Berita Ekonomi

Usulan Gerbong Rokok di Kereta Api Picu Pro dan Kontra

622
×

Usulan Gerbong Rokok di Kereta Api Picu Pro dan Kontra

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id  – Wacana penye­di­aan ger­bong khusus merokok di kere­ta api kem­bali men­cu­at sete­lah anggota Komisi VI DPR RI, Nasim Khan, men­gusulkan hal terse­but dalam rap­at ker­ja den­gan Direk­tur Uta­ma PT Kere­ta Api Indone­sia (KAI), Bob­by Rasyidin. Rap­at berlang­sung di Kom­pleks Par­lemen, Senayan, Jakar­ta, pada Rabu (20/8/2025).

Menu­rut Nasim Khan, usu­lan ini lahir dari aspi­rasi para penumpang yang ker­ap melakukan per­jalanan jarak jauh den­gan kere­ta api. Ia meni­lai, seba­gian masyarakat yang ter­biasa merokok merasa kesuli­tan keti­ka men­em­puh per­jalanan pan­jang tan­pa adanya fasil­i­tas yang memadai.

“Banyak penumpang menyam­paikan kepa­da kami, khusus­nya mere­ka yang men­em­puh per­jalanan belasan jam. Mere­ka ingin ada ruang yang bisa menam­pung kebu­tuhan terse­but, sehing­ga tidak meng­gang­gu penumpang lain,” ujar Nasim Khan dalam forum rap­at seba­gaimana diku­tip dari Suara.com.

Dalam ung­ga­han akun media sosial Ban­dung Speak, ter­li­hat poton­gan perny­ataan Nasim Khan yang menye­but, “DPR Usul Ger­bong Per­okok, Alasan­nya Berman­faat untuk Per­jalanan Pan­jang.”

Saat ini, PT KAI men­er­ap­kan atu­ran tegas larangan merokok di selu­ruh rangka­ian kere­ta penumpang. Keten­tu­an itu diatur dalam Per­at­u­ran Menteri Per­hubun­gan Nomor PM 63 Tahun 2019 ten­tang Stan­dar Pelayanan Min­i­mal Angku­tan Orang den­gan Kere­ta Api, ser­ta per­at­u­ran inter­nal perusa­haan.

  BUMDes Nawaripi Jaya Resmi Terdaftar di Kemendes PDTT, Siap Dukung Ekonomi Mimika

Nasim Khan berpen­da­p­at, den­gan adanya ger­bong khusus, PT KAI tetap bisa mene­gakkan atu­ran larangan merokok di area umum, sem­bari mem­beri solusi bagi mere­ka yang ingin merokok. “Kalau ada ruang khusus, penumpang tidak akan sem­barangan merokok di lorong, toi­let, atau pin­tu sam­bun­gan. Jus­tru ini bisa men­gu­ran­gi poten­si pelang­garan atu­ran dan men­ja­ga kenya­manan penumpang lain­nya,” ujarnya.

Mes­ki demikian, perny­ataan terse­but men­u­ai pro dan kon­tra. Seba­gian pihak meni­lai ide itu bisa men­ja­di jalan ten­gah antara kebu­tuhan penumpang per­okok dan kepentin­gan non-per­okok. Namun, tak sedik­it pula yang men­gang­gap usu­lan itu jus­tru mundur ke belakang, mengin­gat tren kebi­jakan pub­lik saat ini cen­derung mem­bat­asi ruang merokok demi melin­dun­gi kese­hatan masyarakat.

Sejak kabar ini beredar, jagat maya ramai mem­bicarakan usu­lan terse­but. Beber­a­pa war­ganet men­gang­gap keber­adaan ger­bong rokok bisa mem­ban­tu penumpang per­okok agar lebih tert­ib. “Kalau memang ada ger­bong khusus, jus­tru lebih enak. Jadi tidak ada lagi yang sem­bun­yi-sem­bun­yi ngerokok di toi­let,” tulis salah satu komen­tar di media sosial.

Namun, di sisi lain, banyak pula yang meny­oroti aspek kese­hatan. Menu­rut mere­ka, penye­di­aan ger­bong rokok jus­tru mem­beri ruang nor­mal­isasi per­i­laku merokok, pada­hal angka per­okok di Indone­sia sudah cukup ting­gi. “Kalau di kere­ta ada ger­bong rokok, kesan­nya merokok itu sesu­atu yang wajar. Pada­hal sekarang banyak negara jus­tru makin ketat melarangnya,” tulis komen­tar lain­nya.

Pakar kese­hatan masyarakat juga angkat bicara. Mere­ka mengin­gatkan bah­wa asap rokok, bahkan di ruang khusus sekalipun, tetap berisiko mence­mari udara di sek­i­tarnya. Ven­ti­lasi dan sis­tem sirku­lasi udara di kere­ta yang ter­tut­up dini­lai bisa mem­bu­at asap menye­bar ke ger­bong lain. “Iso­lasi total itu sulit. Jadi tetap ada risiko bagi penumpang non-per­okok,” ujar salah satu pakar yang dihubun­gi media.

  Panen Patin 5 Bulan Tembus 4 Ton, Kolam Tanah Warga Teluk Mengkudu Jadi Inspirasi Desa

Direk­tur Uta­ma PT KAI, Bob­by Rasyidin, yang hadir dalam rap­at bersama Komisi VI DPR RI terse­but, meny­atakan pihaknya akan men­catat selu­ruh masukan dari anggota dewan. Namun, ia mene­gaskan bah­wa kebi­jakan PT KAI saat ini masih kon­sis­ten men­er­ap­kan larangan merokok di semua area kere­ta penumpang.

“Kami ten­tu menden­gar semua aspi­rasi. Namun, pri­or­i­tas kami tetap men­ja­ga kese­la­matan, kenya­manan, dan kese­hatan selu­ruh penumpang. Atu­ran larangan merokok ini sudah lama dit­er­ap­kan, dan sejauh ini cukup efek­tif,” kata Bob­by.

Menu­rut­nya, seti­ap peruba­han kebi­jakan harus dika­ji secara matang, ter­ma­suk aspek tek­nis, reg­u­lasi, hing­ga biaya inves­tasi. “Kalau bicara ger­bong khusus, artinya ada tam­ba­han biaya untuk mod­i­fikasi rangka­ian, sis­tem ven­ti­lasi, hing­ga pen­gawasan. Itu semua butuh per­tim­ban­gan,” lan­jut­nya.

Isu penye­di­aan ruang khusus merokok di trans­portasi pub­lik bukan hal baru. Di sejum­lah negara, atu­ran jus­tru makin ketat. Jepang, mis­al­nya, yang dulu menye­di­akan ger­bong rokok di kere­ta cepat Shinkansen, kini secara berta­hap meng­ha­pus­nya dan hanya menye­di­akan ruang merokok kecil yang ter­iso­lasi. Semen­tara di Eropa, may­ori­tas negara melarang total aktiv­i­tas merokok di kere­ta.

Di Indone­sia, tren reg­u­lasi kese­hatan juga men­garah pada pem­bat­asan ruang merokok. Per­at­u­ran Daer­ah di banyak kota besar sudah mene­tap­kan kawasan tan­pa rokok (KTR), ter­ma­suk di ter­mi­nal, sta­si­un, dan moda trans­portasi pub­lik.

  Bank Nobu Tawarkan Bonus Saldo Lima Puluh Ribu

Pakar trans­portasi meni­lai, jika usu­lan ger­bong rokok ini benar-benar diper­tim­bangkan, maka aspek kese­la­matan harus jadi pri­or­i­tas. Risiko kebakaran, mis­al­nya, men­ja­di fak­tor kru­sial yang tidak bisa dis­e­pelekan. “Kere­ta api mem­bawa ratu­san penumpang. Api seke­cil apapun di dalam rangka­ian bisa berpoten­si besar menim­bulkan ben­cana. Itu yang harus diper­hi­tungkan serius,” ujar seo­rang analis trans­portasi.

Sejum­lah penga­mat meni­lai, solusi yang lebih real­is­tis adalah menye­di­akan area khusus merokok di sta­si­un, bukan di dalam kere­ta. Den­gan begi­tu, penumpang tetap bisa merokok sebelum berangkat atau saat tran­sit, tan­pa meng­gang­gu kese­la­matan dan kenya­manan di dalam per­jalanan.

“Kalau penumpang men­em­puh per­jalanan pan­jang, kere­ta biasanya berhen­ti di beber­a­pa sta­si­un besar. Di situ bisa diman­faatkan seba­gai momen untuk merokok di area khusus yang dise­di­akan,” kata penga­mat lain.

Usu­lan Nasim Khan pun dini­lai seba­gai reflek­si aspi­rasi masyarakat, namun imple­men­tasinya masih memer­lukan kajian menyelu­ruh. Apakah PT KAI akan men­gubah kebi­jakan atau tetap mem­per­ta­hankan atu­ran larangan merokok, wak­tu yang akan men­jawab.

Wacana ger­bong rokok ini menun­jukkan dile­ma klasik dalam kebi­jakan pub­lik: antara memenuhi aspi­rasi seba­gian kelom­pok dan men­ja­ga kepentin­gan kese­hatan masyarakat luas. Apala­gi, kere­ta api meru­pakan moda trans­portasi mas­sal yang menguta­makan kenya­manan bersama.

Hing­ga kini, PT KAI belum mengam­bil kepu­tu­san terkait usu­lan terse­but. Namun, diskur­sus yang muncul di pub­lik bisa men­ja­di bahan reflek­si bersama: bagaimana seharus­nya fasil­i­tas trans­portasi umum di Indone­sia dikelo­la, agar tetap huma­n­is, sehat, dan aman bagi semua penumpang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *