Bener Meriah, SniperNew.id — Di tengah kemajuan dunia pendidikan, potret memilukan masih ditemukan di Kabupaten Bener Meriah. Puluhan siswa kelas satu di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Blang Rakal terpaksa belajar di halaman sekolah karena ketiadaan ruang kelas. Fenomena ini menuai keprihatinan masyarakat luas, terlebih di era modern yang seharusnya menjamin fasilitas pendidikan yang layak bagi semua.
Kepala MIS Blang Rakal, Miskal, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut sudah berlangsung sejak tahun ajaran baru dimulai. Sekolah tersebut hanya memiliki delapan ruang belajar (rumber) yang semuanya telah digunakan untuk siswa kelas 2 hingga kelas 6.
“Jumlah siswa kelas 2 sampai 6 mencapai 241 orang. Karena keterbatasan ruang, kami tidak punya pilihan lain selain menggelar proses belajar mengajar siswa kelas 1 di lapangan sekolah,” ujar Miskal saat ditemui pada Rabu (16/7/2025).
Tak hanya soal ruang, MIS Blang Rakal juga mengalami kekurangan tenaga pengajar. Saat ini, sekolah hanya memiliki dua guru PNS dan dibantu oleh 12 guru honorer yang dengan segala keterbatasan tetap mengabdikan diri demi pendidikan anak-anak di daerah tersebut.
Pihak sekolah, lanjut Miskal, telah berulang kali mengajukan permohonan penambahan ruang kelas ke Kementerian Agama (Kemenag) Bener Meriah. Namun, hingga kini belum ada tanggapan positif.
“Kami sudah usulkan beberapa kali, tapi alasan yang diberikan karena sekolah ini masih berstatus swasta sehingga belum menjadi prioritas,” jelasnya dengan nada kecewa.
Kondisi ini memantik reaksi keras dari warga setempat. Hasan, salah satu wali murid, menyuarakan keprihatinan sekaligus kegeramannya.
“Anak-anak kami seperti dianaktirikan. Di zaman sekarang, masih ada murid yang belajar di bawah terik matahari. Ini menyayat hati,” ucap Hasan.
Ia menegaskan bahwa lokasi sekolah yang berada di pintu gerbang Kabupaten Bener Meriah dari arah Bireuen seharusnya menjadi perhatian pemerintah.
“Jangan biarkan anak-anak kami tumbuh dalam ketertinggalan. Kami mendesak pemerintah buka mata dan segera bangun ruang belajar yang layak,” tegasnya.
Kasus ini menjadi cermin nyata bahwa masih banyak titik-titik di pelosok negeri yang luput dari perhatian. Saat sebagian siswa di kota belajar dengan fasilitas digital dan berpendingin ruangan, siswa MIS Blang Rakal harus berjuang memahami pelajaran sambil berpanas-panasan.
Diperlukan langkah konkret dari pemerintah daerah maupun pusat agar tidak ada lagi anak bangsa yang belajar dalam kondisi yang tidak manusiawi. Pendidikan adalah hak semua warga negara, tanpa terkecuali. (Ril)



















