Jakarta, SniperNew.id — Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Jakarta Pusat, atau yang lebih dikenal dengan Rutan Salemba, kembali menegaskan komitmennya menghadirkan pembinaan holistik bagi warga binaan. Kali ini, sinergi diwujudkan melalui kunjungan Ketua Presidium Forum Pers Independent Indonesia (FPII),
Dra. Kasihhati, bersama jajaran dan Dewan Pers Independen (DPI) yang sekaligus membawa misi syiar dan dakwah.
Kunjungan yang berlangsung pada Kamis (4/8/2025) tersebut disambut langsung oleh Kepala Rutan (Karutan) Kelas I Jakarta Pusat, Wahyu Trah Utomo. Meski di tengah kesibukan padat, Wahyu menyempatkan diri menerima rombongan di ruang kerjanya. Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan momentum penting yang diharapkan menjadi awal kolaborasi positif antara media independen, lembaga dakwah, dan institusi pemasyarakatan.
Dalam keterangannya kepada awak media, Ketua Presidium FPII, Dra. Kasihhati, menekankan pentingnya menghadirkan berita-berita positif terkait kegiatan warga binaan. Menurutnya, masyarakat kerap hanya mengenal rutan sebagai tempat yang sarat stigma negatif. Padahal, banyak program pembinaan produktif dan keagamaan yang layak mendapat sorotan.
“Melalui kunjungan ini, kami ingin memperlihatkan kepada publik bahwa rutan bukan hanya tentang jeruji besi dan hukuman. Ada proses pembinaan, bimbingan kerja, hingga program ketahanan pangan yang disiapkan untuk masa depan para warga binaan. Itulah kabar baik yang ingin kami terus suarakan,” ujar Kasihhati.
Ia mencontohkan, program Bimbingan Kerja (Bimker) serta ketahanan pangan yang berjalan di Rutan Kelas I Jakarta Pusat menjadi bukti nyata. Program ini dirancang agar warga binaan memiliki bekal keterampilan dan kemandirian ketika kembali ke masyarakat setelah menyelesaikan masa hukumannya.
Kunjungan kali ini tak sekadar membawa perspektif jurnalistik. FPII juga menghadirkan peran dakwah melalui kehadiran Ustadz Drs. Saiful Bahri, S.S., yang merupakan Anggota Presidium FPII Bidang Syiar dan Dakwah. Ia berkomitmen mendukung program pembinaan keagamaan di dalam rutan.
Dewan Pakar FPII sekaligus Pengawas Dewan Pers Independen, Adv. Lilik Adi Gunawan, S.H., menegaskan bahwa FPII tidak hanya berhenti sebagai organisasi pers. Lebih dari itu, FPII ingin berkontribusi dalam pembinaan rohani Islam warga binaan.
“FPII punya tanggung jawab moral, tidak hanya mengabarkan berita positif, tetapi juga ikut andil dalam kegiatan syiar dan dakwah. Dengan begitu, warga binaan bisa mendapatkan sentuhan spiritual yang menjadi bekal penting untuk perubahan hidup mereka setelah keluar nanti,” tutur Lilik.
Mendengar komitmen tersebut, Karutan Kelas I Jakarta Pusat, Wahyu Trah Utomo, menyampaikan apresiasi. Baginya, dukungan eksternal dari berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi pers independen, sangat penting untuk memperkuat pembinaan di dalam rutan.
“Kami berterima kasih atas kunjungan Ketua Presidium FPII beserta jajaran. Semoga sinergi ini terus berlanjut, sehingga masyarakat bisa mendapatkan informasi yang berimbang dari sumber yang dapat dipercaya,” ungkap Wahyu.
Ia menambahkan, inovasi yang dibawa FPII melalui bidang syiar dan dakwah merupakan langkah positif. Menurut Wahyu, kolaborasi tersebut akan memberi warna baru dalam menghadirkan pembinaan yang responsif, humanis, serta sesuai dengan prinsip pelayanan prima.
“Terobosan seperti ini sangat kami apresiasi. Kami akan memberi ruang bagi kolaborasi ini agar bisa berjalan berkesinambungan. Tujuan kami sama, yaitu memastikan warga binaan mendapatkan pembinaan rohani yang memadai sehingga siap kembali ke masyarakat,” tegasnya.
Pembinaan rohani Islam di lingkungan pemasyarakatan bukanlah hal baru. Namun, keberlanjutan dan kualitasnya sangat bergantung pada kerja sama antara pihak internal dan eksternal. Dengan hadirnya dukungan FPII, diharapkan program syiar dan dakwah di Rutan Kelas I Jakarta Pusat semakin terstruktur dan berdaya guna.
Para warga binaan selama ini mengikuti berbagai kegiatan keagamaan seperti kajian Islam, shalat berjamaah, dan pengajian rutin. Namun, adanya kolaborasi dengan tokoh-tokoh dari luar lembaga memberikan warna berbeda. Mereka bisa mendapatkan perspektif baru, motivasi tambahan, serta bimbingan spiritual yang lebih mendalam.
“Agama sering kali menjadi pintu masuk utama bagi warga binaan untuk memperbaiki diri. Dari yang tadinya hilang arah, kemudian menemukan ketenangan batin, hingga bertekad meninggalkan masa lalu yang kelam. Itulah kenapa pembinaan rohani menjadi sangat vital,” ujar Saiful Bahri saat berbincang singkat dengan tim media.
Selain fokus pada dakwah, Kasihhati menyoroti tanggung jawab besar pers dalam menyajikan berita yang berimbang. Ia menyebut, FPII sebagai organisasi pers independen berkomitmen mendukung narasi positif.
“Jika publik hanya disuguhi berita tentang kasus kriminal warga binaan, tentu citra rutan akan selalu buruk. Padahal, ada banyak prestasi, keterampilan, bahkan produk hasil kerja warga binaan yang patut dipublikasikan. Itulah yang akan terus kami dorong,” kata Kasihhati.
Ia juga mengingatkan, informasi yang benar dan berimbang sangat penting agar masyarakat tidak sekadar menilai warga binaan dari kesalahannya. Lebih dari itu, masyarakat juga harus melihat perjuangan mereka untuk berubah.
Kunjungan FPII ke Rutan Salemba ini menandai langkah awal sinergi yang lebih besar. Baik dari sisi publikasi kegiatan positif maupun dari pembinaan rohani Islam. Karutan Wahyu menegaskan bahwa pihaknya membuka pintu selebar-lebarnya bagi kolaborasi serupa dengan berbagai organisasi yang memiliki visi membangun.
“Harapan kami, hubungan dengan FPII terus terjalin harmonis. Kolaborasi ini bisa memperkuat pembinaan sekaligus memperbaiki citra rutan di mata publik,” ujar Wahyu.
Sinergi ini diharapkan bukan hanya memberi manfaat bagi warga binaan selama di dalam rutan, melainkan juga mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan pasca-pembebasan. Dengan bekal keterampilan kerja, ketahanan pangan, dan penguatan spiritual, mereka diharapkan dapat kembali ke masyarakat dengan identitas baru: pribadi yang lebih baik, produktif, dan bermanfaat.
Kunjungan FPII ke Rutan Kelas I Jakarta Pusat menjadi bukti bahwa pembinaan warga binaan adalah tanggung jawab bersama. Lembaga pemasyarakatan tidak bisa berjalan sendiri. Perlu ada sinergi dari berbagai pihak, termasuk media independen, tokoh agama, hingga masyarakat luas.
Langkah yang dilakukan FPII — menggabungkan peran pers dan dakwah — adalah terobosan unik. Bukan hanya sekadar menyuarakan kabar positif, tetapi juga terjun langsung mendukung pembinaan mental dan spiritual.
Sebagaimana dikatakan Karutan Wahyu, pembinaan yang responsif dan humanis adalah kunci. Dengan kolaborasi seperti ini, harapan akan lahirnya generasi baru dari balik jeruji besi bukanlah sekadar wacana, melainkan kenyataan yang bisa diwujudkan. (Sufiyawan)













