Berita Lifestyle

Inspirasi dari Balik Jeruji: Ribuan Warga Binaan Lapas Warungkiara Temukan Kedamaian dalam Kegiatan Keagamaan Bersama FPII

257
×

Inspirasi dari Balik Jeruji: Ribuan Warga Binaan Lapas Warungkiara Temukan Kedamaian dalam Kegiatan Keagamaan Bersama FPII

Sebarkan artikel ini

Suk­abu­mi, SniperNew.id – Suasana Masjid Al-Himayah di Lem­ba­ga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warungkiara, Suk­abu­mi, tam­pak berbe­da pada Jumat (29/8/2025). Sejak pagi, ribuan war­ga binaan den­gan paka­ian rapi dan wajah penuh harap berbon­dong-bon­dong menu­ju masjid untuk melak­sanakan salat Jumat ber­ja­maah.

Kegiatan ini bukan sekadar ibadah rutin, tetapi momen­tum pem­bi­naan spir­i­tu­al yang sarat mak­na, sekali­gus buk­ti komit­men Lapas Warungkiara dalam mengede­pankan nilai-nilai keaga­maan seba­gai bagian pent­ing dari pros­es pemasyarakatan.

Kehadi­ran tokoh-tokoh pent­ing, seper­ti Dewan Pakar Forum Pers Inde­pen­dent Indone­sia (FPII) Adv. Lilik Adi Gunawan, S.H., bersama Kepala Lapas Warungkiara Pan­ji Kur­nia Pamekas dan jajaran, menam­bah bobot acara terse­but. Kegiatan ini men­ja­di oase kete­nan­gan di ten­gah keter­batasan, meng­hadirkan seman­gat baru bagi war­ga binaan untuk terus mem­per­bai­ki diri.

Khut­bah Jumat yang dis­am­paikan oleh Ustadz Drs. Sai­ful Bahri, S.S., anggota Pre­sid­i­um FPII sekali­gus alum­ni Pon­dok Pesantren Yapink Tam­bun, Bekasi, berhasil mengge­tarkan hati para jamaah. Dalam ceramah­nya, beli­au menekankan pent­ingnya men­jadikan masa di balik jeru­ji seba­gai kesem­patan emas untuk intro­speksi dan hijrah menu­ju prib­a­di yang lebih baik.

Jadikan seti­ap detik di tem­pat ini seba­gai pengin­gat, bah­wa Allah SWT selalu mem­beri kesem­patan ked­ua. Bukan sema­ta huku­man, tetapi jalan untuk mem­per­bai­ki diri,” ujar Ustadz Sai­ful penuh ket­e­duhan.

Suasana masjid yang penuh khid­mat mem­bu­at banyak jamaah ter­haru. Beber­a­pa war­ga binaan tam­pak menun­dukkan kepala, tak kuasa mena­han air mata. Kehadi­ran Ustadz Sai­ful tidak hanya mem­berikan pencer­a­han spir­i­tu­al, tetapi juga seman­gat hidup untuk men­jalani hari-hari di balik jeru­ji den­gan penuh keikhlasan dan kesabaran.

  Syukur dan Haru di Margakaya: Aqiqah dan Ulang Tahun ke-4 Abira Ozil Attariq Numberi

Salah satu sorotan uta­ma kegiatan ini adalah kehadi­ran Dewan Pakar FPII, Adv. Lilik Adi Gunawan, S.H. Dalam sambu­tan­nya, ia menyam­paikan bah­wa pem­bi­naan keaga­maan di Lapas adalah langkah nya­ta dalam mem­ban­gun karak­ter dan moral para war­ga binaan.

“Kegiatan seper­ti ini men­ja­di buk­ti bah­wa Lapas bukan hanya tem­pat men­jalani huku­man, tetapi juga wadah pem­bi­naan yang mem­per­si­ap­kan nara­p­i­dana kem­bali ke masyarakat den­gan lebih baik. Saya berharap kegiatan posi­tif ini terus ber­jalan dan mem­bawa man­faat luas,” ujar Lilik.

Lilik juga mene­gaskan pent­ingnya dukun­gan masyarakat ter­hadap pros­es pemasyarakatan. Menu­rut­nya, stig­ma sosial yang ker­ap melekat pada man­tan nara­p­i­dana bisa dipatahkan jika pros­es pem­bi­naan dijalankan secara serius dan berkesinam­bun­gan.

Kepala Lapas Kelas IIA Warungkiara, Pan­ji Kur­nia Pamekas, tak lupa mem­berikan apre­si­asi ting­gi atas dukun­gan FPII. Pan­ji mene­gaskan bah­wa pro­gram pem­bi­naan spir­i­tu­al adalah salah satu fokus uta­ma Lapas Warungkiara.

Dukun­gan dari berba­gai pihak, ter­ma­suk FPII, semakin mem­perku­at pro­gram pem­bi­naan kami. Tujuan kami adalah mem­per­si­ap­kan war­ga binaan agar kem­bali ke masyarakat den­gan keimanan dan akhlak yang lebih baik. Kehadi­ran tokoh-tokoh masyarakat men­ja­di moti­vasi luar biasa bagi mere­ka,” ujar Pan­ji.

Pan­ji juga menyam­paikan bah­wa pem­bi­naan keaga­maan tidak hanya berdampak posi­tif pada men­tal war­ga binaan, tetapi juga pada sta­bil­i­tas kea­manan di dalam lapas. Kegiatan religius ter­buk­ti mam­pu men­cip­takan suasana kon­dusif, mem­perku­at rasa keber­samaan, dan men­gu­ran­gi poten­si kon­flik antar war­ga binaan.

Di ten­gah keter­batasan, kegiatan keaga­maan ini men­ja­di sum­ber kete­nan­gan bagi banyak war­ga binaan. Beber­a­pa di antaranya men­gaku merasa lebih damai dan opti­mistis sete­lah mengiku­ti khut­bah.

  Ivanka Trump Ungkap Buku Inspiratif Pembentuk Perspektif 2025

“Saya merasa seper­ti men­da­p­at ener­gi baru. Di sini kami bela­jar sabar, ikhlas, dan berusa­ha men­ja­di orang yang lebih baik,” ujar salah satu war­ga binaan den­gan mata berka­ca-kaca.

Kegiatan ini juga men­ja­di ruang reflek­si bagi para nara­p­i­dana untuk mere­nun­gi kesala­han masa lalu dan menat­ap masa depan den­gan lebih bijak. Suasana masjid yang tert­ib, doa bersama untuk bangsa, dan keber­samaan dalam ibadah men­ja­di momen spir­i­tu­al yang men­guatkan tekad untuk berubah.

Trans­for­masi Lapas Warungkiara men­ja­di lem­ba­ga pem­bi­naan yang huma­n­is patut diapre­si­asi. Masjid Al-Himayah, yang men­ja­di pusat kegiatan keaga­maan, bukan hanya sekadar tem­pat ibadah, tetapi juga sim­bol hara­pan bagi war­ga binaan.

Kegiatan ini mencer­minkan pen­dekatan reha­bil­i­tatif dalam sis­tem pemasyarakatan Indone­sia, di mana nara­p­i­dana diper­lakukan bukan hanya seba­gai pelang­gar hukum, tetapi juga indi­vidu yang memi­li­ki hak untuk men­da­p­atkan pem­bi­naan moral dan spir­i­tu­al.

Den­gan pro­gram-pro­gram seper­ti pem­bi­naan keaga­maan, keter­ampi­lan ker­ja, hing­ga pem­bi­naan men­tal, Lapas Warungkiara beru­paya menc­etak war­ga binaan yang siap kem­bali ke masyarakat den­gan bekal posi­tif.

Keter­li­batan FPII dalam kegiatan ini menun­jukkan pent­ingnya sin­er­gi antara lem­ba­ga pemasyarakatan, tokoh masyarakat, dan media. Seba­gai organ­isasi pers inde­pen­den, FPII berper­an aktif dalam menge­dukasi masyarakat agar lebih bijak menyikapi isu-isu sep­utar pemasyarakatan.

“Stig­ma negatif ter­hadap man­tan nara­p­i­dana masih san­gat kuat di masyarakat. Media pun­ya per­an besar untuk mem­ban­tu mere­ka diter­i­ma kem­bali. Kami berharap pub­lik meli­hat bah­wa pem­bi­naan di Lapas Warungkiara benar-benar ber­jalan,” kata salah satu anggota FPII yang hadir.

Den­gan adanya liputan dan dukun­gan media, pesan posi­tif dari kegiatan ini dap­at menye­bar luas, men­gin­spi­rasi masyarakat untuk men­dukung pros­es rein­te­grasi sosial bagi war­ga binaan.

Di ten­gah panas­nya isu-isu sosial dan hukum, kegiatan seper­ti ini men­ja­di pengin­gat bah­wa nilai kemanu­si­aan harus tetap dijun­jung ting­gi. Ribuan war­ga binaan yang berkumpul di Masjid Al-Himayah untuk berib­adah bersama mem­buk­tikan bah­wa mes­ki hidup dalam keter­batasan, seman­gat untuk mendekatkan diri kepa­da Sang Pen­cip­ta tidak per­nah padam.

  Erick Thohir Apresiasi Ibu Indonesia dan Atlet Perempuan

Peman­dan­gan jamaah yang memenuhi masjid, lan­tu­nan doa yang khusyuk, ser­ta raut wajah yang penuh hara­pan men­cip­takan suasana yang mengge­tarkan hati sia­pa pun yang hadir. Bagi seba­gian war­ga binaan, Jumat ini men­ja­di titik balik dalam per­jalanan hidup mere­ka.

Kegiatan keaga­maan di Lapas Warungkiara mem­berikan pela­jaran pent­ing bah­wa pem­bi­naan bukan sekadar ten­tang disi­plin, tetapi juga ten­tang mem­bangk­itkan kesadaran spir­i­tu­al. Inisi­atif ini bukan hanya berdampak pada indi­vidu, tetapi juga mem­perku­at cit­ra posi­tif lem­ba­ga pemasyarakatan seba­gai insti­tusi yang mem­bi­na, bukan sekadar menghukum.

Di ten­gah tan­ta­n­gan mod­ernisasi sis­tem hukum dan pemasyarakatan, pen­dekatan berba­sis aga­ma dan nilai moral men­ja­di solusi efek­tif untuk menc­etak indi­vidu yang lebih siap meng­hadapi kehidu­pan sete­lah bebas. Masjid Al-Himayah men­ja­di sak­si bisu per­jalanan spir­i­tu­al ribuan war­ga binaan yang ten­gah berusa­ha mena­pa­ki jalan baru.

Sha­lat Jumat yang berlang­sung den­gan tert­ib dan khid­mat ini diakhiri den­gan doa bersama untuk kese­la­matan bangsa, kelu­ar­ga para war­ga binaan, ser­ta keberka­han bagi selu­ruh penghu­ni Lapas Warungkiara. Dukun­gan dari tokoh aga­ma, FPII, dan pihak lapas men­ja­di ener­gi baru bagi para war­ga binaan untuk terus mem­per­bai­ki diri.

Kegiatan seper­ti ini bukan hanya sekadar ruti­ni­tas, tetapi men­ja­di sarana meng­ha­pus sekat antara dunia luar dan dalam lapas. Di balik jeru­ji besi, seman­gat untuk berubah tetap berko­bar, dan kegiatan keaga­maan men­ja­di pengin­gat bah­wa seti­ap manu­sia selalu memi­li­ki kesem­patan ked­ua.

Penulis: (Sufiyawan)

Sum­ber: Pre­sid­i­um Forum Pers Inde­pen­dent Indone­sia (FPII)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *