Berita Peristiwa

Karyawan di Jinan Tiongkok Tuntut Gaji dengan Aksi Nekat

558
×

Karyawan di Jinan Tiongkok Tuntut Gaji dengan Aksi Nekat

Sebarkan artikel ini

Jinan, SniperNew.id - Fenom­e­na penung­gakan gaji karyawan di Tiongkok kem­bali men­curi per­ha­t­ian pub­lik sete­lah beredar sebuah video dari Kota Jinan, Provin­si Shan­dong, pada 17 Sep­tem­ber 2025. Dalam reka­man yang diung­gah akun media whats.in.china di plat­form sosial Threads, ter­li­hat sekelom­pok peker­ja kon­struk­si melakukan aksi nekat dan agre­sif untuk menun­tut pem­ba­yaran upah mere­ka yang belum diba­yarkan, Sab­tu (27/09).

Video berdurasi singkat itu menampilkan seo­rang peker­ja berhelm kun­ing dan rompi kese­la­matan yang sedang menarik tali besar untuk merusak dind­ing kaca sebuah gedung. Kaca tam­pak pec­ah dan retak aki­bat aksi terse­but, semen­tara peker­ja lain ter­li­hat mem­ban­tu dari sisi berbe­da. Aksi ini diyaki­ni dilakukan seba­gai ben­tuk protes atas gaji yang ter­tung­gak.

Ung­ga­han terse­but dis­er­tai narasi. “Den­gan semakin mewabah­nya penung­gakan gaji oleh berba­gai perusa­haan di Tiongkok, para karyawan juga mengam­bil langkah yang semakin nekat dan agre­sif untuk menag­i­h­nya.”

Lokasi keja­di­an dipastikan bera­da di Kota Jinan, Provin­si Shan­dong, den­gan wak­tu keja­di­an 17 Sep­tem­ber 2025.

Keja­di­an ini meru­pakan ben­tuk aksi protes karyawan di sek­tor kon­struk­si ter­hadap perusa­haan yang menung­gak gaji. Mere­ka tidak hanya men­ga­jukan tun­tu­tan secara lisan, tetapi memil­ih cara ekstrem, yakni merusak fasil­i­tas gedung tem­pat mere­ka bek­er­ja. Tin­dakan ini dipan­dang seba­gai upaya ter­akhir sete­lah berba­gai cara yang lebih halus tidak mem­buahkan hasil.

  Damkar Badung Evakuasi Ular Weling Berbisa Tinggi di Mengwi

Aksi terse­but mene­gaskan bah­wa masalah keter­lam­bat­an pem­ba­yaran gaji di Tiongkok semakin serius, teruta­ma di sek­tor kon­struk­si dan proyek-proyek swasta. Fenom­e­na ini menim­bulkan kepri­hati­nan luas, baik dari masyarakat setem­pat maupun war­ganet inter­na­sion­al.

Pelaku aksi adalah para peker­ja kon­struk­si yang berop­erasi di Kota Jinan. Mere­ka men­ge­nakan per­lengka­pan stan­dar kese­la­matan ker­ja, seper­ti helm, sarung tan­gan, dan rompi reflek­tif.

Pihak yang ditun­tut adalah perusa­haan kon­struk­si yang mem­peker­jakan mere­ka. Namun, dalam video maupun keteran­gan ung­ga­han tidak dise­butkan secara jelas nama perusa­haan terse­but.

Pub­lik yang menon­ton video ini juga turut mem­berikan reak­si keras. Beber­a­pa komen­tar war­ganet Indone­sia yang diku­tip dari ung­ga­han Threads antara lain:

“Tidak berprike­manu­si­aan ker­ja di kon­struk­si ban­gu­nan pal­ing berat, gaji kecil tapi tidak diba­yar.” – akun indonesia_negeriku_tercinta.

“Nah, harus gini … ada wak­tu dan lokasi, biar lebih meyakinkan.” – akun mrsetyad­ji.

“Tukang-tukang panu­tan kita semua.” – akun tomo.christo.

“Negara besar saja tum­bang apa kabar Indone­sia?” – akun wahyu­ni­i­i­ian­dress.

Reak­si ini menun­jukkan empati lin­tas negara ter­hadap nasib para peker­ja yang men­gala­mi keti­dakadi­lan.

Aksi ini ter­ja­di pada Rabu, 17 Sep­tem­ber 2025, dan reka­man­nya lang­sung viral hanya dalam hitun­gan jam. Hing­ga kini, ung­ga­han terse­but telah diton­ton lebih dari 20.000 kali di plat­form Threads.

  Kebakaran Melanda Gedung Telkom Landmark Tower di Jakarta

Lokasi aksi bera­da di Kota Jinan, ibu kota Provin­si Shan­dong, Tiongkok. Kota ini dike­nal seba­gai salah satu pusat indus­tri dan pem­ban­gu­nan, den­gan banyak proyek kon­struk­si berskala besar. Namun, kon­disi ekono­mi yang melam­bat dalam beber­a­pa tahun ter­akhir mem­bu­at banyak perusa­haan kesuli­tan men­ja­ga likuid­i­tas, ter­ma­suk dalam mem­ba­yar gaji karyawan tepat wak­tu.

Penye­bab uta­ma aksi ini adalah penung­gakan gaji. Fenom­e­na keter­lam­bat­an pem­ba­yaran upah di Tiongkok bukan hal baru. Beber­a­pa lapo­ran media inter­na­sion­al menye­butkan bah­wa kri­sis keuan­gan yang melan­da sek­tor prop­er­ti dan kon­struk­si di negara terse­but mem­bu­at banyak perusa­haan gagal memenuhi kewa­jiban ter­hadap para peker­janya.

Dalam kasus ini, para peker­ja merasa hak mere­ka tidak dihar­gai, pada­hal mere­ka sudah menger­ahkan tena­ga dalam peker­jaan fisik yang berat. Frus­trasi yang menumpuk mem­bu­at mere­ka mengam­bil tin­dakan agre­sif seba­gai ben­tuk desakan agar perusa­haan segera mem­ba­yar gaji.

Aksi ter­ja­di den­gan cara peker­ja kon­struk­si meng­han­curkan dind­ing kaca gedung meng­gu­nakan tali dan per­ala­tan seder­hana. Mere­ka tam­pak bek­er­ja sama untuk merusak fasil­i­tas seba­gai sim­bol per­lawanan.

Reka­man itu men­ja­di buk­ti nya­ta bah­wa karyawan tidak lagi hanya menun­tut lewat jalur hukum atau medi­asi, melainkan lang­sung mengam­bil langkah frontal di lapan­gan. Keja­di­an ini menandai eskalasi kon­flik antara peker­ja dan perusa­haan di ten­gah mem­bu­ruknya kon­disi ekono­mi.

  Kebakaran Dekat SMPN 1 Bayang: Warga Panik, Penyebab Masih Misteri

Chi­na sedang meng­hadapi tekanan ekono­mi yang sig­nifikan dalam beber­a­pa tahun ter­akhir. Sek­tor prop­er­ti, yang sela­ma ini men­ja­di motor per­tum­buhan, men­gala­mi per­lam­bat­an tajam aki­bat utang besar perusa­haan pengem­bang. Dampaknya terasa hing­ga ke peker­ja kon­struk­si, yang kini men­ja­di kor­ban penung­gakan gaji.

Respon war­ganet di ung­ga­han Threads menun­jukkan sol­i­dar­i­tas dan kepri­hati­nan. Banyak yang meny­oroti keras­nya kon­disi ker­ja di kon­struk­si, dita­m­bah ironi gaji kecil yang tidak diba­yar. Seba­gian juga menye­but bah­wa jika negara besar seper­ti Tiongkok bisa meng­hadapi masalah ini, maka negara lain ter­ma­suk Indone­sia per­lu lebih was­pa­da.

Jika tren penung­gakan gaji terus berlan­jut, dikhawatirkan akan memicu lebih banyak aksi seru­pa di berba­gai kota di Tiongkok. Hal ini bisa berdampak pada sta­bil­i­tas sosial dan mem­per­bu­ruk cit­ra perusa­haan kon­struk­si di mata masyarakat.

Keja­di­an di Jinan, Shan­dong, pada 17 Sep­tem­ber 2025 men­ja­di potret nya­ta bagaimana penung­gakan gaji dap­at memicu kemara­han peker­ja hing­ga memil­ih jalan nekat. Video yang viral itu bukan sekadar ton­to­nan, melainkan cer­mi­nan kri­sis yang lebih luas dalam dunia ker­ja, khusus­nya di sek­tor kon­struk­si.

Karyawan yang haknya dia­baikan merasa per­lu mengam­bil langkah ekstrem agar suara mere­ka diden­gar. Fenom­e­na ini men­ja­di alarm keras bagi perusa­haan, pemer­in­tah, dan masyarakat inter­na­sion­al untuk menaruh per­ha­t­ian lebih pada per­lin­dun­gan hak-hak peker­ja. (and)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *