Berita Daerah

Anak Papua Kibarkan Merah Putih Tanpa Sepatu: Potret Ketulusan di Tengah Keterbatasan

657
×

Anak Papua Kibarkan Merah Putih Tanpa Sepatu: Potret Ketulusan di Tengah Keterbatasan

Sebarkan artikel ini

Papua Sela­tan, SniperNew.id – Sebuah video yang beredar di media sosial Threads meman­tik per­ha­t­ian pub­lik. Video terse­but menampilkan anak-anak Seko­lah Dasar Inpres (SDI) Isya­man, Kabu­pat­en Map­pi, Papua Sela­tan, yang den­gan penuh seman­gat melak­sanakan tugas seba­gai Pasukan Pen­gibar Ben­dera (Pask­i­bra) dalam peringatan HUT RI ke-80.

Namun ada satu hal yang mem­bu­at pub­lik terenyuh: mere­ka melak­sanakan tugas sakral itu tan­pa men­ge­nakan sep­a­tu.

Ung­ga­han dari akun benisu­lastiyo menuliskan keteran­gan yang meny­ingkap fak­ta di balik momen terse­but. Pask­i­branya ga pake sep­a­tu, kare­na memang ga pun­ya sep­a­tu dan ga mam­pu mem­be­linya! 😲 Dalam keter­batasan, adik-adik ini tetap seman­gat kibarkan ben­dera mer­ah putih dalam mem­peringati HUT RI ke 80. Lokasi: SDI Isya­man, Kabu­pat­en Map­pi, Provin­si Papua Sela­tan. #upacaraben­dera #map­pi #papuase­la­tan”

Video terse­but meman­tik ribuan komen­tar dari war­ganet. Ada yang teringat pen­gala­man masa kecil di Papua, ada pula yang mengkri­tik pemer­in­tah kare­na dini­lai belum mam­pu mem­berikan fasil­i­tas yang layak bagi anak-anak di wilayah pelosok.

  Masyarakat Maniksilau Kompak Bersihkan Jalan Desa dan Lingkungan Kampung

Seo­rang war­ganet berna­ma mumuh960 mencer­i­takan pen­gala­man­nya saat trans­mi­grasi ke Papua, tepat­nya di Nabire.

“Dulu saya trans­mi­grasi ke Iri­an Jaya, tepat­nya di Nabire. Di Papua kebanyakan anak-anak seko­lah nyek­er atau pakai san­dal jepit, kare­na di sana panas luar biasa. Saya dulu wak­tu SD kelas 2 sam­pai kelas 5 jarang sekali pakai sep­a­tu, lebih nya­man pakai san­dal jepit. Jan­gan salahkan pemer­in­tah, di sana yang dini­lai bukan luarnya tapi kecer­dasan dan seman­gat untuk seko­lah.”

Komen­tar lain datang dari akun arix_geg yang mene­gaskan seman­gat anak-anak Papua mes­ki dalam keter­batasan.

“Map­pi tem­patku bertu­gas dulu. Seman­gat ya anak-anak bangsa, walau pun den­gan keter­batasan kalian harus jadi anak yang ter­baik.”

Ada pula war­ganet yang mem­berikan seman­gat den­gan nada penuh kasih. Akun sabeena_220512 menuliskan:

“Saudara ku di Papua kalian semua hebat. Seman­gat anak-anakku, calon orang-orang suk­ses.”

War­ganet lain­nya, herry_purnomo, menggam­barkan kon­disi geografis Map­pi yang penuh tan­ta­n­gan.

“Di Dis­trik Isya­man Kabu­pat­en Map­pi – Papua Sela­tan kon­disi daer­ah­nya berlumpur/rawa. Alat trans­portasi uta­ma adalah per­ahu yang melin­tasi sun­gai dan rawa. Anak-anak yang hebat, tetap seman­gat di ten­gah tan­ta­n­gan alam.”

Namun tidak sedik­it pula yang menyuarakan kri­tik ter­hadap pemer­in­tah. Seper­ti komen­tar dari mamas_di29:

  Jembatan Silau Padang Rampung, Warga Bersyukur—Akses Jalan Masih Jadi PR Pemerintah

“Tu buka mata lu para pemimpin negeri ini. Lu bilang kita udah merde­ka dan sejahtera… Kalau meli­hat, lihat­lah yang pal­ing bawah. Jan­gan men­don­gak ke atas lu pada.”

Bahkan ada war­ganet yang meni­tip­kan hara­pan kepa­da Pres­i­den Jokowi. Akun has­bial­hamdy menulis. “Pak Jokowi, kapan men­gun­jun­gi Papua lagi? Saya titip sep­a­tu buat mere­ka ya, Paak.”

Lebih jauh, komen­tar war­ganet juga mencer­minkan kere­sa­han yang lebih besar men­ge­nai kon­disi sosial, poli­tik, dan ekono­mi di Papua.

Akun ana­ni­as­tak­lale menuliskan kri­tik yang cukup tajam. “Buk­ti bah­wa mere­ka menc­in­tai negeri ini, tetapi negeri ini dan pemimpin tidak menc­in­tai mere­ka. Semoga suatu saat nan­ti semua bisa berubah sesuai hara­pan raky­at khusus­nya raky­at Papua. Indone­sia hanya bisa baik keti­ka dip­impin oleh sese­o­rang yang mau melayani den­gan tulus tan­pa embel-embel kepentin­gan.”

Semen­tara itu, akun mbahchris1973 meny­oroti ketim­pan­gan antara kekayaan alam Papua den­gan kese­jahter­aan masyarakat­nya.

“Papua san­gat kaya dari hasil buminya… tapi miris meli­hat pen­duduknya yang masih miskin. Kare­na har­ta dibawa ke Jakar­ta dan diko­rup­si bera­mai-ramai sehing­ga tidak seim­bang kehidu­pan raky­at Papua. Nggak her­an kalau mere­ka menyuarakan di PBB ingin mendirikan negara sendiri atau lep­as dari Indone­sia. Raky­at dite­lan­tarkan, korup­tor diter­nak.”

Fenom­e­na anak-anak Pask­i­bra di Papua yang tidak memakai sep­a­tu saat upacara ben­dera bukan sekadar potret kemiski­nan, tetapi juga sim­bol ketu­lu­san dan nasion­al­isme. Di ten­gah keter­batasan fasil­i­tas pen­didikan, sulit­nya akses trans­portasi, dan keter­batasan ekono­mi, anak-anak di pelosok Papua tetap menun­jukkan seman­gat ting­gi untuk men­gibarkan ben­dera mer­ah putih.

  Polemik Biaya Seragam SMKN 9 Bandar Lampung, Wali Murid Mengeluh, LSM Desak Disdik Audit Lapangan

Bagi seba­gian masyarakat Papua, sep­a­tu memang bukan­lah kebu­tuhan uta­ma. Fak­tor geografis, budaya, dan iklim tro­pis mem­bu­at mere­ka ter­biasa ber­jalan tan­pa alas kaki atau sekadar memakai san­dal jepit. Namun, dalam kon­teks pen­didikan nasion­al, sep­a­tu seko­lah men­ja­di salah satu sim­bol kese­taraan yang seharus­nya dap­at diak­ses oleh semua anak Indone­sia.

Video yang viral ini seakan men­ja­di cer­min bagi bangsa. Di satu sisi, ia mem­per­li­hatkan cin­ta tulus anak-anak Papua ter­hadap Indone­sia. Di sisi lain, ia sekali­gus mengin­gatkan bah­wa masih banyak peker­jaan rumah yang harus dis­e­le­saikan negara dalam mewu­jud­kan pemer­ataan pem­ban­gu­nan dan kese­jahter­aan.

Seman­gat anak-anak Pask­i­bra di Map­pi men­ga­jarkan bah­wa cin­ta tanah air bukan diukur dari kelengka­pan ser­agam atau mahal­nya sep­a­tu, melainkan dari ketu­lu­san dan keikhlasan dalam men­ja­ga sim­bol negara. Namun, sudah sep­a­tut­nya negara hadir lebih nya­ta, agar anak-anak di Papua tidak lagi harus berka­ta: “Maaf ga pun­ya sep­a­tu, kakak.”

Edi­tor: (Ahmad).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *