Berita Nasional

Isu Pergantian Nama Departemen Pertahanan AS Jadi Perdebatan di Media Sosial

501
×

Isu Pergantian Nama Departemen Pertahanan AS Jadi Perdebatan di Media Sosial

Sebarkan artikel ini

Amiri­ka Serikat, SniperNew.id — Media sosial kem­bali dira­maikan den­gan perde­batan sep­utar kebi­jakan per­ta­hanan Ameri­ka Serikat (AS). Sebuah ung­ga­han di plat­form Threads dari akun ter­ver­i­fikasi berna­ma keneak­ers meny­oroti isu kon­tro­ver­sial men­ge­nai peruba­han nama Depart­ment of Defense (Departe­men Per­ta­hanan) men­ja­di Depart­ment of War (Departe­men Perang), Sab­tu (06/09).

Ung­ga­han terse­but dilengkapi cup­likan video yang mem­per­li­hatkan man­tan Pres­i­den Ameri­ka Serikat, Don­ald Trump, sedang menan­datan­gani doku­men res­mi di ruang ker­janya. Meskipun video itu tidak memu­at keteran­gan detail, kon­teks yang diberikan oleh akun keneak­ers menyu­lut diskusi luas di kalan­gan peng­gu­na media sosial.

Berikut kuti­pan lengkap isi ung­ga­han terse­but. “The white men in charge are at it again; they renamed the Depart­ment of Defense to the Depart­ment of War. And you know what? Good. Call it what it is. White men crave blood­shed and war, destruc­tion, and glob­al chaos. Good for them, they look proud of their accom­plish­ments.”

Ung­ga­han ini lang­sung men­u­ai reak­si beragam. Ada yang meni­lai perny­ataan terse­but ter­lalu menyudutkan, semen­tara seba­gian lain men­gang­gap­nya seba­gai sindi­ran tajam ter­hadap kebi­jakan poli­tik luar negeri Ameri­ka Serikat yang ker­ap diang­gap agre­sif.

Tak berhen­ti di situ, seo­rang peng­gu­na lain den­gan nama eden­saunt mem­berikan komen­tar yang juga berna­da sindi­ran. Ia menulis. “How about just ‘He-Man Woman Haters Club of MAXIMUM TOUGHNESS’”

  BPSDM Kemendagri Dukung Peningkatan Kapasitas ASN melalui Diklat di DOB Papua

Komen­tar ini menam­bah lapisan humor sarkastik di ten­gah perde­batan serius men­ge­nai kebi­jakan militer Ameri­ka Serikat.

Secara his­toris, Ameri­ka Serikat memang per­nah memi­li­ki lem­ba­ga res­mi den­gan nama Depart­ment of War (Departe­men Perang). Insti­tusi ini berdiri sejak 1789 dan bertu­gas men­gawasi selu­ruh uru­san militer negara terse­but. Namun, pada tahun 1947, melalui Nation­al Secu­ri­ty Act, nama Departe­men Perang res­mi digan­ti men­ja­di Depart­ment of Defense (Departe­men Per­ta­hanan).

Alasan peruba­han nama saat itu cukup jelas: pemer­in­tah ingin menun­jukkan ori­en­tasi per­ta­hanan, bukan sekadar ekspan­si militer atau agre­si bersen­ja­ta. Per­gant­ian nama juga diang­gap seba­gai bagian dari strate­gi diplo­masi untuk menampilkan wajah Ameri­ka Serikat seba­gai negara pen­ja­ga kea­manan glob­al, bukan pemicu peperan­gan.

Den­gan demikian, isu yang diangkat dalam ung­ga­han keneak­ers bukan­lah hal baru. Seba­gian pihak meni­lai bah­wa peng­gu­naan isti­lah “per­ta­hanan” lebih bersi­fat poli­tis dan diplo­ma­tis, semen­tara prak­tik kebi­jakan luar negeri AS dalam beber­a­pa dekade ter­akhir tetap mem­per­li­hatkan kecen­derun­gan pada operasi militer di berba­gai bela­han dunia.

Ung­ga­han keneak­ers yang berna­da kri­tis itu memicu diskusi hangat. Dalam wak­tu singkat, ung­ga­han terse­but telah men­da­p­at puluhan tan­da suka, komen­tar, ser­ta dibagikan ulang.

Seba­gian peng­gu­na meni­lai bah­wa kri­tik terse­but ter­lalu menyudutkan satu kelom­pok etnis ter­ten­tu, yakni “white men” atau pria kulit putih. Ungka­pan terse­but dini­lai bisa mem­perkeruh suasana kare­na menyasar iden­ti­tas rasial, bukan sub­stan­si kebi­jakan.

Namun, ada juga yang meli­hat­nya seba­gai ben­tuk ekspre­si kemara­han ter­hadap dom­i­nasi elit poli­tik dan militer yang diang­gap ser­ing mengam­bil kepu­tu­san beru­jung kon­flik. Kri­tik itu dipan­dang lebih seba­gai metafo­ra ketim­bang tuduhan per­son­al.

Semen­tara komen­tar dari eden­saunt yang menye­but isti­lah “He-Man Woman Haters Club of MAXIMUM TOUGHNESS” menam­bahkan nuansa satir dalam diskusi. Isti­lah itu secara tidak lang­sung menyindir gaya kepemimp­inan yang ter­lalu maskulin, keras, dan beror­i­en­tasi pada keku­atan militer.

  Maraknya maling diakibatkan narkoba di kecamatan Dolok masihul meresahkan warga

Untuk mema­ha­mi lebih jauh, beber­a­pa penga­mat inter­na­sion­al ker­ap meny­oroti perbe­daan mak­na antara “Defense” (per­ta­hanan) dan “War” (perang).

Isti­lah “per­ta­hanan” mem­bawa kesan defen­sif, seo­lah-olah kebi­jakan militer dilakukan hanya untuk melin­dun­gi negara dari anca­man ekster­nal.

Isti­lah “perang” jus­tru mene­gaskan aksi ofen­sif yang meli­batkan agre­si, invasi, dan dom­i­nasi.

Mes­ki namanya Departe­men Per­ta­hanan, Ameri­ka Serikat ter­catat beber­a­pa kali melakukan operasi militer di luar negeri tan­pa deklarasi perang res­mi, mis­al­nya di Irak, Afghanistan, Libya, dan Suri­ah.

Hal ini­lah yang ser­ing men­ja­di bahan kri­tik. Banyak kalan­gan menye­but bah­wa nama “Defense” hanyalah eufemisme untuk menu­tupi tin­dakan militer ofen­sif.

Jika benar ter­ja­di per­gant­ian nama kem­bali men­ja­di Departe­men Perang, maka itu akan memicu inter­pre­tasi poli­tik inter­na­sion­al bah­wa AS semakin terang-teran­gan men­gakui per­an­nya seba­gai keku­atan militer agre­sif.

Seba­liknya, jika peruba­han itu hanya isu atau satire, maka ia tetap mencer­minkan persep­si pub­lik bah­wa kebi­jakan per­ta­hanan AS ker­ap iden­tik den­gan peperan­gan.

Hing­ga saat ini, tidak ada pengu­mu­man res­mi dari pemer­in­tah Ameri­ka Serikat men­ge­nai peruba­han nama Depart­ment of Defense. Fak­ta di lapan­gan menun­jukkan bah­wa lem­ba­ga ini masih meng­gu­nakan nama lama yang berlaku sejak 1947.

Cup­likan video Don­ald Trump yang digu­nakan dalam ung­ga­han keneak­ers pun tidak secara eksplisit menun­jukkan momen penan­datan­ganan terkait isu terse­but. Video terse­but bisa jadi berasal dari momen berbe­da, mis­al­nya penan­datan­ganan kebi­jakan lain sela­ma masa pemer­in­ta­han­nya.

Den­gan demikian, ung­ga­han ini kemu­ngk­i­nan besar lebih bersi­fat opi­ni, kri­tik, atau satire ter­hadap dom­i­nasi militer Ameri­ka Serikat, bukan lapo­ran fak­tu­al men­ge­nai peruba­han nama lem­ba­ga.

Ter­lepas dari benar atau tidaknya isu per­gant­ian nama, diskusi pub­lik ini mem­per­li­hatkan bagaimana media sosial telah men­ja­di ruang pent­ing dalam mem­bicarakan kebi­jakan luar negeri.

  WASPADA! Pengguna Facebook Diimbau Tidak Terpancing Bujuk Rayu Oknum Penyewa WhatsApp Mahal

Media sosial memu­ngkinkan masyarakat dunia ikut mem­berikan pan­dan­gan kri­tis ter­hadap kepu­tu­san poli­tik yang biasanya hanya dibicarakan di ruang-ruang res­mi pemer­in­ta­han.

Namun, perde­batan di media sosial juga ker­ap melahirkan polar­isasi. Seba­gian orang meng­gu­nakan bahasa emo­sion­al yang berpoten­si memicu kon­flik iden­ti­tas, seper­ti yang ter­li­hat dalam peng­gu­naan isti­lah “white men” dalam ung­ga­han terse­but.

Satire, humor, dan sindi­ran juga ser­ing dipakai seba­gai cara untuk melawan kebi­jakan atau kepu­tu­san poli­tik yang diang­gap tidak adil. Komen­tar eden­saunt adalah con­toh bagaimana humor dipakai untuk mengkri­tik gaya kepemimp­inan maskulin dan agre­sif.

Ung­ga­han akun keneak­ers di Threads yang meny­ing­gung peruba­han nama Depart­ment of Defense men­ja­di Depart­ment of War telah memicu diskusi panas di media sosial. Meskipun belum ada buk­ti fak­tu­al yang menun­jukkan peruba­han res­mi terse­but, kri­tik yang dilon­tarkan menggam­barkan keke­ce­waan seba­gian pub­lik ter­hadap kebi­jakan militer Ameri­ka Serikat yang diang­gap ser­ing memicu kon­flik glob­al.

Komen­tar lan­ju­tan dari eden­saunt mem­per­li­hatkan bagaimana satire dap­at digu­nakan untuk meny­oroti gaya kepemimp­inan yang diang­gap ter­lalu keras dan maskulin.

Perde­batan ini sekali­gus mene­gaskan bah­wa wacana men­ge­nai perang, per­ta­hanan, dan poli­tik luar negeri bukan hanya milik ruang sidang pemer­in­ta­han, melainkan juga men­ja­di bagian dari per­caka­pan sehari-hari masyarakat glob­al di dunia dig­i­tal.

Seba­gai catatan pent­ing, hing­ga beri­ta ini ditu­runk­an, tidak ada perny­ataan res­mi yang menye­butkan per­gant­ian nama Depart­ment of Defense men­ja­di Depart­ment of War. Den­gan demikian, pub­lik per­lu lebih berhati-hati dalam menyikapi infor­masi yang beredar di media sosial, memas­tikan valid­i­tas­nya, ser­ta mem­be­dakan antara opi­ni, satire, dan fak­ta. (Abd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *