Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Peristiwa

Begal Berkedok Debt Collector Marak di Tangerang

201
×

Begal Berkedok Debt Collector Marak di Tangerang

Sebarkan artikel ini

Tangerang, SniperNew.id – Aksi keja­hatan den­gan modus berpu­ra-pura seba­gai petu­gas leas­ing atau debt col­lec­tor kem­bali mere­sahkan masyarakat Kabu­pat­en Tangerang. Peri­s­ti­wa ter­baru ter­ja­di di kawasan Jalan Raya Serang – Ciku­pa, tepat­nya di dekat Pabrik Tora­bi­ka, pada Rabu (10/9).

Kasus ini men­ja­di per­ha­t­ian pub­lik sete­lah reka­man insi­d­en beredar di media sosial, menun­jukkan bagaimana pelaku meng­hadang pen­gen­dara motor dan memak­sa kor­ban meny­er­ahkan kendaraan, Kamis (11/09).

Menu­rut infor­masi yang dihim­pun melalui ung­ga­han akun media sosial Tre­ands “ikn­pos.” peri­s­ti­wa bermu­la keti­ka kor­ban sedang melin­tas meng­gu­nakan sepe­da motor di jalur uta­ma Jalan Raya Serang – Ciku­pa. Tiba-tiba, beber­a­pa orang tak dike­nal meng­hadang laju kendaraan kor­ban. Pelaku kemu­di­an men­gaku seba­gai pihak dari perusa­haan leas­ing yang bertu­gas menag­ih kred­it kendaraan. Den­gan dal­ih motor bermasalah dalam pem­ba­yaran, kor­ban dipak­sa berhen­ti dan meny­er­ahkan kendaraan­nya.

Tidak berhen­ti di situ, kor­ban juga men­gala­mi intim­i­dasi ver­bal. Saat berusa­ha men­doku­men­tasikan keja­di­an den­gan pon­sel, kor­ban jus­tru men­da­p­at per­lakuan kasar. Tin­dakan kek­erasan ini mem­bu­at kor­ban semakin ter­po­jok dan tidak ber­daya.

Pelaku dalam kasus ini dise­but-sebut berjum­lah lebih dari satu orang. Mere­ka berpe­nampi­lan layaknya debt col­lec­tor den­gan gaya meyakinkan, meng­gu­nakan paka­ian kasu­al dan men­gen­darai sepe­da motor. Tujuan uta­ma mere­ka adalah meyakinkan kor­ban bah­wa tin­dakan terse­but sah secara hukum, pada­hal sebe­narnya tidak ada dasar res­mi.

Modus semacam ini bukan per­ta­ma kali ter­ja­di. Dalam beber­a­pa kasus seru­pa di wilayah Tangerang, pelaku biasanya meng­in­car pen­gen­dara motor yang melin­tas sendiri­an. Mere­ka menyasar kendaraan roda dua yang relatif baru dan memi­li­ki nilai jual ting­gi. Den­gan berpu­ra-pura seba­gai penag­ih utang, pelaku lebih mudah menekan kor­ban agar meny­er­ahkan motor tan­pa per­lawanan.

  CCTV Sahur: Rumah DPRD Bogor Nyaris Dibobol

Insi­d­en berlang­sung di Jalan Raya Serang – Ciku­pa, salah satu jalur padat yang menghubungkan berba­gai kawasan indus­tri di Kabu­pat­en Tangerang. Lokasi ini dike­nal ramai dilalui kendaraan prib­a­di, angku­tan umum, hing­ga truk logis­tik. Namun, mes­ki ramai, kasus keja­hatan seper­ti ini masih bisa ter­ja­di kare­na pelaku berg­er­ak cepat dan meman­faatkan keterke­ju­tan kor­ban.

Dekat­nya lokasi keja­di­an den­gan Pabrik Tora­bi­ka juga mem­bu­at pub­lik semakin meny­oroti kasus ini. Jalan di sek­i­tar pabrik ker­ap dilalui peker­ja yang pulang-per­gi pada jam ter­ten­tu, sehing­ga tingkat ker­awanan ter­bilang ting­gi.

Peri­s­ti­wa berlang­sung pada Selasa, 10 Sep­tem­ber 2025, siang hari. Wak­tu keja­di­an yang bera­da di jam pro­duk­tif jus­tru mem­per­li­hatkan keberan­ian pelaku dalam melan­car­kan aksinya. Hal ini sekali­gus menun­jukkan lemah­nya pen­gawasan di lapan­gan, kare­na aksi krim­i­nal bisa ter­ja­di secara terang-teran­gan di jalan umum.

Motif uta­ma dari aksi begal berke­dok debt col­lec­tor ini jelas untuk men­gua­sai kendaraan kor­ban. Sepe­da motor hasil ram­pasan kemu­ngk­i­nan besar akan dijual kem­bali den­gan har­ga mir­ing atau dipreteli untuk dijual seba­gai onderdil.

Selain itu, modus men­gaku seba­gai debt col­lec­tor sen­ga­ja dip­il­ih kare­na menim­bulkan ker­aguan pada kor­ban. Banyak masyarakat awam yang tidak mema­ha­mi perbe­daan antara penag­i­han res­mi leas­ing den­gan prak­tik liar di lapan­gan. Keti­adaan surat res­mi dan prose­dur hukum ser­ing kali dia­baikan oleh kor­ban yang ketaku­tan. Hal ini­lah yang diman­faatkan pelaku untuk men­jalankan keja­hatan.

Beri­ta ten­tang kasus ini memicu gelom­bang reak­si keras dari war­ganet. Banyak masyarakat meni­lai aparat pene­gak hukum per­lu segera turun tan­gan kare­na kasus seru­pa sudah beru­lang kali ter­ja­di.

Beber­a­pa komen­tar di media sosial meny­oroti lemah­nya pen­gawasan perusa­haan leas­ing dalam men­gatur penag­ih utang. Pub­lik berharap pihak leas­ing mem­berikan keje­lasan terkait sia­pa saja yang sah bertu­gas seba­gai debt col­lec­tor. Transparan­si semacam ini pent­ing agar masyarakat tidak mudah ter­tipu oleh pelaku krim­i­nal yang men­gaku-ngaku dari leas­ing.

War­ga sek­i­tar Jalan Raya Serang – Ciku­pa juga men­gaku resah. Mere­ka khawatir peri­s­ti­wa seru­pa menim­pa kelu­ar­ga atau rekan ker­ja, mengin­gat kawasan terse­but meru­pakan jalur vital bagi ribuan peker­ja pabrik seti­ap harinya.

  Mobilio ‘Atraksi’ di SPBU Bener, Nyaris Telan Korban

Mes­ki hing­ga kini belum ada perny­ataan res­mi dari kepolisian terkait insi­d­en 10 Sep­tem­ber itu, kasus seru­pa sebelum­nya per­nah ditin­dak. Polisi biasanya mengin­gatkan masyarakat untuk tidak mudah meny­er­ahkan kendaraan tan­pa surat res­mi peny­i­taan dari pen­gadi­lan.

Pakar hukum pidana juga mene­gaskan bah­wa tin­dakan mer­am­pas kendaraan tan­pa prose­dur hukum meru­pakan tin­dak pidana. Mes­ki pelaku men­gaku seba­gai debt col­lec­tor, peny­i­taan kendaraan tidak bisa dilakukan secara sepi­hak di jalan raya. Perusa­haan leas­ing wajib men­em­puh jalur hukum untuk menarik kendaraan bermasalah.

Kasus ini mene­gaskan pent­ingnya edukasi kepa­da masyarakat. Ada beber­a­pa langkah yang bisa dilakukan war­ga agar ter­hin­dar dari modus keja­hatan semacam ini:

1. Mem­inta Surat Res­mi – Jika ada yang men­gaku seba­gai debt col­lec­tor, minta selalu menun­jukkan surat tugas res­mi dari leas­ing ser­ta doku­men hukum peny­i­taan.

2. Tidak Panik – Tetap ten­ang dan jan­gan lang­sung meny­er­ahkan kendaraan.

3. Hubun­gi Polisi – Segera hubun­gi pihak kepolisian atau pos ter­dekat bila merasa diin­tim­i­dasi.

4. Laporkan ke Leas­ing – Kon­fir­masi ke perusa­haan leas­ing terkait sta­tus kred­it kendaraan.

5. Gunakan Jalur Ramai – Usa­hakan selalu mele­wati jalur yang ramai dan terang untuk men­gu­ran­gi risiko keja­hatan.

Fenom­e­na begal berke­dok debt col­lec­tor bukan hanya isu krim­i­nal sema­ta, tetapi juga masalah sosial dan hukum. Di satu sisi, perusa­haan leas­ing memang memi­li­ki hak untuk menarik kendaraan yang macet kred­it. Namun, pelak­sanaan hak itu harus melalui mekanisme hukum yang jelas. Peny­i­taan sepi­hak di jalan raya tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga menim­bulkan keti­dakper­cayaan pub­lik ter­hadap lem­ba­ga pem­bi­ayaan.

Masyarakat diim­bau lebih was­pa­da dan mema­ha­mi hak-hak hukum­nya. Aparat pene­gak hukum pun ditun­tut tegas menin­dak pelaku yang men­catut nama debt col­lec­tor untuk kepentin­gan krim­i­nal. Tan­pa langkah tegas, kasus seru­pa berpoten­si terus beru­lang dan menim­bulkan kere­sa­han.

Fenom­e­na ini mem­per­li­hatkan adanya celah hukum dan lemah­nya pen­gawasan. Dalam reg­u­lasi, penarikan kendaraan bermo­tor oleh leas­ing harus berdasarkan putu­san pen­gadi­lan atau per­se­tu­juan ter­tulis dari kon­sumen. Artinya, tin­dakan yang dilakukan secara sepi­hak oleh orang tak dike­nal jelas meru­pakan pelang­garan hukum.

  Video Lansia Terjebak Banjir Medan Gegerkan Warga

Namun, kare­na banyak masyarakat tidak mema­ha­mi atu­ran itu, pelaku den­gan mudah meman­faatkan keti­dak­tahuan kor­ban. Apala­gi, intim­i­dasi dan anca­man fisik mem­bu­at kor­ban tidak pun­ya pil­i­han selain meny­er­ahkan kendaraan.

Jika dib­iarkan, modus ini bisa berkem­bang men­ja­di sindikat keja­hatan teror­gan­isir. Kendaraan hasil ram­pasan bisa masuk ke jaringan pen­jualan ile­gal, sehing­ga menim­bulkan keru­gian besar bagi masyarakat maupun negara.

Perusa­haan leas­ing memi­li­ki tang­gung jawab moral dan hukum untuk memas­tikan bah­wa semua debt col­lec­tor yang bertu­gas benar-benar res­mi, terdaf­tar, dan mengiku­ti prose­dur. Infor­masi ten­tang iden­ti­tas dan wewe­nang debt col­lec­tor seharus­nya dis­osial­isas­ikan secara ter­bu­ka kepa­da nasabah.

Den­gan begi­tu, masyarakat bisa mem­be­dakan mana debt col­lec­tor res­mi dan mana yang hanya kedok pen­ja­hat jalanan.

Masyarakat berharap kasus ini segera ditan­gani aparat kepolisian den­gan cepat dan transparan. Penangka­pan pelaku bukan hanya untuk mem­berikan rasa aman, tetapi juga mem­berikan efek jera kepa­da pihak-pihak yang men­co­ba melakukan hal seru­pa.

Selain itu, war­ga mende­sak adanya patroli rutin di jalur-jalur rawan seper­ti Jalan Raya Serang – Ciku­pa. Patroli terse­but diyaki­ni mam­pu menekan angka keja­hatan jalanan, ter­ma­suk begal berke­dok debt col­lec­tor.

Kasus begal berke­dok debt col­lec­tor di Kabu­pat­en Tangerang ini men­ja­di alarm keras bagi masyarakat, aparat, dan perusa­haan leas­ing. Modus krim­i­nal yang meman­faatkan celah hukum dan keti­dak­tahuan war­ga ter­buk­ti san­gat merugikan.

Peri­s­ti­wa yang ter­ja­di pada 10 Sep­tem­ber di Jalan Raya Serang – Ciku­pa mene­gaskan bah­wa anca­man keja­hatan bisa ter­ja­di kapan saja, bahkan di ten­gah kera­ma­ian. Oleh kare­na itu, kewas­padaan, pema­haman hukum, ser­ta kete­gasan aparat men­ja­di kun­ci uta­ma untuk mence­gah kasus seru­pa teru­lang.

Masyarakat diim­bau untuk selalu berhati-hati, men­ge­nali modus-modus keja­hatan baru, dan tidak ragu mela­por ke pihak berwe­nang jika men­e­mukan tin­dakan men­curi­gakan di jalan raya. (Abdd)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *