Jakarta, SniperNew.id — Dikutip dari unggahan akun media sosial Jenewainspirasi, Sabtu (08/11/2025), Menteri Koperasi dan UKM Maman Abdurrahman menyampaikan kekesalannya setelah menemukan jilbab impor asal China dijual dengan harga hanya Rp2.000 per potong di Indonesia. Maman menilai harga supermurah itu tidak masuk akal dan berpotensi mematikan pelaku UMKM lokal, khususnya pengrajin busana muslim dalam negeri, Sabtu (09/11/2025).
Ia menduga adanya praktik impor ilegal yang menyebabkan produk luar bisa masuk dengan harga tidak wajar. Karena itu, Maman meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap barang impor dan menegaskan pentingnya melindungi produk lokal agar tidak kalah bersaing di pasar dalam negeri.
Unggahan tersebut juga menuai berbagai tanggapan dari warganet. Akun @kloetox menulis bahwa di China, penjahit kecil tidak dikenakan pajak karena biaya hidup mereka ditanggung pemerintah. Sementara @eko.rianto.908 menyebut bahwa konsumen berpenghasilan UMR hanya mampu membeli produk murah seperti jilbab impor tersebut, bukan karena tidak mencintai produk lokal, tetapi karena keterbatasan ekonomi.
Komentar lain datang dari @r.gregorius yang menilai seharusnya menteri dapat menghentikan atau melarang masuknya produk impor murah, bukan hanya menyatakan kegeraman. Sedangkan @de_ariaa, pelaku usaha konveksi gamis muslim, mengaku usahanya ambruk sejak maraknya penjualan murah di platform seperti TikTok dan Shopee.
Akun @sukma_ammrya berpendapat bahwa yang sebenarnya mematikan UMKM bukanlah baju bekas, melainkan produk impor murah dari China. Ia menjelaskan bahwa murahnya harga produk China disebabkan oleh dukungan besar pemerintah mereka seperti subsidi gaji, listrik murah, dan bebas pajak. Hal senada disampaikan @erzv_entertainment_yt yang menyarankan agar pemerintah Indonesia meniru langkah China dengan memberi subsidi besar kepada pelaku UMKM.
Sementara itu, @ifadha_ameen menyinggung banyaknya barang impor karena kemudahan akses bagi pelaku usaha asal China, dan @antoniuswu21 menyoroti perlunya perlindungan tegas bagi produsen lokal agar tidak ditekan pungutan liar dan premanisme di lapangan.
Fenomena ini memicu perdebatan luas di dunia maya mengenai kesenjangan harga antara produk impor dan lokal, serta pentingnya keberpihakan pemerintah terhadap keberlangsungan UMKM di Indonesia.
Sumber: jenewainspirasi via pittravelers_idn — Dikutip oleh media online snipernew.id, Sabtu (08/11/2025).: Penulis Iskandar.













