Pati, SniperNew.id — Selasa 12 Agustus 2025 Suasana Pati, Jawa Tengah, memanas pada Senin malam. Ribuan warga berkumpul di pusat kota, meluapkan kemarahan terhadap kebijakan kenaikan pajak yang dinilai memberatkan. Bupati Pati, Sudewo, menjadi sorotan tajam setelah disebut-sebut menaikkan pajak hingga 250% tanpa sosialisasi yang memadai.
Aksi yang terjadi malam ini menjadi puncak dari kekecewaan warga. Mereka menggelar protes besar-besaran, menuntut bupati untuk segera mundur dari jabatannya. Dalam kerumunan massa yang memadati jalanan, terdengar teriakan-teriakan lantang meminta keadilan dan pembatalan kebijakan tersebut.
Kenaikan pajak hingga 250% ini disebut-sebut meniru langkah mantan Wali Kota Solo yang sempat menaikkan pajak daerah hingga 400%. Namun, alih-alih diapresiasi, kebijakan ini justru memicu gelombang kemarahan. Warga menilai, situasi ekonomi saat ini belum pulih sepenuhnya, sehingga kebijakan tersebut dianggap sebagai tindakan yang tidak bijak.
Banyak warga mengaku tidak pernah diajak berdialog atau diberikan penjelasan rinci soal urgensi kenaikan pajak tersebut. Sejumlah pelaku usaha, terutama di sektor kecil dan menengah, mengeluhkan dampaknya yang langsung terasa pada biaya operasional dan harga jual barang.
Video dan foto yang beredar di media sosial menunjukkan massa yang memenuhi alun-alun Pati. Mereka membawa spanduk, poster, dan bahkan menggunakan ponsel untuk merekam setiap momen aksi. Salah satu video yang viral menampilkan lautan manusia mengelilingi seorang pria berbaju kuning diduga bupati atau perwakilannya dengan tangan-tangan terangkat sambil memegang sepatu sebagai simbol protes keras.
Tulisan pada video itu berbunyi:
“Bupati Pati di Amuk Rakyat untuk Lengser Malam Ini”
Simbol sepatu yang diacungkan ke udara ini menjadi tanda penolakan yang tegas. Dalam budaya protes di berbagai negara, menunjukkan atau melempar sepatu adalah bentuk penghinaan dan kekecewaan mendalam terhadap seorang pemimpin.
Beberapa warga yang hadir dalam aksi mengungkapkan alasan mereka turun ke jalan.
“Kami tidak anti pajak, tapi kenaikan sebesar ini tanpa mempertimbangkan kondisi rakyat sama saja menantang kami,” ujar Arif, seorang pedagang pasar yang ikut aksi.
“Saya memilih beliau karena berharap bisa membawa perubahan baik. Tapi kalau begini, lebih baik mundur saja,” tambah Yuni, seorang ibu rumah tangga.
Ungkapan senada ramai dibagikan di platform media sosial, terutama Threads, Twitter, dan Facebook. Salah satu akun, @putrajopun, menulis:
“Buntut seenaknya naikin pajak 250%, Sudewo bupati Pati dituntut lengser oleh pemilihnya sendiri. Sok niru-niru eks Walkot Solo yang naikin pajak 400%. Contoh yang baik buat memberi kesadaran pada pejabat yang berbuat sewenang-wenang dan sok menantang rakyat yang sesungguhnya pemilik kedaulatan di negeri ini. Wih gimana tuh pak bupati?”
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Kabupaten Pati belum memberikan pernyataan resmi. Beberapa sumber internal menyebut bahwa bupati sedang mempertimbangkan opsi untuk melakukan pertemuan dengan perwakilan massa. Namun, belum ada jadwal yang pasti.
Sementara itu, pihak keamanan telah bersiaga di beberapa titik untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Kapolres Pati mengimbau warga agar tetap menjaga ketertiban selama menyampaikan aspirasi.
Pengamat politik daerah, Haryono Wijoyo, menilai aksi malam ini bisa menjadi titik balik dalam politik Pati.
“Jika tuntutan rakyat tidak direspons dengan cepat, potensi gelombang mosi tidak percaya dari DPRD bisa saja muncul. Apalagi jika tekanan publik terus meningkat melalui media sosial,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, kenaikan pajak yang ekstrem tanpa transparansi sering kali menjadi pemicu instabilitas politik di daerah. “Pemimpin harus peka terhadap daya tahan ekonomi masyarakatnya. Dalam kasus Pati, momentum pemulihan pascapandemi belum selesai, sehingga kebijakan ini dinilai kontraproduktif,” tambahnya.
Tagar #PatiBergerak dan #LengserkanBupati mulai ramai di platform X (Twitter) dan Threads. Beberapa warganet bahkan mengunggah meme dan sindiran kreatif, membandingkan kondisi Pati dengan daerah lain yang melakukan kebijakan serupa namun disertai dialog publik terlebih dahulu.
Tidak sedikit pula tokoh publik dan aktivis yang ikut bersuara, mengingatkan pentingnya partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan besar.
Aksi protes besar di Pati malam ini menjadi bukti bahwa rakyat tidak tinggal diam ketika merasa dirugikan oleh kebijakan pemerintah daerah. Tuntutan mereka jelas: batalkan kenaikan pajak 250% dan jika tidak, bupati diminta mundur dari jabatannya.
Situasi ini akan menjadi ujian kepemimpinan Sudewo, apakah ia akan memilih berdialog dan mencari solusi bersama, atau tetap mempertahankan kebijakannya di tengah badai kritik.
Yang jelas, malam ini Pati tidak sedang dalam suasana biasa. Sorotan mata publik tertuju ke kabupaten ini, menunggu langkah selanjutnya dari sang bupati di tengah desakan rakyatnya sendiri. (Red)













