Sukabumi, SniperNew.id – Banjir kembali melanda wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Kamis (11/9/2025) siang. Kali ini, air bah merendam lingkungan pendidikan, tepatnya di MTs Al Masthuriyah yang berlokasi di Kampung Tipar, Desa Cibolangkaler, Kecamatan Cisaat. Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah ruang kelas, laboratorium komputer, serta ruang guru mengalami kerusakan cukup parah.
Menurut informasi yang dihimpun dari keterangan warga sekitar, banjir diduga terjadi akibat penyempitan saluran air yang berkaitan dengan proyek pembangunan Jalan Tol Bogor–Ciawi–Sukabumi (Bocimi). Insiden ini sontak menimbulkan kekhawatiran dari pihak sekolah, orang tua siswa, serta masyarakat luas.
Hujan deras mengguyur wilayah Cibolangkaler sejak pagi hari hingga menjelang siang. Debit air yang tinggi membuat saluran air tidak mampu menampung alirannya. Akibatnya, air meluap dan masuk ke kawasan sekolah.
Sekitar pukul 12.00 WIB, genangan mulai memasuki area ruang kelas. Tak butuh waktu lama, air setinggi betis hingga pinggang orang dewasa menenggelamkan meja, kursi, serta perangkat elektronik di dalam ruang belajar. Laboratorium komputer yang berisi puluhan unit perangkat juga ikut terendam.
Salah seorang warga, Asep (45), menuturkan bahwa banjir kali ini berbeda dari biasanya. “Biasanya kalau hujan deras, air cuma lewat di jalan depan sekolah. Tapi sekarang masuk sampai ke ruang kelas. Banyak barang yang rusak, terutama komputer dan buku-buku,” ujarnya.
Akibat banjir ini, kegiatan belajar mengajar di MTs Al Masthuriyah terpaksa dihentikan sementara. Pihak sekolah bersama guru dan siswa harus bergotong-royong membersihkan ruangan dari lumpur dan sisa genangan.
Kepala MTs Al Masthuriyah, Siti Rahmawati, menjelaskan bahwa kerusakan paling parah terjadi di ruang laboratorium komputer. “Sebagian besar perangkat komputer tidak bisa digunakan lagi. Buku pelajaran, arsip, dan dokumen sekolah juga rusak terkena air,” kata Siti.
Ia menambahkan, proses pembelajaran untuk sementara dialihkan ke ruang kelas darurat serta menggunakan metode pembelajaran alternatif. “Kami berharap ada bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat, karena kerugian ini cukup besar dan berdampak pada kelancaran pendidikan siswa,” ungkapnya.
Sejumlah warga menduga bahwa banjir ini dipicu oleh penyempitan saluran air di sekitar lokasi pembangunan Tol Bocimi. Proyek strategis nasional tersebut tengah dalam tahap pengerjaan di beberapa titik wilayah Sukabumi.
Menurut keterangan warga, aliran air yang sebelumnya lancar kini menyempit akibat tertutup material proyek. Hal ini membuat air meluap ke pemukiman dan fasilitas umum, termasuk sekolah.
“Kami tidak menolak pembangunan tol, tapi dampaknya harus diperhatikan. Jangan sampai masyarakat yang jadi korban banjir,” tegas Dedi (50), warga Kampung Tipar.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi telah turun ke lokasi untuk melakukan pendataan. Tim BPBD bersama relawan membantu evakuasi barang-barang sekolah yang masih bisa diselamatkan.
Kepala BPBD Sukabumi, Hendra Gunawan, mengatakan pihaknya segera melakukan koordinasi dengan instansi terkait. “Kami masih melakukan asesmen dampak kerusakan. Dalam waktu dekat, akan ada langkah darurat untuk memastikan kegiatan belajar tetap berjalan. Kami juga akan menyampaikan laporan kepada pemerintah provinsi,” ucap Hendra.
Sementara itu, pihak kontraktor pembangunan Tol Bocimi diminta bertanggung jawab atas dampak lingkungan yang ditimbulkan. Sejumlah aktivis lingkungan juga menyoroti pentingnya kajian amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) yang lebih ketat agar peristiwa serupa tidak terulang.
Berdasarkan perkiraan awal, kerugian materi akibat banjir ini mencapai puluhan juta rupiah. Kerusakan meliputi:
Puluhan unit komputer rusak total. Meja, kursi, dan peralatan belajar hancur terendam air. Buku-buku pelajaran dan dokumen penting tidak bisa dipakai lagi. Infrastruktur bangunan retak dan lembab akibat terendam dalam waktu lama.
Kerugian ini tentu menjadi beban berat bagi pihak sekolah yang mayoritas siswanya berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Di balik musibah tersebut, tampak semangat gotong royong masyarakat masih terjaga. Orang tua siswa, warga sekitar, serta relawan bergabung membersihkan sisa lumpur di ruang kelas. Para siswa pun turut membantu dengan memindahkan kursi dan meja yang masih bisa digunakan.
“Meski sedih melihat sekolah kebanjiran, kami harus tetap semangat. Semoga ada jalan keluar dan bantuan,” ujar Nurul (14), salah satu siswi kelas IX.
Ahli tata kota dari Universitas Pasundan, Bandung, Dr. Agus Pratama, menilai banjir di kawasan pendidikan ini menjadi alarm serius bagi pengelolaan lingkungan di sekitar proyek infrastruktur besar.
“Setiap proyek strategis, apalagi tol, wajib memiliki drainase memadai. Jika saluran air menyempit, maka limpasan hujan akan mencari jalan lain, termasuk masuk ke sekolah atau pemukiman. Pemerintah dan kontraktor harus segera memperbaiki sistem drainase di area proyek,” jelas Agus.
Pemerintah daerah bersama pihak sekolah berencana membangun tanggul sementara di sekitar kawasan sekolah untuk mencegah air masuk kembali apabila hujan deras melanda. Selain itu, sistem pembuangan air di area sekolah akan diperbaiki dengan bantuan teknis dari dinas terkait.
BPBD juga mengimbau masyarakat tetap waspada mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah Jawa Barat dalam beberapa minggu ke depan.
Banjir yang merendam MTs Al Masthuriyah Sukabumi pada Kamis siang (11/9/2025) menjadi pengingat penting bahwa pembangunan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan perhatian terhadap lingkungan sekitar.
Kerugian yang dialami dunia pendidikan akibat bencana ini cukup besar, namun semangat gotong royong masyarakat menunjukkan bahwa setiap ujian dapat dihadapi bersama. Kini, masyarakat menantikan langkah nyata dari pemerintah daerah dan pihak terkait untuk memberikan solusi jangka panjang agar kejadian serupa tidak terulang kembali. (Abd/abd).



















