Berita Daerah

Cak Ji Tanggapi Masalah Koperasi: Harap Ada Pengembalian Aset Setelah Utang Lunas

503
×

Cak Ji Tanggapi Masalah Koperasi: Harap Ada Pengembalian Aset Setelah Utang Lunas

Sebarkan artikel ini

Surabaya, SniperNew.id — Wak­il Wali Kota Surabaya, Armu­ji atau yang akrab dis­apa Cak Ji, menang­gapi lapo­ran dari war­ga terkait per­soalan yang ter­ja­di di salah satu kop­erasi di Surabaya. Per­soalan ini men­cu­at sete­lah sejum­lah war­ga mela­porkan adanya bun­ga pin­ja­man yang tetap ber­jalan mes­ki pokok utang sudah diny­atakan lunas, teruta­ma sete­lah adanya per­gant­ian pimp­inan di kop­erasi terse­but.

Dalam ung­ga­han di akun media sosial­nya, Cak Ji menyam­paikan kepri­hati­nan­nya ter­hadap kon­disi yang diala­mi oleh masyarakat yang men­ja­di anggota kop­erasi. Ia mene­gaskan, pemer­in­tah kota akan beru­paya men­car­ikan solusi ter­baik agar hak-hak war­ga dap­at ter­penuhi sesuai keten­tu­an.

“Menang­gapi lapo­ran dari war­ga terkait adanya per­masala­han di salah satu kop­erasi. Hutang yang sudah lunas terny­a­ta masih mening­galkan bun­ga yang harus diba­yar sete­lah adanya per­gant­ian pimp­inan kop­erasi,” tulis Cak Ji dalam ung­ga­han di plat­form Threads, Selasa (14/10).

“Rap­at akhir tahun den­gan selu­ruh kepala di kop­erasi terse­but akan men­ja­di kepu­tu­san akhir. Saya berharap akan ada pengem­balian aset yang dijaminkan, mengin­gat hutang sudah lunas,” lan­jut­nya.

Ung­ga­han terse­but men­da­p­at per­ha­t­ian luas dari masyarakat Surabaya. Hing­ga beri­ta ini dit­ulis, ung­ga­han itu telah dil­i­hat lebih dari 14 ribu kali dan men­da­p­at ratu­san komen­tar dari war­ganet yang mem­berikan beragam tang­ga­pan.

Masalah ini bermu­la keti­ka sejum­lah anggota kop­erasi men­geluhkan adanya tun­tu­tan pem­ba­yaran bun­ga pin­ja­man, pada­hal mere­ka telah melu­nasi utang pokok. Sete­lah per­gant­ian pimp­inan kop­erasi, muncul per­at­u­ran baru yang diang­gap merugikan anggota, yakni kewa­jiban melu­nasi bun­ga tam­ba­han yang sebelum­nya tidak diper­hi­tungkan.

Seba­gian anggota kop­erasi merasa kebi­jakan itu tidak adil. Mere­ka berpen­da­p­at, sete­lah pelu­nasan dilakukan, tidak seharus­nya ada tam­ba­han bun­ga yang dibebankan kem­bali. Kon­disi ini­lah yang kemu­di­an memicu medi­asi yang dipan­tau lang­sung oleh Cak Ji.

  PT.Ringo Ringo Gelar Diskusi dan Konsultasi

Dalam ung­ga­han yang sama, Cak Ji menam­bahkan bah­wa rap­at eval­u­asi akhir tahun kop­erasi akan men­ja­di penen­tu langkah penye­le­sa­ian. Ia juga mene­gaskan pent­ingnya asas kead­i­lan dan gotong roy­ong dalam kop­erasi agar tidak mem­ber­atkan anggotanya.

Ung­ga­han Cak Ji men­da­p­at beragam komen­tar dari war­ga. Seba­gian men­dukung langkah­nya, namun tidak sedik­it pula yang mem­berikan pan­dan­gan kri­tis men­ge­nai masalah utang, bun­ga, dan prin­sip kop­erasi.

Seo­rang peng­gu­na berna­ma daljo­manuk menulis. “Gem­bul! Mana ada pem­be­basan bun­ga? Adanya penun­daan bayar, namanya relak­sasi. Hutang harus tetap diba­yar!”

Komen­tar terse­but menggam­barkan pan­dan­gan bah­wa bun­ga pin­ja­man tetap wajib diba­yar mes­ki ter­ja­di penun­daan pem­ba­yaran pokok, seba­gaimana berlaku di lem­ba­ga keuan­gan for­mal.

Semen­tara itu, peng­gu­na lain, nuh­syari­fud­din, menyen­til per­soalan moral terkait prak­tik pin­ja­man berbun­ga:

“Gili­ran utang bermasalah ae ngomon­ge riba. La pas tan­da tan­gan pen­cairan kok ra mikir riba?”

Ia meny­oroti bah­wa kesadaran akan bun­ga pin­ja­man seharus­nya dipa­ha­mi sejak awal kesep­a­katan, bukan sete­lah tim­bul masalah.

Namun ada juga komen­tar yang lebih mod­er­at, seper­ti yang dis­am­paikan lypra­mono, yang meni­lai pent­ingnya dasar hukum ter­tulis dalam seti­ap per­jan­jian:

“Sela­ma pem­be­basan itu gak ada hitam di atas putih, ya susah. Beber­a­pa leas­ing saja uru­san motor ada surat­nya. Harus jelas soal per­jan­jian.”

Pen­da­p­at sena­da dis­am­paikan oleh zaen­nud­i­nananang, yang meny­oroti prin­sip kop­erasi seba­gai wadah gotong roy­ong, bukan lem­ba­ga komer­sial murni:

“Prin­sip kop­erasi kan gotong roy­ong, mban­tu anggota, bukan malah kayak kan­tor pem­bi­ayaan (financ­ing).”

Dari sisi lain, beber­a­pa war­ganet memu­ji sikap cepat tang­gap Cak Ji yang turun lang­sung mem­ban­tu masyarakat tan­pa meman­dang latar belakang.
Akun jeanylilis_ menulis:

“Pak Armu­ji ancen joss, meno­long semua orang tidak pan­dang bulu, kenal atau tidak tetap diban­tu. Semoga berkah, Pak Armu­ji orang baik.”

  Syukuran HUT ke-24 Tabloid BNN Digelar Meriah di Batam

Namun tak sedik­it juga yang mem­berikan komen­tar keras terkait kebi­asaan masyarakat dalam berutang.
Akun call_me_paulus menulis den­gan tegas:

“Makane ojo utang. Angel kalau wis utang apala­gi berbun­ga besar. Harus ada hitam di atas putih kalau memang lunas. Kalau ada tung­gakan bun­ga, mau gak mau harus diba­yar. Bawa-bawa aga­ma itu gak dibenarkan.”

Komen­tar-komen­tar terse­but mem­per­li­hatkan perbe­daan pan­dan­gan masyarakat ter­hadap prak­tik kop­erasi dan masalah moral­i­tas dalam pin­ja­man berbun­ga.

Kasus ini meli­batkan sejum­lah anggota kop­erasi yang merasa dirugikan oleh kebi­jakan baru. Meskipun nama kop­erasi belum dise­butkan secara res­mi, lapo­ran war­ga sudah diter­i­ma oleh Pemer­in­tah Kota Surabaya.

Cak Ji seba­gai Wak­il Wali Kota Surabaya turun lang­sung menen­gahi, den­gan hara­pan agar aset jam­i­nan milik war­ga dap­at dikem­ba­likan sete­lah ter­buk­ti bah­wa utang pokok sudah lunas.

Per­masala­han ini ter­ja­di di salah satu kop­erasi di wilayah Kota Surabaya. Lapo­ran war­ga masuk pada awal Okto­ber 2025, dan tang­ga­pan res­mi dari Cak Ji dis­am­paikan melalui media sosial Threads pada 13 Okto­ber 2025.

Rap­at akhir tahun kop­erasi yang dise­but Cak Ji diperki­rakan akan dige­lar pada Desem­ber 2025, yang akan men­ja­di forum pengam­bi­lan kepu­tu­san akhir men­ge­nai kebi­jakan bun­ga dan pengem­balian aset jam­i­nan.

Sum­ber masalah tam­paknya beraw­al dari peruba­han kepemimp­inan kop­erasi yang mem­bawa kebi­jakan baru terkait bun­ga pin­ja­man. Sete­lah per­gant­ian pimp­inan, muncul penye­sua­ian admin­is­trasi yang mem­bu­at sejum­lah anggota harus mem­ba­yar bun­ga tam­ba­han, meskipun mere­ka mengk­laim telah melu­nasi selu­ruh kewa­jiban­nya.

Selain itu, lemah­nya transparan­si keuan­gan dan doku­men­tasi per­jan­jian juga men­ja­di sorotan. Banyak anggota kop­erasi yang tidak memi­li­ki sali­nan res­mi surat pelu­nasan atau per­jan­jian pem­be­basan bun­ga, sehing­ga menim­bulkan perbe­daan tafsir antara pihak kop­erasi dan anggota.

Cak Ji mene­gaskan bah­wa Pemer­in­tah Kota Surabaya akan men­dorong penye­le­sa­ian masalah ini melalui mekanisme medi­asi. Rap­at bersama selu­ruh pen­gu­rus kop­erasi dan per­wak­i­lan anggota akan dige­lar untuk memas­tikan transparan­si dan kead­i­lan.

  Ketua Tp-PKK Hadiri Car Free Day Bersama Ladies Sport Labuhanbatu 

Ia juga berharap agar kop­erasi kem­bali pada prin­sip dasarnya seba­gai lem­ba­ga berba­sis gotong roy­ong, bukan sekadar lem­ba­ga keuan­gan yang menge­jar keun­tun­gan.

“Saya berharap akan ada pengem­balian aset yang dijaminkan, mengin­gat hutang sudah lunas,” ujarnya.

Menu­rut sejum­lah penga­mat kop­erasi, penye­le­sa­ian masalah seper­ti ini seharus­nya dilakukan secara inter­nal melalui rap­at anggota tahu­nan (RAT) yang sah. Kepu­tu­san RAT memi­li­ki keku­atan hukum inter­nal yang bisa menen­tukan apakah bun­ga tam­ba­han terse­but sah atau tidak.

Dari berba­gai komen­tar yang muncul, masyarakat tam­pak ter­be­lah men­ja­di dua kelom­pok pan­dan­gan besar:

1. Kelom­pok yang men­dukung pem­be­basan bun­ga, kare­na men­gang­gap kop­erasi seharus­nya mem­ban­tu anggota, bukan mem­be­bani.

2. Kelom­pok yang meni­lai bun­ga tetap wajib diba­yar, den­gan alasan sudah men­ja­di bagian dari kesep­a­katan dan sis­tem keuan­gan kop­erasi yang ber­jalan.

Seba­gian war­ganet juga men­gaitkan masalah ini den­gan kesadaran finan­sial dan tang­gung jawab indi­vidu. Mere­ka meni­lai, banyak masyarakat yang kurang mema­ha­mi kon­sekuen­si dari pin­ja­man berbun­ga, sehing­ga mudah ter­je­bak dalam kon­flik semacam ini.

Kasus kop­erasi yang ditang­gapi oleh Cak Ji ini men­ja­di cer­mi­nan kom­plek­si­tas sis­tem keuan­gan mikro di masyarakat. Di satu sisi, kop­erasi dihara­p­kan men­ja­di wadah gotong roy­ong yang mem­ban­tu ekono­mi raky­at. Namun di sisi lain, man­a­je­men dan sis­tem bun­ga yang tidak transparan jus­tru dap­at menim­bulkan per­pec­a­han di antara anggota.

Langkah Cak Ji yang turun lang­sung diang­gap posi­tif seba­gai ben­tuk kepedu­lian pemer­in­tah daer­ah ter­hadap per­masala­han ekono­mi war­ga. Den­gan adanya rap­at akhir tahun yang akan datang, masyarakat berharap agar ada kepu­tu­san adil yang mengem­ba­likan keper­cayaan ter­hadap kop­erasi.

Mes­ki beragam pen­da­p­at muncul di media sosial, satu hal yang dis­ep­a­kati banyak pihak adalah pent­ingnya keje­lasan admin­is­trasi dan keter­bukaan dalam pen­gelo­laan kop­erasi, agar kasus seru­pa tidak teru­lang di masa depan. (abd/ahh).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *