Padang, SniperNew.id - Angin puting beliung kembali melanda wilayah Kota Padang. Kali ini bencana angin kencang berputar tersebut menerjang kawasan Ulak Karang Selatan, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, pada Minggu pagi, 7 September 2025, sekitar pukul 09.20 WIB.
Peristiwa yang berlangsung singkat itu menyebabkan dua rumah warga mengalami kerusakan parah. Atap rumah mereka beterbangan dan sebagian besar bangunan terangkat hingga menimbulkan kerugian material yang tidak sedikit.
Kejadian ini sempat direkam dalam bentuk video oleh warga dan tersebar melalui grup WhatsApp hingga kemudian diunggah kembali oleh akun media sosial info_lintassumbar.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dua kepala keluarga menjadi korban terdampak langsung akibat terjangan puting beliung tersebut.
- Muhammad Nasir (42 tahun). Pekerjaan: Nelayan. Alamat: Ulak Karang Selatan, Padang Utara
Rumahnya mengalami kerusakan cukup parah setelah atapnya terlepas terbongkar diterjang angin kencang.
- Ferry Fernando (41 tahun). Pekerjaan: Buruh harian lepas. Alamat: Masih satu kawasan dengan korban pertama. Rumahnya juga mengalami kerusakan hampir di seluruh bagian atap.
Kedua korban kini harus menanggung beban berat akibat musibah ini. Mereka kehilangan tempat tinggal yang layak huni dan terpaksa memperbaiki kembali rumah dengan biaya cukup besar.
Menurut laporan warga, angin puting beliung datang tiba-tiba tanpa tanda-tanda khusus sebelumnya. Cuaca di wilayah tersebut sebenarnya dalam kondisi mendung, namun tidak lama kemudian angin berputar kencang menerjang kawasan padat penduduk itu.
Puting beliung tersebut mengakibatkan atap rumah warga terangkat dan beterbangan, bahkan sebagian bangunan porak poranda. Meski hanya berlangsung beberapa menit, kekuatannya cukup untuk merobohkan material bangunan yang sudah berdiri puluhan tahun.
Kerugian akibat bencana alam tersebut diperkirakan mencapai Rp 10 juta. Perhitungan awal didasarkan pada kerusakan material bangunan rumah, terutama bagian atap, rangka kayu, serta sejumlah perabotan rumah tangga yang ikut rusak terkena hujan deras setelah atap hilang.
Namun angka ini masih merupakan perkiraan awal. Jika dilakukan pendataan lebih lanjut oleh pemerintah setempat maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, nilai kerugian bisa saja bertambah besar.
Insiden ini terjadi pada Minggu pagi, 7 September 2025, sekitar pukul 09.20 WIB. Warga yang masih beraktivitas di rumah masing-masing mendadak panik setelah mendengar suara gemuruh dan tiupan angin kencang yang berputar.
Dalam hitungan menit, atap rumah korban terangkat dan beterbangan. Beberapa bagian kayu penyangga juga ikut roboh sehingga menimbulkan suasana panik di sekitar lokasi.
Lokasi terdampak bencana berada di kawasan Ulak Karang Selatan, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat.
Wilayah ini dikenal cukup padat penduduk dengan rumah-rumah permanen berdiri rapat. Kondisi inilah yang membuat dampak kerusakan terasa signifikan meski hanya dua rumah utama yang tercatat mengalami kerusakan parah.
Menurut keterangan warga sekitar, sebelum kejadian langit tampak mendung. Tiba-tiba angin kencang berputar muncul dan dalam hitungan detik langsung menghantam beberapa rumah.
Warga berhamburan keluar rumah menyelamatkan diri, sebagian lain berusaha menutup pintu dan jendela agar tidak terbawa angin. Setelah angin reda, terlihat jelas atap rumah dua warga sudah terlepas dari tempatnya.
Beberapa warga segera memberikan pertolongan kepada korban, mengevakuasi barang-barang berharga, serta membersihkan puing-puing material bangunan.
Video amatir yang beredar memperlihatkan kondisi rumah dengan atap terbuka lebar, rangka kayu terlihat jelas, dan beberapa bagian rumah rusak berat.
Hingga berita ini ditulis, pemerintah setempat melalui aparat kelurahan dan kecamatan sudah turun ke lokasi melakukan pendataan awal.
Selain itu, relawan dan tetangga sekitar ikut membantu mengevakuasi barang-barang korban agar tidak semakin rusak. Bantuan darurat berupa material seadanya seperti terpal juga diberikan agar rumah korban bisa ditutupi sementara.
Pemerintah daerah diharapkan segera menyalurkan bantuan perbaikan rumah, baik berupa dana stimulan maupun material bangunan, agar korban bisa kembali memiliki rumah layak huni.
Muhammad Nasir, salah seorang korban, mengaku kaget dengan kejadian tersebut. “Saya sedang di rumah bersama keluarga, tiba-tiba terdengar suara gemuruh, atap langsung terangkat. Kami hanya bisa menyelamatkan diri keluar,” ujarnya.
Sementara itu, Ferry Fernando mengungkapkan hal senada. Menurutnya, angin datang begitu cepat dan tidak memberi kesempatan banyak untuk menyelamatkan barang-barang di dalam rumah. “Semua terjadi dalam hitungan menit, atap rumah habis terangkat. Kami benar-benar kaget,” katanya.
Warga sekitar juga menyatakan rasa prihatin mendalam. Mereka berusaha memberikan dukungan moral maupun tenaga untuk membantu korban membersihkan sisa-sisa puing rumah.
Fenomena puting beliung sering terjadi di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Barat, terutama pada saat musim pancaroba. Menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), angin puting beliung biasanya muncul akibat pertemuan dua massa udara berbeda dengan kondisi atmosfer tidak stabil.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap cuaca ekstrem, terutama jika langit tampak mendung gelap, disertai tiupan angin kencang. Masyarakat diimbau segera mencari tempat aman jika tanda-tanda angin puting beliung mulai terlihat.
Kerugian akibat bencana puting beliung memang terasa berat, terlebih bagi warga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah seperti nelayan dan buruh harian lepas. Mereka tentu membutuhkan uluran tangan, baik dari pemerintah, lembaga sosial, maupun masyarakat luas.
Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa dana maupun material bangunan, tetapi juga dukungan psikologis agar korban tetap tabah menghadapi musibah. Solidaritas sosial menjadi kunci agar pemulihan pascabencana bisa berjalan lebih cepat.
Peristiwa angin puting beliung yang menerjang Ulak Karang Selatan, Padang Utara, Minggu pagi 7 September 2025, menjadi pengingat bahwa bencana bisa datang kapan saja tanpa diduga. Dua rumah warga mengalami kerusakan parah, yakni milik Muhammad Nasir dan Ferry Fernando.
Kerugian sementara ditaksir mencapai Rp10 juta. Pemerintah setempat sudah turun tangan melakukan pendataan dan penanganan awal. Warga sekitar juga menunjukkan kepedulian dengan membantu korban membersihkan puing-puing rumah.
Meski demikian, korban tetap membutuhkan bantuan lebih lanjut untuk membangun kembali rumah mereka. Bencana ini juga menjadi momentum bagi semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang bisa datang sewaktu-waktu. (Ahm/Red)













