Aceh, SniperNew.id — Sejumlah warga Aceh menyampaikan keluhan terkait lambatnya proses evakuasi dan penanganan banjir besar yang terjadi dalam dua hari terakhir. Keluhan tersebut disampaikan melalui unggahan dan diskusi di platform media sosial Threads oleh akun isfaniyunus, yang terdampak langsung oleh bencana tersebut.
Dalam unggahan videonya, isfaniyunus memperlihatkan kondisi banjir dengan arus deras dan material lumpur yang menghantam permukiman. Ia menyebut bahwa di negara maju, helikopter dan perahu karet tim SAR biasanya sudah dikerahkan sejak awal untuk mengevakuasi warga.
“Kalau banjir di negara maju, helikopter sejak kemarin sudah mutar-mutar buat evakuasi warga. Tapi ini di Indonesia, untuk menerbangkan helikopter atau menggerakkan tim SAR harus menunggu izin berjenjang dan SOP berlapis,” tulisnya.
Warga lain menimpali bahwa perahu karet tidak selalu dapat beroperasi pada arus sekuat itu karena berisiko terseret, sementara helikopter pun hanya dapat mengevakuasi korban pada kondisi tertentu. Mereka menekankan bahwa operasi penyelamatan harus mengikuti prosedur keselamatan.
Sementara itu, beberapa warga membandingkan penanganan banjir di Aceh dengan respons internasional saat tsunami 2004, ketika bantuan dari berbagai negara datang dengan cepat. Namun pembahasan tersebut sempat melebar hingga menyinggung isu politik, sehingga pemilik akun mengingatkan agar diskusi tetap fokus pada kondisi darurat yang sedang berlangsung.
Dalam tanggapannya, isfaniyunus menjelaskan bahwa sejak lebih dari 24 jam, sebagian wilayah dilaporkan mengalami pemadaman listrik, gangguan telepon, dan hilangnya akses internet. Penetapan status Darurat Bencana oleh pemerintah daerah baru diumumkan pada sore harinya, sementara beberapa kecamatan masih terisolasi tanpa jaringan komunikasi.
Warga juga berharap helikopter yang sebelumnya tertahan akibat kondisi angin dapat segera diterbangkan menuju wilayah terdampak untuk mengevakuasi penduduk yang masih terjebak banjir.
Unggahan tersebut mendapat ratusan interaksi dari pengguna Threads lainnya, yang turut menyampaikan dukungan, kritik, serta keprihatinan atas lambatnya penanganan bencana.
Penulis Iskandar












