Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Viral

Dugaan Pencurian Bauksit Rp144 Triliun, Perusahaan Asing dan Keterlibatan Oknum Aparat Disorot

402
×

Dugaan Pencurian Bauksit Rp144 Triliun, Perusahaan Asing dan Keterlibatan Oknum Aparat Disorot

Sebarkan artikel ini

Isu dugaan pen­cu­ri­an bauk­sit dalam skala besar kem­bali men­cu­at dan memicu perbin­can­gan luas di media sosial. Sebuah ung­ga­han dari akun mata_netizen662 men­gungkap tuduhan serius bah­wa aparat diduga men­ja­di back­ing bagi aktiv­i­tas tam­bang ile­gal yang merugikan negara sekali­gus masyarakat. Kasus ini dise­but meli­batkan perusa­haan asal Ameri­ka Serikat (AS) yang diduga men­curi bauk­sit milik PT Ane­ka Tam­bang Tbk (ANTAM), den­gan poten­si keru­gian negara yang san­gat besar.

Berdasarkan infor­masi yang dis­am­paikan, keru­gian negara diperki­rakan men­ca­pai Rp144 tril­i­un. Nilai terse­but diper­oleh melalui metode per­hi­tun­gan kerusakan ekol­o­gis dan kehi­lan­gan aset negara, seru­pa den­gan metode yang per­nah digu­nakan Kejak­saan Agung dalam kasus tam­bang timah yang meli­batkan Har­vey Moeis.

Ung­ga­han yang memu­at infor­masi terse­but turut menye­butkan bah­wa Lem­ba­ga Inves­tasi (LI) Bapan Kali­man­tan Barat men­gungkap adanya dugaan keter­li­batan oknum aparat pene­gak hukum (APH) dalam kasus ini. Video yang dibagikan oleh akun terse­but, bersum­ber dari Liputan Pon­tianak dan Dimas Blaise, menampilkan seo­rang indi­vidu bera­da di lokasi tam­bang yang tam­pak ter­bu­ka luas, den­gan latar per­buk­i­tan dan lahan yang telah digarap.

Tulisan pada video menye­butkan: “Perusa­haan Milik AS Diduga Lakukan Pen­cu­ri­an Bauk­sit Milik ANTAM, Rugikan Negara Seni­lai Rp144 Tril­i­un.”

  Farel, Santri Darul Yamani Raih Peringkat 1 Nasional Seleksi Universitas Imam Syafii

Pem­ber­i­taan ini men­gun­dang berba­gai reak­si keras dari war­ganet. Beber­a­pa komen­tar yang dita­mpilkan pada ung­ga­han terse­but menggam­barkan kemara­han, keke­ce­waan, sekali­gus rasa tidak per­caya ter­hadap pihak-pihak yang seharus­nya melin­dun­gi aset negara.

Seo­rang peng­gu­na den­gan nama sep­tiya­nari­wan­to menuliskan pen­da­p­at­nya men­ge­nai hubun­gan poli­tik dan ekono­mi glob­al yang dini­lai berpen­garuh ter­hadap situ­asi di Indone­sia. Ia menye­but bah­wa per­sain­gan antara AS dan Tiongkok ter­ja­di juga di tanah air, dan meny­oroti posisi kepemimp­inan Indone­sia yang dini­lai con­dong ke salah satu pihak. Menu­rut­nya, kekayaan alam seharus­nya bisa dio­lah sendiri oleh bangsa Indone­sia, sehing­ga hasil­nya dinikmati raky­at, bukan hanya peja­bat atau pihak asing.

“Ser­ba salah dio­lah sendiri yang makan duit­nya peja­bat, dio­lah asing yang makan fee-nya peja­bat juga. Yang harus­nya bisa dio­lah sendiri Indone­sia kaya raya. Pemer­in­tah beralasan kita bodoh tidak bisa olah sendiri den­gan kata tena­ga ahli,” tulis­nya, dis­er­tai emotikon kotoran seba­gai ben­tuk protes.

Peng­gu­na lain, lkoar­sp­wn­ta, mengin­gatkan bah­wa negara bera­da di ambang kehan­cu­ran apa­bi­la pro­gram Rev­o­lusi Men­tal pemer­in­ta­han tidak dilan­jutkan.

Komen­tar berna­da sinis juga datang dari yusrin_munchen yang menye­but bah­wa dugaan ini seakan sudah ter­lam­bat diungkap.

“Ahh sudah lah.. perusa­haan luar negeri. Yang dikeruk bukan sumur, tapi lahan buk­it ribuan hek­tar. Baru sekarang ketahuan. Basi…” tulis­nya.

Keke­ce­waan ter­hadap per­i­laku peja­bat juga diu­tarakan oleh bernard­bal­ax yang meny­atakan bah­wa negara dijual oleh peja­bat-peja­bat yang rakus dan ser­akah, semen­tara raky­at hanya dim­inta patuh, mener­i­ma kebo­hon­gan, dan tetap dipungut pajak.

Komen­tar seru­pa dis­am­paikan oleh sam­sulxm­rf yang menye­but Indone­sia penuh den­gan peja­bat korup dan munafik.

  Pedagang Jujur Pilih Tak Berjualan Demi Kualitas, Kisah Inspiratif Pakdhe Parjono

“Per­cuma!! Indone­sia isinya pemer­in­tah mafia korup, semua munafik men­gatas demi raky­at, pada­hal dilan­tik dan dis­umpah den­gan keper­cayaan mas­ing-mas­ing, tapi apa hasil­nya?” ungkap­nya.

Ung­ga­han ini telah diton­ton lebih dari 30 ribu kali di plat­form Threads dan memicu lebih dari ser­a­tus komen­tar ser­ta ratu­san tan­da suka dan dibagikan ulang. Banyak war­ganet men­gang­gap bah­wa kasus ini mencer­minkan lemah­nya pen­gawasan negara ter­hadap sum­ber daya alam yang men­ja­di aset strate­gis.

Bauk­sit adalah bahan baku uta­ma untuk pro­duk­si alu­mini­um yang memi­li­ki nilai ekono­mi ting­gi. Indone­sia, ter­ma­suk Kali­man­tan Barat, memi­li­ki cadan­gan bauk­sit yang besar. Namun, prak­tik per­tam­ban­gan ile­gal ker­ap men­ja­di masalah serius, menye­babkan kerusakan lingkun­gan dan keru­gian finan­sial bagi negara.

Dalam beber­a­pa tahun ter­akhir, pemer­in­tah Indone­sia telah men­er­ap­kan kebi­jakan larangan ekspor bahan men­tah min­er­al ter­ma­suk bauk­sit, den­gan tujuan men­dorong pem­ban­gu­nan indus­tri pen­go­la­han di dalam negeri. Namun, kebi­jakan ini tidak sepenuh­nya menut­up celah penyelundu­pan atau penam­ban­gan ile­gal, teruta­ma jika meli­batkan pihak-pihak yang memi­li­ki keku­atan modal besar dan konek­si poli­tik.

Dugaan pen­cu­ri­an bauk­sit dalam skala masif seper­ti yang diungkap dalam ung­ga­han mata_netizen662 bukan hanya soal keru­gian ekono­mi, tetapi juga menyangkut kerusakan ekol­o­gis jang­ka pan­jang. Lahan bekas tam­bang yang tidak direkla­masi akan kehi­lan­gan kesub­u­ran, meng­gang­gu sum­ber air, dan mem­pen­garuhi kehidu­pan masyarakat di sek­i­tarnya.

Respon keras dari war­ganet menun­jukkan bah­wa pub­lik menaruh per­ha­t­ian besar ter­hadap pen­gelo­laan sum­ber daya alam. Tudin­gan ter­hadap oknum aparat seba­gai back­ing aktiv­i­tas ile­gal semakin mem­pe­ru­mit pene­gakan hukum, kare­na berpoten­si meng­ham­bat pros­es penyidikan dan penin­dakan.

  One Piece Berkibar di Hari Merdeka? Fenomena Unik, Simbol Perlawanan atau Sekadar Hiburan?

Dalam kasus sebelum­nya, Kejak­saan Agung meng­gu­nakan metode per­hi­tun­gan keru­gian negara den­gan mem­per­tim­bangkan nilai ekono­mi sum­ber daya yang hilang, biaya pemuli­han lingkun­gan, ser­ta poten­si keun­tun­gan yang seharus­nya masuk ke kas negara. Jika angka Rp144 tril­i­un ini benar, maka skan­dal ini bisa men­ja­di salah satu kasus tam­bang terbe­sar yang per­nah ter­ja­di di Indone­sia.

Namun, hing­ga kini belum ada keteran­gan res­mi dari pihak berwe­nang yang men­gon­fir­masi detail kasus maupun langkah hukum yang sedang ditem­puh. Media dan masyarakat sip­il dihara­p­kan terus melakukan pen­gawasan agar pros­es pene­gakan hukum ber­jalan transparan dan akunt­abel.

Kasus ini men­ja­di pengin­gat akan pent­ingnya refor­masi tata kelo­la per­tam­ban­gan di Indone­sia. Transparan­si per­iz­inan, pen­gawasan yang ketat, ser­ta pem­ber­an­tasan mafia tam­bang adalah langkah mut­lak untuk mence­gah kebo­co­ran pen­da­p­atan negara dan kerusakan lingkun­gan yang tidak dap­at diper­bai­ki.

Selain itu, doron­gan untuk mem­perku­at indus­tri pen­go­la­han dalam negeri per­lu diirin­gi den­gan pem­ber­dayaan tena­ga ahli lokal, sehing­ga kekayaan alam dap­at dikelo­la secara mandiri tan­pa ter­lalu bergan­tung pada pihak asing.

Masyarakat meni­lai bah­wa tan­pa peruba­han men­dasar, kasus-kasus seper­ti ini akan terus teru­lang, dan ujungnya raky­at yang menang­gung aki­bat­nya, baik dari segi keru­gian ekono­mi maupun dampak lingkun­gan.

Kini, sorotan pub­lik ter­tu­ju pada aparat pene­gak hukum dan pemer­in­tah untuk segera men­gusut tun­tas dugaan pen­cu­ri­an bauk­sit ini. Jika ter­buk­ti, para pelaku, baik dari pihak perusa­haan maupun oknum yang ter­li­bat, harus mem­per­tang­gung­jawabkan per­bu­atan­nya sesuai hukum yang berlaku. (Adh)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *