Jakarta, SniperNew.id – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, kembali mencuri perhatian publik lewat unggahan terbarunya di platform X (dulu Twitter), pada Sabtu (3/8/2025). Dalam unggahan tersebut, Mahfud mengomentari perbincangan hangat antara dua tokoh analisis media dan politik, yakni Reza Indragiri dari MADILOG dan Yan Kurniawan dari Drone Emprit. Postingan Mahfud langsung viral dengan 159 ribu tayangan dalam waktu singkat serta mendapat ribuan interaksi dari warganet, Senin (04/08).
Mahfud membuka postingannya dengan menyebut adanya dua “potong daging” penting yang bisa diambil dari dialog Reza dan Yan. Potongan pertama, menurut Mahfud mengutip Yan, adalah bahwa ini merupakan momen pertama kali dalam sejarah politik Indonesia di mana partai oposisi seperti PDIP tidak beroposisi kepada pemerintahan yang sedang berkuasa (Prabowo Subianto), tetapi justru kepada presiden sebelumnya (Joko Widodo). Dalam konteks ini, Mahfud menyatakan bahwa posisi politik Prabowo justru semakin kuat.
Dalam unggahan tersebut, Mahfud juga menyisipkan potongan gambar video dari forum diskusi yang memperlihatkan wajah Reza Indragiri, Yan Kurniawan, serta beberapa tokoh lainnya, dengan judul mencolok: “Data Publik Bicara: Jokowi Segera Dikucilkan”. Tampak pula kutipan tambahan dari Drone Emprit yang menyebut, “Prabowo satukan musuh, redupkan perpecahan.”
Namun, komentar Mahfud ini langsung menyulut reaksi tajam dari publik. Puluhan ribu tanggapan datang membanjiri unggahan tersebut, mayoritas mempertanyakan motif di balik pernyataannya dan menilai Mahfud sedang mengarah pada sentimen anti-Jokowi.
Respons Publik: Saling Serang dan Sindiran
Salah satu akun bernama @ZDwijo menuliskan, “Sejak kapan korupsi dapat pengampunan Pak Prof Mahfud MD?” menyiratkan kekesalan terhadap sikap Mahfud yang dinilai permisif terhadap isu amnesti yang tengah hangat.
Akun @Jachine_Yasin mengkritik tajam: “Sejarah mencatat. Prabowo adalah presiden terlemah di Indonesia. Semua dirangkul demi stabilitas jabatannya. Musuh-musuh ditaklukkan dengan kue kekuasaan dan ampunan. Negara dalam bahaya jika elit bersekutu tanpa oposisi.”
Sementara itu, @wahyudi… menulis, “Waktu sebelum jadi presiden, dalam kampanye salah bicara akan memburu semua koruptor. Jadi rakyat gak bingung, katanya dari TNI tapi lemah. Siap-siap saja ke depannya, keluarga Jokowi hanya diperalat supaya bisa naik jadi presiden.”
Beberapa komentar bahkan menilai Mahfud masih menyimpan dendam politik kepada Presiden Jokowi. “Jadi konslet gini mpud… Buat apa beroposisi ke presiden sebelumnya.. Blak-blakan aja napa kalau masih sakit hati sama Jokowi,” tulis akun @FerdyChel, yang mengundang puluhan balasan dan ribuan like.
—
Dugaan Motif Politik dan Sindiran Personal
Komentar-komentar berikutnya mulai menyerempet kepada dugaan bahwa Mahfud tengah bermain dalam narasi politik tertentu, mungkin untuk memperkuat pihak-pihak yang sedang ingin memarginalkan Jokowi pasca lengser dari kekuasaan.
Pengguna @Grandong_cucukmaklamu menyatakan: “Sekelas mantan presiden dijadikan oposisi loh. Itu berarti Jokowi begitu hebat. Dan Anda mengakuinya melalui cuitan Anda, Prof.”
Ada pula yang menyindir inkonsistensi Mahfud. “Orang ini kalau ngomong pagi kangkung sore genjer, pagi kedelei sore tempe. Nggak konsisten, dia nggak sadar kalau jejak digital itu masih ada,” cuit akun @purnomo2421.
Tak kalah tajam, @Wayan_og menyebutkan bahwa para “ahli” seperti Mahfud kerap hanya menyuarakan argumen untuk kepentingan kelompok, bukan rakyat. “SEMUANYA DEMI KEPENTINGAN DIRI dan KELOMPOKNYA… untuk RAKYAT nanti saja katanya,” tulisnya getir.
Kritik Terhadap Oposisi PDIP dan Relasi Dengan Jokowi
Pengguna @KenSavitri35075 memberikan perspektif berbeda. Ia menilai bahwa beroposisi terhadap seseorang yang sudah tidak menjabat, dalam hal ini Jokowi, adalah hal yang absurd. “Jokowi tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menentukan kehidupan publik. Tindakan Jokowi apa yang mau dikritisi oleh PDIP?”
Pandangan ini diperkuat oleh akun-akun lain yang menganggap bahwa PDIP kini telah kehilangan arah oposisi dan justru salah sasaran. “Oposisi yang salah arah,” lanjutnya.
Dukungan Kepada Jokowi dan Sindiran untuk Mahfud
Menariknya, sebagian netizen justru menunjukkan kesetiaan politik yang masih tinggi terhadap mantan Presiden Joko Widodo. Seperti akun @ChSitum yang menegaskan: “Kami masih setia sama Pak @jokowi sampai nanti 2029 bahkan setelahnya. Benahi cara berpolitik Anda, siapa tahu 2029 masih ada yang lirik meski berat.”
Sementara itu, akun @legod0965 membandingkan Mahfud dengan tokoh-tokoh yang dianggap “oposan profesional.” Ia menulis, “Saya perhatikan lama-lama bapak seperti Roy Suryo, Risman, Ikrar Nusa Bhakti, dll.” Komentarnya mempertegas adanya persepsi bahwa Mahfud kini lebih banyak mengkritik dibanding memberi solusi.
Isu Hukum dan Amnesti Muncul di Balik Oposisi
Akhir dari diskusi ini menyentuh isu yang lebih serius: amnesti dan abolisi terhadap tokoh-tokoh politik. Akun @l0nes0… mencermati: “Amnesti untuk Hasto & abolisi untuk Tom Lembong tampak seperti dua kasus terpisah. Tapi kalau diperhatikan, ini adalah manuver politik yang perlu diawasi.”
Isu ini mengisyaratkan bahwa publik semakin sadar bahwa ada permainan kekuasaan di balik keputusan hukum. Mahfud, dengan kapasitasnya sebagai mantan menteri dan akademisi, dituntut memberikan penjelasan yang lebih gamblang dan objektif, bukan sekadar menyulut api opini publik.
Kesimpulan: Unggahan Mahfud MD di platform X menjadi semacam katalis dalam perdebatan panjang mengenai arah oposisi, peran PDIP, serta nasib politik Jokowi pasca kekuasaan. Respons dari warganet mencerminkan kekhawatiran, kemarahan, hingga sinisme terhadap elit politik yang dinilai kehilangan arah dan hanya berfokus pada agenda kekuasaan semata.
Apakah Mahfud benar bahwa Prabowo kini makin kuat karena oposisi justru diarahkan ke Jokowi? Atau justru ini sinyal bahwa konstelasi politik Indonesia tengah mengalami disorientasi serius?
Satu hal yang pasti, rakyat tidak tinggal diam. Mereka bersuara lantang di ruang digital, meski elite terus bermain catur di balik layar. Editor: (Ahmad)













