Jakarta, SniperNew.id — Fenomena penumpukan kendaraan di kawasan sekitar Stasiun Cikini, Jakarta Pusat, sering kali menjadi sorotan publik. Tidak jarang, para pengguna jalan maupun pejalan kaki mengeluhkan kesemrawutan akibat kendaraan ojek daring maupun taksi yang berhenti sembarangan alias “ngetem”. Melihat kondisi tersebut, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, melakukan peninjauan langsung terhadap pelican crossing yang baru diuji coba di depan Stasiun Cikini. Dalam kesempatan itu, ia menekankan agar taksi maupun ojek tidak ngetem di sekitar pelican crossing, demi menjaga kelancaran arus lalu lintas, Selasa (16/09).
Unggahan mengenai tinjauan tersebut ramai dibagikan melalui berbagai platform media sosial, salah satunya oleh akun mata_netizen662 di Threads. Dalam unggahannya, akun itu menuliskan bahwa kebiasaan masyarakat harus diarahkan dari budaya “memanjat” menjadi budaya “mengantre” demi terciptanya keteraturan.
Tindakan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengecek langsung pelican crossing di Stasiun Cikini merupakan bagian dari upaya pemerintah provinsi dalam menata lalu lintas di kawasan pusat ibu kota. Ia secara tegas meminta agar tidak ada kendaraan umum, baik ojek maupun taksi, yang berhenti sembarangan di dekat pelican crossing.
Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kemacetan. Pramono menilai, persoalan kemacetan di sekitar stasiun sebenarnya sederhana, namun sering kali tidak segera ditangani.
Dalam unggahan mata_netizen662 tertulis. “Ketika melihat begitu problemnya, apa ya, simpel tapi tidak segera diselesaikan.”
Artinya, menurut pandangan gubernur, solusi terhadap masalah lalu lintas di kawasan itu bisa dilakukan dengan langkah kecil tetapi harus segera dieksekusi.
Tokoh utama dalam peristiwa ini adalah Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta yang baru saja meninjau langsung lokasi. Beliau turun tangan untuk memastikan bahwa pelican crossing, yang dirancang untuk memberikan keamanan dan kenyamanan pejalan kaki, dapat berfungsi optimal.
Pihak lain yang disebut dalam konteks ini adalah pengemudi ojek daring dan taksi yang sering berhenti di sekitar pelican crossing. Kehadiran mereka yang berhenti sembarangan dinilai menjadi penyebab utama penyempitan ruang jalan sehingga menimbulkan kemacetan.
Selain itu, masyarakat pengguna jalan, baik pejalan kaki maupun penumpang transportasi umum, juga menjadi bagian dari pihak yang terdampak langsung. Dengan adanya kebijakan pelarangan ojek dan taksi berhenti di dekat pelican crossing, diharapkan mereka dapat menikmati arus lalu lintas yang lebih lancar dan aman.
Peninjauan Gubernur Pramono Anung berlangsung dalam beberapa waktu terakhir saat dilakukan uji coba pelican crossing di Stasiun Cikini. Informasi mengenai peristiwa ini beredar di media sosial Threads sekitar 13 menit setelah diunggah oleh akun mata_netizen662.
Walaupun tidak disebutkan tanggal pasti dalam unggahan tersebut, momen ini jelas terjadi bertepatan dengan masa uji coba fasilitas pelican crossing, yang merupakan salah satu program baru untuk meningkatkan keselamatan pejalan kaki di kawasan padat aktivitas seperti stasiun.
Lokasi peristiwa adalah di Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Stasiun ini merupakan salah satu titik transit penting di ibu kota dengan arus penumpang yang padat setiap harinya.
Kawasan di sekitar Stasiun Cikini memang dikenal rawan macet, khususnya pada jam sibuk, karena banyak pengguna KRL yang keluar-masuk area stasiun. Tidak jarang kendaraan umum seperti ojek daring maupun taksi berhenti di badan jalan untuk menunggu penumpang. Kehadiran pelican crossing di lokasi ini diharapkan dapat memberikan solusi bagi pejalan kaki agar bisa menyeberang jalan dengan aman tanpa harus memanjat pagar pembatas atau mencari jalan pintas berisiko.
Ada beberapa alasan mengapa Pramono Anung turun langsung mengecek pelican crossing di Stasiun Cikini:
Kehadiran ojek dan taksi yang berhenti sembarangan sering menimbulkan penumpukan kendaraan di area depan stasiun. Jika dibiarkan, hal ini akan berdampak pada terganggunya arus lalu lintas di jalan utama.
Sebelum adanya pelican crossing, banyak pejalan kaki terpaksa memanjat pagar pembatas jalan untuk menyeberang karena sulit mendapatkan akses penyeberangan yang aman. Dengan adanya pelican crossing, pejalan kaki diharapkan terbiasa untuk mengantre dan menyeberang dengan tertib.
Dalam unggahan di media sosial, ditegaskan pentingnya mengganti budaya memanjat dengan budaya mengantre. Hal ini sejalan dengan semangat membangun disiplin masyarakat dalam berlalu lintas, baik bagi pengemudi maupun pejalan kaki.
Menurut Pramono, masalah kemacetan di kawasan Cikini sebenarnya bukan persoalan kompleks. Namun sering kali solusi sederhana tidak segera dijalankan, sehingga menimbulkan masalah berkepanjangan.
Upaya yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta adalah dengan meninjau langsung fasilitas pelican crossing yang baru diuji coba. Setelah melihat kondisi di lapangan, ia menginstruksikan agar ojek dan taksi dilarang ngetem di dekat pelican crossing.
Selain itu, pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat adalah pentingnya membangun budaya antre ketika menggunakan fasilitas publik. Dengan begitu, pelican crossing bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya, yakni memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi pejalan kaki.
Solusi sederhana ini diharapkan menjadi langkah awal untuk penataan yang lebih luas, bukan hanya di Stasiun Cikini, tetapi juga di stasiun-stasiun lain yang memiliki kondisi serupa.
Jika larangan ojek dan taksi berhenti di dekat pelican crossing benar-benar dijalankan, maka dampaknya cukup signifikan:
1. Arus lalu lintas lebih lancar
Jalan di depan stasiun tidak lagi tersendat akibat kendaraan yang berhenti sembarangan.
2. Keselamatan pejalan kaki meningkat
Pejalan kaki bisa menyeberang dengan tenang tanpa harus terganggu kendaraan yang parkir atau ngetem.
3. Budaya disiplin berkembang
Masyarakat mulai terbiasa untuk tertib, baik dalam mengantre maupun dalam mematuhi aturan lalu lintas.
4. Efisiensi waktu
Dengan berkurangnya kemacetan, waktu tempuh pengguna jalan bisa lebih singkat.
Namun, untuk mewujudkan semua ini, diperlukan komitmen bersama. Tidak cukup hanya kebijakan gubernur, tetapi juga partisipasi pengemudi ojek, taksi, aparat terkait, dan tentu saja masyarakat pengguna jalan.
Sebagai catatan, berikut kutipan unggahan lengkap dari akun mata_netizen662 yang menjadi sumber pemberitaan ini:
*“Mengganti budaya memanjat dengan budaya mengantre Bismillah semoga bermanfaat.
Pramono Cek Pelican Crossing Stasiun Cikini, Minta Ojek-Taksi Tak Ngetem.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengecek uji coba pelican crossing di Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Dia meminta tak ada ojek ataupun taksi yang ngetem di dekat pelican crossing untuk mencegah macet.
‘Ketika melihat begitu problemnya, apa ya, simpel tapi tidak segera diselesaikan.’
#pramonoanung”*
Peninjauan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Stasiun Cikini menjadi langkah konkret pemerintah daerah untuk menghadirkan solusi sederhana namun penting bagi masyarakat. Kehadiran pelican crossing bukan hanya sekadar infrastruktur, tetapi juga simbol perubahan budaya berlalu lintas di ibu kota: dari kebiasaan instan dan semrawut menuju disiplin, antre, dan tertib.
Jika kebijakan ini dijalankan dengan konsisten, Stasiun Cikini bisa menjadi contoh bagaimana fasilitas publik yang sederhana mampu membawa dampak besar bagi kenyamanan dan keselamatan warga. (Ahm/Dar)













