Depok, SniperNew.id — Sebuah video viral memperlihatkan kondisi Masjid Jami’ Al-Mubaarok di Depok yang digembok dan hanya dibuka saat waktu salat lima waktu. Video ini diunggah oleh akun Facebook OdeZz Khan pada Senin, 23 Juni 2025, yang juga diketahui sebagai mantan marbot masjid tersebut.
Masjid Jami’ Al-Mubaarok kini hanya dibuka saat waktu salat fardhu dan ditutup rapat di luar waktu tersebut. Keputusan ini diambil oleh pengurus masjid karena alasan banyaknya anak-anak yang sering bermain di area masjid. Kebijakan ini menuai kritik dari warganet, khususnya dari mantan marbot yang mengunggah video tersebut.
Mantan marbot sekaligus pengurus masjid yang memutuskan mundur karena tidak sepakat dengan kebijakan penutupan masjid ini adalah sosok utama dalam unggahan tersebut. Ia dikenal aktif menghidupkan kegiatan remaja masjid dan menjadi penggerak aktivitas pemuda di lingkungan sekitar Masjid Jami’ Al-Mubaarok.
Di Mana dan Kapan Kejadian Ini?
Peristiwa ini terjadi di Masjid Jami’ Al-Mubaarok yang berlokasi di Depok, Jawa Barat. Video kondisi masjid yang digembok itu diunggah ke media sosial pada Senin, 23 Juni 2025.
Pengurus masjid beralasan penutupan dilakukan karena banyaknya anak-anak yang menjadikan masjid sebagai tempat bermain. Hal ini dinilai mengganggu ketenangan dan kesakralan tempat ibadah. Namun, kebijakan tersebut justru memicu reaksi negatif dari masyarakat, yang menilai langkah itu terlalu ekstrem dan tidak mendidik.
Dalam video tersebut, mantan marbot menyesalkan keputusan ini. Ia mengungkap bahwa dulunya pengurus masjid sempat bertanya kepadanya, “Bagaimana caranya agar remaja aktif di masjid?” Ironisnya, kini akses ke masjid justru dibatasi. Ia menambahkan, meski ini adalah aib bagi dirinya sebagai mantan bagian dari pengurus, ia berharap dengan menyebarkan kondisi ini, akan ada perubahan di masa depan.
Unggahan ini menuai simpati dari banyak netizen, terutama dari kalangan pegiat dakwah dan pembina remaja masjid. Banyak yang berharap pengurus Masjid Jami’ Al-Mubaarok membuka ruang dialog agar masjid bisa kembali menjadi tempat pembinaan generasi muda, bukan malah menutup akses mereka.













