Berita Investigasi

Beras Bansos Dipangkas, Warga Baturaja Tuntut Keadilan

634
×

Beras Bansos Dipangkas, Warga Baturaja Tuntut Keadilan

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id  – Ratu­san kepala kelu­ar­ga (KK) di Desa Bat­u­ra­ja, Keca­matan Pun­duh Pida­da, Kabu­pat­en Pesawaran, Lam­pung, melu­ap­kan keke­ce­waan mere­ka atas pemo­ton­gan ban­tu­an sosial (ban­sos) beras dari Badan Uru­san Logis­tik (Bulog). Dalam penyalu­ran pada Rabu (30/7/2025), seti­ap KK hanya mener­i­ma 10 kg beras, pada­hal seharus­nya men­da­p­atkan 20 kg sesuai keten­tu­an Kelu­ar­ga Pener­i­ma Man­faat (KPM), Jumat 01 Agus­tus 2025.

  Diduga Rekanan "CV.Dewata Borneo" Nakal, Hasil Peningkatan Jalan Gg Selamet Menuai Protes

Menu­rut pan­tauan tim media di lapan­gan, pemo­ton­gan terse­but dilakukan den­gan dal­ih “pemer­ataan” oleh pemer­in­tah desa. Namun, war­ga meni­lai kebi­jakan itu seba­gai ben­tuk pengaba­ian hak dasar masyarakat miskin. “Ini bukan pemer­ataan, tapi pemiski­nan berke­dok ban­sos!” protes salah satu war­ga yang eng­gan dise­butkan namanya.

Seo­rang ibu tiga anak bahkan men­gaku kelabakan mem­ba­gi 10 kg beras untuk kelu­ar­ganya yang berjum­lah lima orang. “Kalau begi­ni, ban­sos malah jadi beban psikol­o­gis. Kami merasa diper­mainkan,” ujarnya lir­ih, mena­han sedih.

Kemara­han war­ga semakin memu­ncak kare­na tidak ada pem­ber­i­tahuan transparan dari pemer­in­tah desa sebelum penyalu­ran. Masyarakat bertanya-tanya: apakah ini ben­tuk pen­gu­ran­gan anggaran ban­sos? Men­ga­pa kepu­tu­san strate­gis seper­ti ini tidak dikon­sul­tasikan atau dis­osial­isas­ikan ter­lebih dahu­lu?

Mewak­ili suara masyarakat, per­wak­i­lan KPM mende­sak agar desa segera mere­visi kebi­jakan dan menyalurkan sisa jatah beras yang men­ja­di hak war­ga. “Jan­gan jadikan raky­at kecil kor­ban keti­dak­je­lasan atu­ran. Kami butuh kepas­t­ian, bukan jan­ji,” tegas mere­ka.

  Hasil Pembagunan Telpot Lapin di Gang Buchari dan Wan Nawi Daerah Ketapang Diduga Hasil Kegiatan Proyek Siluman

Media yang men­co­ba men­gon­fir­masi peri­s­ti­wa ini kepa­da Badan Per­musyawaratan Desa (BPD) Bat­u­ra­ja tidak men­da­p­atkan jawa­ban. Pesan What­sApp yang dikir­im tidak ditang­gapi, seo­lah melem­par tang­gung jawab.

Semen­tara itu, Kepala Desa Bat­u­ra­ja, Har­di Alam Pra­ja, angkat bicara melalui sam­bun­gan What­sApp. Ia mengk­laim bah­wa beras sudah dis­alurkan kepa­da masyarakat dan tidak ada yang dis­alah­gu­nakan. “Makasih sudah buat tenar desa saya. Yang pasti, beras itu saya bagikan ke masyarakat, bukan masuk perut saya. Naikkan beri­ta set­ing­gi-tingginya, ini Desa Bat­u­ra­ja, jan­gan disamakan den­gan desa-desa yang lain,” ujarnya ger­am.

  DPP LSM PAMATANK: Akan Lakukan Investigasi, Audit BPK Bukan Suatu Landasan Untuk Pengembalian Hilangkan Unsur Pidana Tipikor

Lebih lan­jut, Kades Har­di bahkan menan­tang war­ga untuk auden­si lang­sung. “Hari Senin bawa KPM-nya ke kan­tor desa supaya jelas. Nan­ti kita kumpulkan masyarakat Desa Bat­u­ra­ja maun­ya seper­ti apa. Kalau KPM tidak dibawa, gak usah nemuin saya. Cuatin aja pem­ber­i­taan. Nan­ti saya ke kabu­pat­en, gak mungkin gak sele­sai,” tan­ta­ngnya.

Kasus di Bat­u­ra­ja ini men­ja­di potret carut-marut penyalu­ran ban­sos di Indone­sia. Keti­ka ban­tu­an seharus­nya men­guatkan raky­at kecil, jus­tru menam­bah beban dan memicu kri­sis keper­cayaan. Di ten­gah jan­ji pemer­in­tah soal pemer­ataan, war­ga hanya berharap satu hal: hak mere­ka seba­gai pener­i­ma man­faat dipenuhi sepenuhnya—bukan seten­gah-seten­gah.

Lapo­ran: (Sufiyawan).

Edi­tor (Ahmad).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *