Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Bupati Pati Didesak Mundur, Rakyat Geram Kenaikan Pajak 250%

311
×

Bupati Pati Didesak Mundur, Rakyat Geram Kenaikan Pajak 250%

Sebarkan artikel ini

Pati, SniperNew.id — Selasa 12 Agus­tus 2025 Suasana Pati, Jawa Ten­gah, mem­anas pada Senin malam. Ribuan war­ga berkumpul di pusat kota, melu­ap­kan kemara­han ter­hadap kebi­jakan kenaikan pajak yang dini­lai mem­ber­atkan. Bupati Pati, Sude­wo, men­ja­di sorotan tajam sete­lah dise­but-sebut menaikkan pajak hing­ga 250% tan­pa sosial­isasi yang memadai.

Aksi yang ter­ja­di malam ini men­ja­di pun­cak dari keke­ce­waan war­ga. Mere­ka mengge­lar protes besar-besaran, menun­tut bupati untuk segera mundur dari jabatan­nya. Dalam keru­mu­nan mas­sa yang mema­dati jalanan, ter­den­gar teri­akan-teri­akan lan­tang mem­inta kead­i­lan dan pem­bat­a­lan kebi­jakan terse­but.

Kenaikan pajak hing­ga 250% ini dise­but-sebut meniru langkah man­tan Wali Kota Solo yang sem­pat menaikkan pajak daer­ah hing­ga 400%. Namun, alih-alih diapre­si­asi, kebi­jakan ini jus­tru memicu gelom­bang kemara­han. War­ga meni­lai, situ­asi ekono­mi saat ini belum pulih sepenuh­nya, sehing­ga kebi­jakan terse­but diang­gap seba­gai tin­dakan yang tidak bijak.

  Jawa Barat Genap 80 Tahun, Momentum Perkuat Gotong Royong dan Persatuan

Banyak war­ga men­gaku tidak per­nah dia­jak berdia­log atau diberikan pen­je­lasan rin­ci soal urgen­si kenaikan pajak terse­but. Sejum­lah pelaku usa­ha, teruta­ma di sek­tor kecil dan menen­gah, men­geluhkan dampaknya yang lang­sung terasa pada biaya opera­sion­al dan har­ga jual barang.

Video dan foto yang beredar di media sosial menun­jukkan mas­sa yang memenuhi alun-alun Pati. Mere­ka mem­bawa span­duk, poster, dan bahkan meng­gu­nakan pon­sel untuk merekam seti­ap momen aksi. Salah satu video yang viral menampilkan lau­tan manu­sia men­gelilin­gi seo­rang pria berba­ju kun­ing diduga bupati atau per­wak­i­lan­nya den­gan tan­gan-tan­gan terangkat sam­bil memegang sep­a­tu seba­gai sim­bol protes keras.

Tulisan pada video itu berbun­yi:
“Bupati Pati di Amuk Raky­at untuk Lengser Malam Ini”

Sim­bol sep­a­tu yang dia­cungkan ke udara ini men­ja­di tan­da peno­lakan yang tegas. Dalam budaya protes di berba­gai negara, menun­jukkan atau melem­par sep­a­tu adalah ben­tuk penghi­naan dan keke­ce­waan men­dalam ter­hadap seo­rang pemimpin.

Beber­a­pa war­ga yang hadir dalam aksi men­gungkap­kan alasan mere­ka turun ke jalan.

“Kami tidak anti pajak, tapi kenaikan sebe­sar ini tan­pa mem­per­tim­bangkan kon­disi raky­at sama saja menan­tang kami,” ujar Arif, seo­rang peda­gang pasar yang ikut aksi.

“Saya memil­ih beli­au kare­na berharap bisa mem­bawa peruba­han baik. Tapi kalau begi­ni, lebih baik mundur saja,” tam­bah Yuni, seo­rang ibu rumah tang­ga.

  Aksi Tolak Angin untuk KPK: Sindiran Warga Pati atas Kasus Korupsi Pejabat S”

Ungka­pan sena­da ramai dibagikan di plat­form media sosial, teruta­ma Threads, Twit­ter, dan Face­book. Salah satu akun, @putrajopun, menulis:
“Bun­tut seenaknya naikin pajak 250%, Sude­wo bupati Pati ditun­tut lengser oleh pemil­i­h­nya sendiri. Sok niru-niru eks Walkot Solo yang naikin pajak 400%. Con­toh yang baik buat mem­beri kesadaran pada peja­bat yang berbu­at sewe­nang-wenang dan sok menan­tang raky­at yang sesung­guh­nya pemi­lik kedaula­tan di negeri ini. Wih gimana tuh pak bupati?”

Hing­ga beri­ta ini ditu­runk­an, pihak Pemer­in­tah Kabu­pat­en Pati belum mem­berikan perny­ataan res­mi. Beber­a­pa sum­ber inter­nal menye­but bah­wa bupati sedang mem­per­tim­bangkan opsi untuk melakukan perte­muan den­gan per­wak­i­lan mas­sa. Namun, belum ada jad­w­al yang pasti.

Semen­tara itu, pihak kea­manan telah bersi­a­ga di beber­a­pa titik untuk men­gan­tisi­pasi hal-hal yang tidak diinginkan. Kapol­res Pati mengim­bau war­ga agar tetap men­ja­ga ketert­iban sela­ma menyam­paikan aspi­rasi.

Penga­mat poli­tik daer­ah, Hary­ono Wijoyo, meni­lai aksi malam ini bisa men­ja­di titik balik dalam poli­tik Pati.
“Jika tun­tu­tan raky­at tidak dire­spons den­gan cepat, poten­si gelom­bang mosi tidak per­caya dari DPRD bisa saja muncul. Apala­gi jika tekanan pub­lik terus meningkat melalui media sosial,” ujarnya.

  Harimau Sumatra yang Resahkan Warga Lampung Barat Akhirnya Tertangkap

Ia juga menam­bahkan, kenaikan pajak yang ekstrem tan­pa transparan­si ser­ing kali men­ja­di pemicu insta­bil­i­tas poli­tik di daer­ah. “Pemimpin harus peka ter­hadap daya tahan ekono­mi masyarakat­nya. Dalam kasus Pati, momen­tum pemuli­han pas­capan­de­mi belum sele­sai, sehing­ga kebi­jakan ini dini­lai kon­trapro­duk­tif,” tam­bah­nya.

Tagar #Pat­i­Berg­er­ak dan #Lengserkan­Bu­pati mulai ramai di plat­form X (Twit­ter) dan Threads. Beber­a­pa war­ganet bahkan men­gung­gah meme dan sindi­ran kre­atif, mem­band­ingkan kon­disi Pati den­gan daer­ah lain yang melakukan kebi­jakan seru­pa namun dis­er­tai dia­log pub­lik ter­lebih dahu­lu.

Tidak sedik­it pula tokoh pub­lik dan aktivis yang ikut bersuara, mengin­gatkan pent­ingnya par­tisi­pasi raky­at dalam pengam­bi­lan kepu­tu­san besar.

Aksi protes besar di Pati malam ini men­ja­di buk­ti bah­wa raky­at tidak ting­gal diam keti­ka merasa dirugikan oleh kebi­jakan pemer­in­tah daer­ah. Tun­tu­tan mere­ka jelas: batalk­an kenaikan pajak 250% dan jika tidak, bupati dim­inta mundur dari jabatan­nya.

Situ­asi ini akan men­ja­di ujian kepemimp­inan Sude­wo, apakah ia akan memil­ih berdia­log dan men­cari solusi bersama, atau tetap mem­per­ta­hankan kebi­jakan­nya di ten­gah badai kri­tik.

Yang jelas, malam ini Pati tidak sedang dalam suasana biasa. Sorotan mata pub­lik ter­tu­ju ke kabu­pat­en ini, menung­gu langkah selan­jut­nya dari sang bupati di ten­gah desakan raky­at­nya sendiri. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *