Jakarta, SniperNew.id - Presiden Prabowo Subianto menjadi tokoh utama dalam informasi yang ramai dibicarakan di media sosial, khususnya unggahan akun Threads bernama asih.winantu. Dalam unggahan tersebut, Prabowo disebut berencana menyebarkan 330.000 unit smart TV ke 110.000 sekolah di Indonesia. Rencana ini ditujukan untuk mendukung pendidikan nasional, terutama bagi siswa di daerah tertinggal. Minggu (14/09).
Isi unggahan itu menyebutkan bahwa program distribusi smart TV ini dimaksudkan agar siswa di daerah yang sulit dijangkau tetap dapat menerima pembelajaran dari mana saja. Dalam keterangan video, tertulis. “Prabowo Akan Sebar Smart TV ke 330.000 Sekolah.”
Unggahan tersebut juga memberikan catatan penting, yaitu agar pemerintah tidak mengulangi permasalahan serupa seperti distribusi perangkat Chromebook pada masa Menteri Pendidikan Nadiem Makarim. Dalam kasus sebelumnya, beberapa laporan menyebut adanya ketidaksiapan infrastruktur—misalnya, perangkat sudah disalurkan tetapi jaringan internet tidak tersedia, sehingga tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Akun tersebut menulis. “Presiden @prabowo berencana akan menyebar 330.000 smart tv di 110.000 sekolah di Indonesia. Agar siswa terutama di daerah tertinggal bisa mendapatkan pelajaran dari manapun. Konsepnya bagus, cuma infrastruktur pendukungnya harus dibenahi dulu. Jangan sampai mengulang kasus Chromebook Nadiem Makarim. Ada layarnya, internetnya gak ada.”
Unggahan juga menambahkan tagar: #presiden #prabowo #korupsi #pendidikanindonesia.
Program ini menyasar 110.000 sekolah di seluruh Indonesia, termasuk sekolah-sekolah di daerah tertinggal, terpencil, dan terluar (3T). Meskipun unggahan tidak menyebut lokasi peluncuran resmi, isu ini menjadi pembicaraan luas di ruang digital Indonesia.
Unggahan ini dipublikasikan 40 menit sebelum tangkapan layar diambil, dengan informasi yang relevan pada pertengahan September 2025. Rencana penyebaran smart TV disebut sebagai program masa jabatan Presiden Prabowo yang baru menjabat, dan belum ada tanggal resmi pelaksanaan distribusi.
Tujuan utama dari rencana ini adalah peningkatan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia. Dengan memanfaatkan smart TV, siswa di daerah sulit dijangkau diharapkan dapat:
1. Mengakses materi pembelajaran jarak jauh.
2. Mengikuti program pengajaran dari sekolah-sekolah unggulan atau guru-guru berpengalaman dari daerah lain.
3. Mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih merata.
Unggahan juga menyoroti kebutuhan infrastruktur sebagai alasan penting. Tanpa jaringan internet yang memadai atau pelatihan guru, penyediaan perangkat canggih tidak akan berjalan efektif.
Rencana ini akan dilakukan melalui penyebaran perangkat pintar (smart TV) ke sekolah-sekolah. Namun, beberapa langkah pendukung perlu dipersiapkan pemerintah agar program ini tidak menghadapi kendala teknis:
Infrastruktur jaringan internet: Daerah-daerah penerima smart TV harus memiliki akses internet yang stabil.
Pelatihan tenaga pendidik: Guru-guru di sekolah penerima perlu mendapatkan pelatihan penggunaan teknologi agar smart TV dimanfaatkan optimal.
Pemeliharaan perangkat: Sistem pemantauan dan perawatan perangkat harus disiapkan agar investasi negara tidak sia-sia.
Transparansi anggaran: Tagar #korupsi yang disematkan oleh akun Threads tersebut menunjukkan kekhawatiran publik agar proyek besar ini tidak disalahgunakan.
Unggahan ini mengingatkan publik pada kasus distribusi Chromebook pada masa Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itu, program distribusi perangkat pembelajaran digital dinilai kurang efektif karena banyak sekolah di daerah terpencil tidak memiliki koneksi internet memadai. Akibatnya, perangkat mahal itu tidak dapat dimanfaatkan sesuai tujuannya.
Dalam konteks ini, akun asih.winantu memberikan masukan agar pemerintah saat ini lebih memperhatikan kesiapan infrastruktur pendukung sebelum melaksanakan proyek serupa. Penggunaan kata-kata seperti. “Konsepnya bagus, cuma infrastructure pendukungnya harus dibenahi dulu.”
menunjukkan bahwa gagasan Prabowo secara umum mendapat apresiasi, tetapi pelaksanaannya menjadi fokus perhatian.
Di media sosial, topik ini memicu diskusi antara pihak yang mendukung program teknologi pendidikan dan pihak yang skeptis. Sebagian warganet menilai langkah ini bisa mempercepat transformasi digital di sekolah-sekolah, sedangkan yang lain mempertanyakan efektivitasnya jika masalah jaringan internet, listrik, dan kompetensi guru tidak segera ditangani.
Transformasi digital di sektor pendidikan menjadi salah satu isu penting di Indonesia. Program-program sebelumnya seperti Merdeka Belajar dan distribusi Chromebook telah memulai langkah digitalisasi pembelajaran. Namun, tantangan besar masih ada:
1. Ketimpangan Akses: Banyak daerah tertinggal belum memiliki jaringan internet yang stabil.
2. Ketersediaan Sumber Daya: Tidak semua guru memiliki keterampilan teknologi yang memadai.
3. Pemeliharaan dan Monitoring: Perangkat yang sudah disebar sering kali tidak dirawat dengan baik karena minim anggaran untuk pemeliharaan.
4. Keterbukaan Anggaran: Proyek teknologi berskala besar rentan disorot publik terkait transparansi dan potensi penyelewengan.
Jika rencana ini dijalankan dengan baik, 330.000 unit smart TV bisa menjadi titik balik pendidikan Indonesia. Smart TV dapat digunakan untuk menampilkan materi video interaktif, mengakses pembelajaran daring, atau menayangkan siaran pendidikan nasional. Sekolah di daerah 3T bisa mengikuti kurikulum dan metode pengajaran terbaru.
Namun, tanpa rencana matang, hasilnya bisa mengecewakan. Kasus-kasus sebelumnya, seperti Chromebook, menunjukkan pentingnya:
Audit kebutuhan daerah: Pastikan setiap sekolah penerima benar-benar membutuhkan dan bisa memanfaatkan perangkat. Kolaborasi lintas sektor: Pemerintah pusat, daerah, dan penyedia layanan internet harus bekerja sama. Pengawasan publik: Partisipasi masyarakat dan media penting untuk mencegah penyalahgunaan dana.
Kutipan Teks Lengkap dari Unggahan Threads (Sebagai Sumber Berita). “Presiden @prabowo berencana akan menyebar 330.000 smart tv di 110.000 sekolah di Indonesia. Agar siswa terutama di daerah tertinggal bisa mendapatkan pelajaran Dr manapun. Konsepnya bagus, cuma infrastructure pendukungnya harus di benahi dulu. Jangan sampai mengulang kasus chrome book nadiem makarim. Ada layarnya, internetny gak ada. #presiden #prabowo #korupsi #pendidikanindonesia.”
Teks pada video (screenshot). “Prabowo Akan Sebar Smart TV ke 330.000 Sekolah:”
Unggahan Threads asih.winantu tentang rencana Presiden Prabowo menyebar 330.000 smart TV ke 110.000 sekolah menyoroti harapan sekaligus kekhawatiran publik. Di satu sisi, langkah ini berpotensi memperkuat pemerataan pendidikan dan mempercepat transformasi digital. Di sisi lain, masyarakat menuntut perencanaan matang, infrastruktur memadai, dan pengawasan ketat agar tidak mengulangi kegagalan distribusi perangkat digital sebelumnya.
Jika pemerintah memastikan kesiapan jaringan internet, pelatihan guru, dan transparansi anggaran, program ini dapat menjadi tonggak penting dalam memajukan pendidikan nasional. Namun, tanpa langkah-langkah pendukung tersebut, smart TV yang mahal berisiko hanya menjadi pajangan di kelas-kelas tanpa membawa manfaat nyata bagi jutaan siswa Indonesia.
Sebagai isu yang menyangkut masa depan generasi muda, publik menunggu langkah lanjutan dari Presiden Prabowo dan pemerintahannya — bukan hanya pada distribusi perangkat, tetapi juga pada penyelesaian masalah mendasar di bidang pendidikan Indonesia. (Ahm)



















