iming gaji ting­gi dan fasil­i­tas lengkap.

Namun, banyak dari mere­ka jus­tru berakhir men­ja­di kor­ban perda­gan­gan manu­sia atau eksploitasi ker­ja. Beber­a­pa lapo­ran inves­ti­gasi sebelum­nya menye­butkan bah­wa para peker­ja dipak­sa menipu orang melalui media sosial atau pang­gi­lan tele­pon untuk menarik kor­ban ke dalam inves­tasi bodong dan situs judi ile­gal.

Kerusuhan di Sihanoukville ini bukan peri­s­ti­wa per­ta­ma. Dalam dua tahun ter­akhir, sudah beber­a­pa kali muncul kabar ten­tang peker­ja asing yang menga­muk atau kabur dari kom­pleks perusa­haan seje­nis kare­na tidak tahan den­gan kon­disi ker­ja.

Kali ini, dugaan penye­bab uta­manya adalah keter­lam­bat­an pem­ba­yaran gaji. Namun di balik itu, ter­da­p­at per­soalan yang lebih kom­pleks mulai dari eksploitasi, anca­man, hing­ga pena­hanan pas­por oleh pihak perusa­haan.

“Ini hanyalah pun­cak gunung es dari indus­tri online scam yang berop­erasi lin­tas negara,” ujar seo­rang penga­mat hubun­gan inter­na­sion­al asal Phnom Penh kepa­da media lokal. “Pemer­in­tah Kam­bo­ja per­lu bertin­dak lebih tegas, bukan hanya ter­hadap peker­janya, tapi juga ter­hadap sindikat yang mem­peker­jakan mere­ka.”

  Pria Lansia Ditemukan Tergeletak di Pasar Raya Padang, Polisi Masih Selidiki Penyebabnya

Hing­ga beri­ta ini dis­usun, pihak otori­tas Kam­bo­ja masih melakukan penye­lidikan ter­hadap insi­d­en terse­but. Polisi telah menga­mankan beber­a­pa peker­ja asing untuk dim­intai keteran­gan, semen­tara seba­gian lain­nya dip­u­langkan ke asra­ma yang bera­da di dalam kom­pleks perusa­haan.

Semen­tara itu, Kedu­taan Besar Indone­sia di Phnom Penh dise­but telah meman­tau situ­asi terse­but untuk memas­tikan tidak ada WNI yang men­ja­di kor­ban. Pihak KBRI dik­abarkan ten­gah berko­or­di­nasi den­gan kepolisian setem­pat guna memas­tikan kese­la­matan war­ga negara Indone­sia yang bek­er­ja di sek­tor dig­i­tal di wilayah terse­but.

Ker­icuhan ini men­ja­di peringatan keras bagi pemer­in­tah-pemer­in­tah di kawasan Asia Teng­gara men­ge­nai risiko besar dari indus­tri online scam lin­tas negara. Selain men­coreng rep­utasi tena­ga ker­ja, prak­tik semacam ini juga menim­bulkan keru­gian sosial dan ekono­mi yang luas, ser­ta mem­per­parah cit­ra negara-negara asal peker­ja.

Peri­s­ti­wa kerusuhan di markas online scam kawasan Chi­na Town, Sihanoukville, Kam­bo­ja, menun­jukkan sisi gelap indus­tri dig­i­tal yang meman­faatkan tena­ga ker­ja asing den­gan cara tidak manu­si­awi.

Dari video dan lapo­ran yang diung­gah akun poskotanet­work, ter­li­hat jelas bah­wa ama­rah peker­ja sudah men­ca­pai titik pun­cak dipicu oleh keti­dakadi­lan dalam sis­tem ker­ja yang eksploitatif.

Aparat kea­manan Kam­bo­ja kini ten­gah beru­paya mene­nangkan situ­asi, namun peri­s­ti­wa ini mem­bu­ka kem­bali diskusi glob­al men­ge­nai eti­ka ker­ja lin­tas negara, tang­gung jawab perusa­haan, dan per­lin­dun­gan bagi para peker­ja migran yang ker­ap men­ja­di kor­ban di balik layar indus­tri dig­i­tal ile­gal.

Den­gan penelusuran lebih lan­jut dari pihak berwe­nang, dunia menan­tikan keje­lasan: apakah para peker­ja benar-benar kor­ban eksploitasi, atau bagian dari jaringan yang lebih besar yang kini mulai retak dari dalam.

(Beri­ta ini dis­usun berdasarkan ung­ga­han akun Threads @poskotanetwork dan keteran­gan pub­lik yang terse­dia. (Ahm/abd).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *