Terupdate

JAM-Pidum Prof. Dr. Asep Nana Mulyana Terapkan Keadilan Restoratif pada Perkara Penadahan di Rokan Hilir

294
×

JAM-Pidum Prof. Dr. Asep Nana Mulyana Terapkan Keadilan Restoratif pada Perkara Penadahan di Rokan Hilir

Sebarkan artikel ini

SNIPERNEW.ID | JAKARTA,-Rabu 18 Sep­tem­ber 2024, Jak­sa Agung RI melalui Jak­sa Agung Muda Tin­dak Pidana Umum (JAM-Pidum) Prof. Dr. Asep Nana Mulyana memimpin ekspose dalam rang­ka menyetu­jui 6 per­mo­ho­nan penye­le­sa­ian perkara berdasarkan mekanisme Restora­tive Jus­tice (kead­i­lan restoratif).

Ada­pun salah satu perkara yang dis­e­le­saikan melalui mekanisme kead­i­lan restoratif yaitu Mulya­di Nasu­tion alias Mul dari Kejak­saan Negeri Samarin­da, yang disang­ka melang­gar Pasal 480 ke‑1 KUHP ten­tang Penada­han.

Kro­nolo­gi terse­but ter­ja­di pada hari Rabu tang­gal 26 Juni 2024 seki­ra pukul 19.30 WIB, Ter­sang­ka yang sedang bera­da di rumah­nya yang berala­mat di Dusun Tiga Belas Desa Ban­dar Sari Keca­matan Sim­pang Empat Kabu­pat­en Asa­han didatan­gi oleh Sdr. Nanang (DPO) untuk men­jual 1 (satu) unit Hand­phone android merek INFINIX SMART 6 war­na hitam kom­bi­nasi war­na biru tan­pa kotak ataupun kwin­tan­si pem­be­lian, yang mana Hand­phone terse­but meru­pakan milik Sak­si Eva Soli­na Sir­ait yang diam­bil tan­pa izin oleh Sdr. Nanang (DPO).

  Bara Rokok Picu Kebakaran Petasan, Detik-Detik Mencekam Terekam Video

Kemu­di­an Sdr. Nanang (DPO) menawarkan hand­phone terse­but kepa­da Ter­sang­ka den­gan har­ga Rp 200.000 (dua ratus ribu rupi­ah), namun Ter­sang­ka tidak memi­li­ki uang den­gan nilai terse­but, lalu Ter­sang­ka menyang­gupi per­mintaan Sdr. Nanang (DPO) untuk mem­be­li Hand­phone terse­but den­gan har­ga Rp 150.000 (ser­a­tus lima puluh ribu rupi­ah).

Kemu­di­an Sdr. Nanang (DPO) menyetu­jui pem­be­lian hand­phone den­gan har­ga terse­but ser­ta meny­er­ahkan 1 (satu) unit Hand­phone android merek INFINIX SMART 6 war­na hitam kom­bi­nasi war­na biru tan­pa kotak ataupun kwin­tan­si pem­be­lian kepa­da Ter­sang­ka.

Bah­wa sep­a­tut­nya hand­phone terse­but diduga meru­pakan hasil keja­hatan kare­na dijual tan­pa kelengka­pan seper­ti kotak dan kwi­tan­si pen­jualan ser­ta den­gan har­ga yang tidak wajar.

Aki­bat per­bu­atan Ter­sang­ka, Sak­si Kor­ban Eva Soli­na Sir­ait men­gala­mi keru­gian sebe­sar Rp 1.500.000 (satu juta lima ratus ribu rupi­ah).

Menge­tahui kasus posisi terse­but, Kepala Kejak­saan Negeri Rokan Hilir Andi Adikawira Put­era, S.H., M.H.dan Kasi Pidum Lita War­man, S.H.,M.H.serta Jak­sa Fasil­i­ta­tor Gen­ta Patri Putra, S.H., Hade Rach­mat Daniel, S.H., M.H., dan Nadi­ni Cista, S.H.menginisiasikan penye­le­sa­ian perkara ini melalui mekanisme restora­tive jus­tice.

Dalam pros­es per­dama­ian, Ter­sang­ka men­gakui dan menye­sali per­bu­atan­nya ser­ta mem­inta maaf kepa­da Kor­ban. Sete­lah itu, Kor­ban mener­i­ma per­mintaan maaf dari Ter­sang­ka dan juga mem­inta agar pros­es hukum yang sedang dijalani oleh Ter­sang­ka dihen­tikan.

  Parkir Liar Warnai Pergantian Tahun Baru Medan

Usai ter­ca­painya kesep­a­katan per­dama­ian, Kepala Kejak­saan Negeri Rokan Hilir men­ga­jukan per­mo­ho­nan penghent­ian penun­tu­tan berdasarkan kead­i­lan restoratif kepa­da Kepala Kejak­saan Ting­gi Riau.

Sete­lah mem­pela­jari berkas perkara terse­but, Kepala Kejak­saan Ting­gi Riau Akmal Abbas, S.H., M,H. sepen­da­p­at untuk dilakukan penghent­ian penun­tu­tan berdasarkan kead­i­lan restoratif dan men­ga­jukan per­mo­ho­nan kepa­da JAM-Pidum dan per­mo­ho­nan terse­but dis­e­tu­jui dalam ekspose Restora­tive Jus­tice yang dige­lar pada Rabu, 18 Sep­tem­ber 2024.

Selain itu, JAM-Pidum juga menyetu­jui 5 perkara lain melalui mekanisme kead­i­lan restoratif, ter­hadap ter­sang­ka:

Ter­sang­ka Hen­dra bin H. Rus­tan dari Kejakasaan Negeri Samarin­da, yang disang­ka melang­gar Pasal 480 Ayat (1) KUHP ten­tang Penada­han.

Ter­sang­ka Fitri Sahrul Gunawan als Alung bin Kadri Bus­rah dari Kejak­saan Negeri Nunukan, yang disang­ka melang­gar Pasal 351 Ayat (1) KUHP ten­tang Pen­ga­ni­ayaan

Ter­sang­ka Ivan Facr­i­al Fuji Muchsin bin Al Juman dari Kejak­saan Negeri Samarin­da, yang disang­ka melang­gar Pasal 44 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 2004 ten­tang Peng­ha­pu­san Kek­erasan Dalam Rumah Tang­ga.

Ter­sang­ka Rah­mat Hiday­at Hura dari Kejak­saan Negeri Rokan Hulu, yang disang­ka melang­gar Pasal 44 Ayat (1) Jo Pasal 5 huruf a dari Undang-Undang Repub­lik Indone­sia Nomor 23 tahun 2004 ten­tang Peng­ha­pu­san Kek­erasan Dalam Rumah Tang­ga.

  Jejak Tiket Kuning Menuju Gerbang Profesionalisme Jurnalistik

Ter­sang­ka Mar­gan­da Tua Pasaribu bin Par­laun­gan Pasaribu dari Kejakasaan Negeri Kam­par, yang disang­ka melang­gar Pasal 351 Ayat (1) KUHP Pen­ga­ni­ayaan.

Alasan pem­ber­ian penghent­ian penun­tu­tan berdasarkan kead­i­lan restoratif ini diberikan antara lain:

Telah dilak­sanakan pros­es per­dama­ian dimana Ter­sang­ka telah mem­inta maaf dan kor­ban sudah mem­berikan per­mo­ho­nan maaf,Tersangka belum per­nah dihukum;

Ter­sang­ka baru per­ta­ma kali melakukan per­bu­atan pidana;

Anca­man pidana den­da atau pen­jara tidak lebih dari 5 (lima) tahun;Tersangka ber­jan­ji tidak akan lagi men­gu­lan­gi per­bu­atan­nya;

Pros­es per­dama­ian dilakukan secara sukarela den­gan musyawarah untuk mufakat, tan­pa tekanan, pak­saan, dan intim­i­dasi;

Ter­sang­ka dan kor­ban setu­ju untuk tidak melan­jutkan per­masala­han ke per­si­dan­gan kare­na tidak akan mem­bawa man­faat yang lebih besar,Pertimbangan sosiologis,Masyarakat mere­spon posi­tif.

Selan­jut­nya, JAM-Pidum memer­in­tahkan kepa­da Para Kepala Kejak­saan Negeri untuk mener­bitkan Surat Kete­ta­pan Penghent­ian Penun­tu­tan (SKP2) Berdasarkan Kead­i­lan Restoratif sesuai Per­at­u­ran Kejak­saan Repub­lik Indone­sia Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tang­gal 10 Feb­ru­ari 2022 ten­tang Pelak­sanaan Penghent­ian Penun­tu­tan Berdasarkan Kead­i­lan Restoratif seba­gai per­wu­ju­dan kepas­t­ian hukum.(Roni)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *