Jakarta, SniperNew.id– Pihak terkait mulai melakukan penambahan tinggi pagar di Stasiun Cikini, Jakarta Pusat. Proyek ini bertujuan untuk mencegah kebiasaan sejumlah penumpang KRL yang melompati pagar untuk mengambil jalan pintas, sehingga diharapkan seluruh penumpang menggunakan jalur resmi keluar dan masuk stasiun, Senin (11/08/2025).
Menurut informasi yang diunggah akun jakarta.terkini, pagar di Stasiun Cikini kini mulai dinaikkan hingga mencapai 1,7 meter. Proyek penambahan tinggi pagar ini dikerjakan sejak 9 Agustus 2025. Diharapkan, langkah ini akan mengurangi praktik lompat pagar yang kerap menimbulkan kemacetan di sekitar stasiun.
Meski demikian, pengerjaan proyek masih berlangsung sehingga belum sepenuhnya menutup kemungkinan penumpang nekat mencari jalan pintas. Padahal, akses resmi telah tersedia di pintu utara dan selatan stasiun, yang terhubung langsung dengan halte TransJakarta.
“Harapannya, pagar baru ini bisa bikin area stasiun lebih tertib, aman, dan nggak terlalu rame di depan,” tulis jakarta.terkini dalam unggahannya.
Kabar ini memunculkan beragam respons di kalangan warganet. Beberapa mendukung langkah tersebut karena dinilai dapat meningkatkan ketertiban, namun ada pula yang mengkritik dengan alasan masih memungkinkan penumpang untuk mencari cara lain.
Akun hendragnwn11 berpendapat bahwa penambahan tinggi pagar memang untuk menghindari penumpang yang turun dari stasiun melompati pagar dan menyebabkan kemacetan. Namun, ia mengusulkan agar PT KAI mencari solusi lain yang tidak hanya sekadar menaikkan pagar.
“Harusnya PT KAI mencari solusi yang lain tanpa harus dipagar tinggi. Kalau udah seperti ini jelas ada yang pro dan kontra. Kasihan juga jauh pintu keluarnya,” tulisnya.
Sementara itu, akun yosua_u mengomentari tinggi pagar yang mencapai 177 cm, hampir setara tinggi badan seorang YouTuber terkenal. Ia menilai hal ini akan menjadi ulasan menarik bagi penumpang yang sudah terbiasa tertib.
Akun adiprasetio61 menyampaikan kekhawatirannya bahwa pagar akan cepat rusak. “Sebentar lagi pagar akan rusak, jarak antar besi jadi lebar agar bisa diterobos,” ujarnya.
Beberapa warganet memberikan saran alternatif. Akun muflich32 mempertanyakan mengapa besi pagar tersebut tidak dimanfaatkan untuk membangun jembatan penyeberangan langsung dari pintu stasiun. Usulan serupa juga disampaikan rtnugraha, yang menyarankan pembangunan jembatan agar penumpang tidak perlu memutar.
Di sisi lain, ada pula yang menanggapi dengan nada bercanda atau tantangan. Akun adetuksi menulis “Challenge accepted”, seolah menerima tantangan untuk melewati pagar tinggi tersebut.
Akun teguh_priambodo berkomentar, “Hewan aja paham ama pager walau pendek…”, menyindir perilaku manusia yang masih melanggar aturan meskipun ada pagar.
Beberapa komentar lain menyarankan langkah-langkah kreatif untuk mencegah pelompatan pagar. Akun ranggaiandianto berulang kali menyarankan agar bagian atas pagar diolesi oli agar sulit dipanjat.
Sementara itu, akun johnnykempetofficial menanggapi dengan santai, “Ah 1.7 msh bs gua wkwkwk,” menandakan tinggi pagar tersebut masih bisa dilewati olehnya.
Tak ketinggalan, akun dzarrasviid memberikan komentar bernuansa kritik sosial, “Tengah kota lohhh tapi vibes-nya malah Bangladesh,” mengacu pada kesan semrawut di sekitar stasiun meski berada di pusat ibu kota.
Peninggian pagar di Stasiun Cikini ini menjadi salah satu langkah fisik yang diambil untuk meningkatkan ketertiban dan keamanan di kawasan tersebut. Namun, dari beragam tanggapan yang muncul, terlihat bahwa proyek ini masih menimbulkan perdebatan.
Bagi sebagian orang, pagar tinggi dianggap solusi efektif untuk menghalangi akses ilegal. Namun, bagi yang lain, solusi ini dinilai belum menyentuh akar masalah, yaitu kebiasaan dan perilaku pengguna transportasi yang masih memilih jalur pintas.
Beberapa usulan yang muncul, seperti pembangunan jembatan penyeberangan langsung dari stasiun ke halte TransJakarta, bisa menjadi pertimbangan tambahan. Solusi ini tidak hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi penumpang.
Di sisi lain, komentar-komentar bernada santai maupun candaan menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada aspek teknis seperti tinggi pagar, melainkan pada penegakan aturan dan kesadaran masyarakat.
Penambahan tinggi pagar di Stasiun Cikini setinggi 1,7 meter merupakan upaya nyata untuk menertibkan arus keluar masuk penumpang KRL dan mengurangi kemacetan di area sekitar. Meski masih menuai pro dan kontra, langkah ini menunjukkan komitmen pengelola untuk menciptakan lingkungan transportasi yang lebih aman dan tertib.
Ke depannya, efektivitas langkah ini akan sangat bergantung pada penyelesaian proyek secara menyeluruh, pengawasan ketat, serta edukasi kepada pengguna transportasi agar mematuhi jalur resmi yang telah disediakan. Dengan begitu, diharapkan tujuan awal dari proyek ini dapat tercapai, dan Stasiun Cikini bisa menjadi contoh penataan transportasi yang lebih baik di Jakarta. (Edl).



















