Pringsewu, SniperNew.id – Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) menggelar kegiatan penyuluhan dan pembinaan kepada mahasiswa Universitas Aisyah Pringsewu (UAP) di Aula Kampus UAP, Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Senin (16/9/2025) pagi. Acara berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB dan diikuti antusias oleh para mahasiswa.
Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) merupakan wadah yang tergabung dari berbagai macam suku yang ada di Indonesia. Tujuannya, seperti dijelaskan Ketua FPK Pringsewu, Drs. H. Wanawir AM., MM., M. Pd., adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada generasi muda, khususnya mahasiswa, agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang bisa memecah belah persatuan.
“FPK ini tergabung dari berbagai macam suku yang ada di Indonesia. Tujuannya untuk memberikan pengetahuan ke mahasiswa UAP agar tidak mudah terprovokasi. Kita saling menjaga agar situasi tetap kondusif, serta memberikan arahan agar tidak menyalahgunakan narkoba,” ungkap Drs. H. Wanawir AM., MM., M. Pd, dalam sambutannya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keberadaan FPK sangat penting sebagai garda depan dalam menjaga kerukunan antar-suku, terlebih di wilayah Pringsewu yang dihuni masyarakat dari latar belakang budaya berbeda.
FPK tidak hanya fokus pada isu kebangsaan dan kerukunan, melainkan juga membantu pemerintah daerah di berbagai bidang, termasuk mencegah potensi konflik sosial, tawuran, atau gesekan antar kelompok yang bisa mengganggu ketertiban umum.
“Intinya FPK ini membantu pemerintah di bidang apa saja, agar Pringsewu tetap kondusif. Tidak ada tawuran, tidak ada perang antar suku. Di sinilah peran FPK,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, ditampilkan pula paparan mengenai Tugas FPK Kabupaten/Kota sesuai Bab III, Pasal (6) Ayat (2), yaitu:
1. Menjaring aspirasi masyarakat dalam bidang pembauran kebangsaan.
2. Menyelenggarakan forum dialog dengan pimpinan organisasi sosial kemasyarakatan, pemuka adat, suku, dan masyarakat.
3. Menyelenggarakan sosialisasi kebijakan yang berkaitan dengan masalah kebangsaan (misalnya tentang 4 pilar kebangsaan).
4. Merumuskan rekomendasi kepada Bupati/Walikota sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan pembauran kebangsaan.
Pernyataan dan penjelasan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan FPK tidak hanya sebatas forum seremonial, tetapi benar-benar hadir memberikan solusi dalam menjaga situasi aman dan damai.
Acara di Kampus UAP Gadingrejo menjadi salah satu bentuk nyata dari peran FPK. Kegiatan ini dihadiri para mahasiswa, dosen, serta sejumlah perwakilan pemerintah dan tokoh masyarakat. Dengan tema besar pembauran kebangsaan, para mahasiswa diberi pemahaman tentang pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan, gotong royong, serta menghindari perilaku negatif seperti penggunaan narkoba.
Dalam sesi penyuluhan, mahasiswa diajak untuk berdiskusi mengenai tantangan kebhinekaan di era modern, termasuk bahaya penyalahgunaan narkoba yang kerap menyasar generasi muda.
FPK menekankan, mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kondusivitas lingkungan sekitar, baik di kampus maupun masyarakat.
Isu narkoba mendapat perhatian serius dalam kegiatan ini. FPK mengingatkan bahwa narkoba bukan hanya merusak kesehatan, tetapi juga dapat menghancurkan masa depan generasi penerus bangsa. Mahasiswa diajak untuk berani berkata tidak pada narkoba serta menjauhi pergaulan bebas yang berpotensi menjerumuskan.
Selain itu, potensi tawuran maupun gesekan antar kelompok juga dibahas. Menurut FPK, konflik sering kali berawal dari kesalahpahaman kecil yang kemudian meluas jika tidak segera dicegah. Dengan adanya FPK, mahasiswa diharapkan bisa menjadi duta perdamaian yang menyebarkan pesan persatuan di tengah masyarakat majemuk.
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh keakraban. Para mahasiswa terlihat antusias mengikuti jalannya acara. Beberapa di antaranya bahkan aktif mengajukan pertanyaan terkait strategi pencegahan narkoba serta cara membangun toleransi antar teman dari suku dan latar belakang berbeda.
Pihak kampus menyambut baik kegiatan ini karena sejalan dengan misi pendidikan tinggi, yaitu tidak hanya mencetak lulusan berkompetensi akademik, tetapi juga berkarakter, cinta tanah air, dan menjunjung tinggi nilai persatuan.
FPK menegaskan bahwa menjaga kondusivitas daerah tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan perlu kolaborasi semua pihak, termasuk mahasiswa. Dengan adanya sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan, maka cita-cita untuk mewujudkan Pringsewu yang aman dan damai bisa tercapai.
“Kita semua punya peran. Pemerintah, tokoh adat, kampus, hingga mahasiswa harus saling bersinergi. Dengan begitu, tidak ada celah bagi provokasi ataupun perpecahan,” tegasnya.
Kegiatan seperti ini diharapkan tidak berhenti pada satu kampus saja, tetapi juga dapat menyasar sekolah-sekolah, komunitas pemuda, dan masyarakat luas. Dengan demikian, pesan kebhinekaan, persatuan, dan bahaya narkoba bisa tersebar luas dan membentuk generasi muda yang tangguh.
FPK juga berharap mahasiswa yang hadir dapat menjadi agen sosialisasi di lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan bisa menularkan semangat cinta damai dan menolak segala bentuk provokasi yang berpotensi memecah belah bangsa.
Kegiatan FPK di Kampus UAP Gadingrejo menjadi bukti nyata bahwa menjaga kondusivitas daerah adalah tanggung jawab bersama. Dengan keterlibatan mahasiswa, FPK optimis bahwa Pringsewu dapat terus menjadi daerah yang aman, damai, dan bebas dari konflik sosial maupun penyalahgunaan narkoba.
Penulis: (Janhari)












