Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Masyarakat Adat Way Lima Siap Aksi, Tuntut Pengembalian Tanah Ulayat dari PTPN VII

117
×

Masyarakat Adat Way Lima Siap Aksi, Tuntut Pengembalian Tanah Ulayat dari PTPN VII

Sebarkan artikel ini
Saprudin Tanjung, Ketua AMP, memberikan penjelasan tentang perjuangan masyarakat adat Way Lima dalam pengembalian tanah ulayat yang telah dikuasai oleh PTPN VII."

PESAWARAN, SNIPERNEW.id - Masyarakat adat Way Lima yang ter­diri dari berba­gai mar­ga meny­atakan sikap tegas untuk menun­tut pengem­balian tanah ulay­at adat mere­ka yang saat ini dikua­sai oleh PT Perke­bunan Nusan­tara (PTPN) VII Unit Usa­ha Way Lima.

Perny­ataan ini dis­am­paikan dalam acara kon­sol­i­dasi yang diadakan di Sekre­tari­at Alian­si Masyarakat Pesawaran (AMP), Desa Gedong Tataan, Kabu­pat­en Pesawaran, pada Senin (19/01/2026).

Per­wak­i­lan masyarakat adat dari Mar­ga Sebadak, Mar­ga Seputih, dan Mar­ga Seli­mau mengu­mumkan bah­wa mere­ka akan mengge­lar aksi unjuk rasa ke Kan­tor PTPN VII pada Senin, 26 Jan­u­ari 2026 men­datang. Aksi ini seba­gai ben­tuk tun­tu­tan agar tanah ulay­at yang telah mere­ka per­juangkan sela­ma bertahun-tahun dap­at dikem­ba­likan kepa­da masyarakat adat yang berhak.

Dalam kesem­patan terse­but, masyarakat adat secara res­mi mem­berikan kuasa pen­dampin­gan kepa­da sejum­lah tokoh, di antaranya:

  Kapolda Sumut Tinjau Pos Nataru Bandara Kualanamu

1. Saprudin Tan­jung — Ket­ua AMP (Alian­si Masyarakat Pesawaran),

2. Abzari Zahroni — Ket­ua DPP FOKAL (Forum Komu­nikasi Anak Lam­pung),

3. Okvia Niza — Ket­ua DPD IWO-Indone­sia Kabu­pat­en Pesawaran (Ikatan Wartawan Online Indone­sia).

Saprudin Tan­jung, selaku pen­damp­ing masyarakat adat, mene­gaskan komit­men­nya untuk mem­per­juangkan hak-hak masyarakat adat Way Lima.

“Tanah ulay­at adat Mar­ga Way Lima yang selu­as lebih kurang 3.000 hek­tar saat ini dikua­sai oleh PTPN VII secara sepi­hak. Kami sudah berjuang sejak 2018, namun hing­ga kini belum ada respons serius dari pemer­in­tah pusat maupun daer­ah,” ujarnya.

Tan­jung juga menam­bahkan bah­wa masyarakat adat meng­hara­p­kan negara hadir untuk menye­le­saikan kon­flik agraria ini dan memas­tikan hak-hak mere­ka dihor­mati, seba­gaimana dia­manatkan dalam kon­sti­tusi negara.

Abzari Zahroni, Ket­ua FOKAL, meny­oroti per­soalan agraria yang terus berkem­bang di Provin­si Lam­pung, khusus­nya yang meli­batkan masyarakat adat den­gan perusa­haan pemegang Hak Guna Usa­ha (HGU).

“Kami mem­inta pemer­in­tah daer­ah, khusus­nya Guber­nur Lam­pung dan Bupati Pesawaran, untuk segera mener­bitkan Per­at­u­ran Daer­ah (Per­da) yang men­gatur keber­adaan masyarakat adat dan hak ulay­at mere­ka,” ujar Zahroni.

  Pemerataan Infrastruktur di Pesawaran, Mustika Bahrun Targetkan Jalan Kota Dalam - Way Khilau Rampung Ahir 2025

Zahroni juga mem­peringatkan bah­wa jika pemer­in­tah tidak mengam­bil langkah tegas, poten­si kon­flik fisik seper­ti yang per­nah ter­ja­di di Mesu­ji, bisa ter­ja­di lagi.

“Guber­nur Lam­pung harus berko­or­di­nasi den­gan pemer­in­tah pusat untuk mem­per­tim­bangkan penghent­ian HGU bagi perusa­haan yang bermasalah,” tam­bah­nya.

Masyarakat adat mem­perku­at klaim mere­ka den­gan sejum­lah doku­men sejarah yang men­dukung hak ulay­at mere­ka, di antaranya:

1. Surat Belan­da bersegel tahun 1940 men­ge­nai pengem­balian tanah ulay­at adat Mar­ga Way Lima yang sebelum­nya dikon­trakkan pada pemer­in­tah kolo­nial Belan­da.

2. Surat wasi­at Burhanudin, ahli waris Djais (Kha­ja Pena­ta Mar­ga), yang men­je­laskan hak tanah adat yang dis­e­wakan kepa­da Belan­da sek­i­tar tahun 1970-an.

3. Surat pen­je­lasan ten­tang batas dan luas tanah adat yang dis­e­wa atau dikon­trak oleh Belan­da, men­cakup wilayah Way Semah liba sam­pai Gunung Besar Way Kedon­dong.

4. Surat kesep­a­katan antara pemer­in­tah kolo­nial Belan­da dan masyarakat adat terkait kon­trak tanah ulay­at.

Fir­man­syah, ahli waris Djais yang berge­lar Pen­calang Pusa­ka, men­je­laskan bah­wa kon­trak tanah terse­but meru­juk pada Undang-Undang Belan­da tahun 1860 ten­tang ker­a­jaan adat Mar­ga Way Lima. “Doku­men-doku­men ini kini bera­da di tan­gan para ahli waris,” jelas Fir­man­syah.

  303 Warga Pesawaran Terima ATENSI Kemensos

Acara terse­but juga dihadiri oleh sejum­lah Saibatin (tokoh adat), di antaranya:

1. Bus­to­mi S.P — Pemu­ka Agung dari Mar­ga Seputih.

2. Muham­mad Bah­san — Pengikhan Ban­dakh Uta­ma dari Mar­ga Seli­mau.

3. Huzai­ni — Pengikhan Ban­dakh Mar­ga dari Mar­ga Badak.

4. Far­if­ki Zulka­r­naiyen Arif — Sun­tan Jun­jun­gan Makhga dari Mar­ga Badak.

Mere­ka sep­a­kat untuk bersatu dan berjuang bersama dalam mem­per­juangkan pengem­balian tanah ulay­at adat Mar­ga Way Lima.

Okvia Niza, Ket­ua DPD IWO Indone­sia Kabu­pat­en Pesawaran, mene­gaskan bah­wa pihaknya siap men­gaw­al per­juan­gan masyarakat adat ini. “Kami akan terus men­gaw­al dan menyuarakan per­juan­gan ini melalui media, agar dap­at diden­gar oleh pemer­in­tah dan men­da­p­atkan per­ha­t­ian yang serius,” ungkap­nya.

Masyarakat adat Mar­ga Way Lima berharap agar pemer­in­tah daer­ah dan pusat dap­at segera bertin­dak untuk menye­le­saikan per­soalan agraria ini den­gan adil, demi mengem­ba­likan hak ulay­at adat mere­ka yang sela­ma ini ter­abaikan.

Lapo­ran: (Fahrul/Sufi)
Edi­tor: (Iskan­dar)