Berita Hukum

Bansos Salah Sasaran, Pegawai BUMN hingga Dokter Masuk Daftar Penerima

438
×

Bansos Salah Sasaran, Pegawai BUMN hingga Dokter Masuk Daftar Penerima

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta , SniperNew.id – Pusat Pela­po­ran dan Anal­i­sis Transak­si Keuan­gan (PPATK) men­e­mukan sejum­lah kejang­galan dalam data pener­i­ma ban­tu­an sosial (ban­sos) yang dia­jukan oleh Kementer­ian Sosial (Kemen­sos). Temuan ini menim­bulkan perbin­can­gan luas di masyarakat, teruta­ma terkait pener­i­ma ban­sos yang terny­a­ta memi­li­ki peng­hasi­lan ting­gi atau latar belakang ekono­mi yang dini­lai mam­pu, Senin (11/08/2025).

Berdasarkan data yang diungkap PPATK, dari 10 juta reken­ing pener­i­ma ban­sos yang dis­er­ahkan oleh Kemen­sos, hanya 8.398.624 reken­ing yang benar-benar ter­buk­ti mener­i­ma ban­sos. Artinya, ter­da­p­at selisih sek­i­tar 1,6 juta reken­ing yang sta­tus­nya patut ditelusuri lebih lan­jut.

Tidak hanya itu, PPATK juga men­e­mukan ribuan pener­i­ma ban­sos berasal dari kelom­pok berpeng­hasi­lan ting­gi. Data yang dirin­ci menun­jukkan adanya 27.932 orang pegawai BUMN, 7.479 orang dok­ter, ser­ta lebih dari 6.000 orang ekseku­tif atau man­a­jer yang ter­catat mener­i­ma ban­sos. Bahkan, ter­da­p­at 60 orang yang memi­li­ki sal­do reken­ing di atas Rp 50 juta.

Temuan lain­nya yang memicu kepri­hati­nan adalah fak­ta bah­wa lebih dari 78.000 pener­i­ma ban­sos dike­tahui seba­gai pemain judi online (judol) aktif. Hal ini memu­nculkan per­tanyaan pub­lik men­ge­nai ketepatan sasaran pro­gram ban­tu­an sosial yang seharus­nya dipe­run­tukkan bagi masyarakat miskin atau tidak mam­pu.

  Kejati Sumsel Geledah Kantor Lurah Terduga Korupsi Pengecoran Jalan RT dan Pembuatan Saluran Drainase

Ung­ga­han infor­masi ini memicu banyak komen­tar dari war­ganet di media sosial. Seba­gian mem­per­tanyakan kebi­jakan pem­bloki­ran reken­ing, semen­tara yang lain mengkri­tik angka sal­do Rp 50 juta seba­gai indika­tor “kaya” yang dini­lai ter­lalu ren­dah untuk men­ja­di acuan.

Seo­rang war­ganet den­gan akun my._.z3n menulis, “Terus kena­pa yang nggak ter­i­ma ban­sos malah diblokir? Berpeng­hasi­lan ting­gi tapi hanya 60 orang sal­do di atas 50 juta. Dia kali yang harus dicuri­gai, dalam hitun­gan tahun kekayaan meningkat 4 mil­iar lebih.”

Peng­gu­na lain, welly.prasetyo, meny­oroti kemam­puan PPATK mela­cak ali­ran dana judi online. “PPATK bisa tahu ali­ran­nya ke judol? Artinya dia paham nomor reken­ingnya, paham sia­pa ban­darnya. Sela­ma ini dib­iarkan ban­darnya tetap mener­i­ma setoran. Artinya ban­darnya dib­iarkan. Artinya… silakan isi sendiri,” tulis­nya.

Kri­tik soal batas sal­do Rp 50 juta juga datang dari akun yoo_nanda yang meni­lai angka terse­but tidak rel­e­van untuk men­gukur kekayaan, apala­gi diband­ingkan den­gan peng­hasi­lan pegawai atau peja­bat. “Sal­do 50 juta diang­gap orang kaya, lah kelom­pok kro­ni mere­ka kayaknya sal­do lebih dari itu. Gaji, tun­jan­gan, keun­tun­gan lain pasti lebih dari itu. Emang nggak ada nurani dan nggak ada otak peja­bat sekarang,” ujarnya.

Banyak war­ganet meni­lai bah­wa temuan PPATK seharus­nya diiku­ti den­gan tin­dakan nya­ta, bukan sekadar pub­likasi data. Akun sai­fu­lan­syarie menulis, “Nga­pain nggak dibekukan dana di bank mas­ing-mas­ing pener­i­ma, lalu diver­i­fikasi lapo­ran income pener­i­ma, bek­er­ja sama den­gan dinas pajak melalui NPWP bersangku­tan. Malah dika­ji-kaji, ujung-ujungnya hilang cuma diu­mumkan, tin­dak lan­jut­nya dite­lan bumi.”

  Polda Sumut Tangkap Wakil Ketua KOTI PP Deli Serdang Dalang Otak Pelaku Pembacokan Jaksa 'JWS'

Peng­gu­na malahayatunr8dwan menam­bahkan bah­wa tugas PPATK adalah meman­tau transak­si men­curi­gakan dan mem­blokir reken­ing terkait tin­dak pidana seper­ti korup­si, bukan reken­ing masyarakat yang tidak terkait masalah hukum.

Seba­gian komen­tar menun­tut transparan­si penuh. Akun ikbalbiel82 mem­inta agar PPATK mem­bongkar nama-nama pener­i­ma ban­sos yang terindikasi menyalah­gu­nakan ban­tu­an. “Sekalian aja pak dibongkar orang-orang yang korup­si, anda beberkan semua, transparan saja umumkan ke pub­lik,” tulis­nya.

Ada pula saran agar ver­i­fikasi dilakukan secara lang­sung. Peng­gu­na yanes_mev meny­atakan, “Masa ada ekseku­tif dan dok­ter yang rumah­nya di kawasan elit ada pro­gram ban­sos? Coba cek data ala­mat rumah, pasti lengkap, datang ke rumah­nya, cek reken­ingnya ada nggak buk­ti trans­fer­nya.”

Semen­tara itu, soerja765 meni­lai langkah blokir reken­ing saja tidak cukup. Menu­rut­nya, jika dite­mukan pener­i­ma yang tidak berhak, dana seharus­nya ditarik kem­bali untuk dis­alurkan kepa­da pihak yang layak. “Itu jauh lebih pro­fe­sion­al dari­pa­da omon-omon,” ujarnya.

Sejum­lah komen­tar meli­hat per­masala­han ini seba­gai cer­mi­nan lemah­nya sis­tem pen­gawasan dan pene­gakan hukum. Akun kayu­bik­i­nan­pa­pa berpen­da­p­at, “Negara ini penuh den­gan korup­si, tapi cuma bisa berkoar dan pene­gakan hukum­nya hanya sam­pai di tingkat bawah saja.”

Ada pula yang men­gusulkan pem­be­na­han kebi­jakan secara menyelu­ruh. Akun tdhe­lick menulis, “Hapuskan semua ban­sos dan sub­si­di, biar raky­at mandiri. Seba­liknya hapus semua pajak, biar pemer­in­tah juga mandiri.”

Peng­gu­na lain, thk1234c, mengkri­tik langkah pem­bloki­ran reken­ing tan­pa dasar yang jelas. “Nih yang harus lo ker­jakan, bukan nut­up reken­ing sem­barangan. Tum­ben otak lo agak-agak waras,” ujarnya.

  Satgas SIRI Kejaksaan Agung Berhasil Amankan Buronan 

Akun ded­dikus­ban­di mem­per­tanyakan tin­dak lan­jut sete­lah temuan PPATK, “Reken­ing mere­ka sudah diblokir belum pak, apa cuma diba­ca doang?” Semen­tara rozis­a­pu­troazie menang­gapi singkat, “Baru tahu pak? Haha­ha.”

Temuan ini menim­bulkan per­tanyaan serius men­ge­nai mekanisme pen­dataan pener­i­ma ban­sos dan pen­gawasan penyalu­ran­nya. Keti­dak­tepatan sasaran dap­at berak­i­bat pada pem­borosan anggaran dan berku­rangnya ban­tu­an bagi masyarakat yang benar-benar mem­bu­tuhkan.

Keter­li­batan kelom­pok berpeng­hasi­lan ting­gi, ter­ma­suk pegawai BUMN, dok­ter, dan ekseku­tif, menun­jukkan adanya poten­si penyalah­gu­naan data atau sis­tem ver­i­fikasi yang lemah. Semen­tara temuan pener­i­ma ban­sos yang aktif bermain judi online juga menam­bah dimen­si per­masala­han, baik dari sisi moral maupun peng­gu­naan dana ban­tu­an.

Sejum­lah pihak meni­lai, langkah per­baikan harus meli­batkan ver­i­fikasi lin­tas lem­ba­ga, ter­ma­suk ker­ja sama den­gan Direk­torat Jen­der­al Pajak untuk memerik­sa data peng­hasi­lan dan kekayaan pener­i­ma. Selain itu, tin­dakan tegas ter­hadap pihak yang ter­buk­ti menyalah­gu­nakan ban­tu­an dini­lai per­lu dilakukan demi men­ja­ga keper­cayaan pub­lik.

Kasus ini kem­bali mengin­gatkan bah­wa pro­gram ban­tu­an sosial yang dib­i­ayai oleh uang negara memer­lukan sis­tem pen­dataan dan pen­gawasan yang ketat. Transparan­si, akunt­abil­i­tas, dan keberan­ian menin­dak pelang­garan men­ja­di kun­ci agar ban­tu­an benar-benar sam­pai kepa­da mere­ka yang berhak.

Pub­lik kini menan­ti langkah konkret dari PPATK dan Kemen­sos, bukan hanya dalam ben­tuk pen­gungka­pan data, tetapi juga tin­dakan nya­ta yang berdampak lang­sung pada pene­gakan kead­i­lan dan pen­gelo­laan ban­tu­an sosial di Indone­sia. (Lin)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *