Berita Peristiwa

Kisruh Debt Collector di Labuhanbatu: Penarikan Kendaraan Paksa Picu Kericuhan

669
×

Kisruh Debt Collector di Labuhanbatu: Penarikan Kendaraan Paksa Picu Kericuhan

Sebarkan artikel ini

Labuhan Batu, SniperNew.id - Sebuah insi­d­en mem­anas ter­ja­di di Rantau Pra­p­at, Kabu­pat­en Labuhan­batu, Sumat­era Utara, pada Sab­tu (20/09). Sejum­lah penag­ih utang atau yang lebih dike­nal den­gan sebu­tan debt col­lec­tor dari salah satu perusa­haan leas­ing di wilayah terse­but ter­li­bat dalam aksi kek­erasan saat men­co­ba melakukan peny­i­taan kendaraan bermo­tor dari seo­rang deb­itur, Sab­tu (20/09/25).

Aksi penarikan kendaraan ini men­u­ai protes kare­na diduga dilakukan tan­pa prose­dur hukum yang sah. Dua orang pria yang berusa­ha menghen­tikan dan mence­gah tin­dakan para debt col­lec­tor jus­tru men­ja­di kor­ban pengeroyokan. Peri­s­ti­wa terse­but lang­sung meman­tik per­ha­t­ian pub­lik, teruta­ma kare­na prak­tik semacam ini ker­ap ter­ja­di di berba­gai daer­ah Indone­sia dan menim­bulkan kere­sa­han masyarakat.

Menu­rut infor­masi yang beredar di media sosial dan ung­ga­han sejum­lah akun pub­lik, ter­ma­suk dari Medi­a­gra­min­do, penag­i­han dilakukan oleh sekelom­pok debt col­lec­tor dari sebuah leas­ing di Rantau Pra­p­at. Mere­ka men­co­ba menarik pak­sa kendaraan bermo­tor den­gan dal­ih adanya tung­gakan kred­it. Namun, cara yang ditem­puh tidak melalui mekanisme hukum yang berlaku.

Keti­ka dua orang pria berusa­ha meng­hadang dan meno­lak penarikan pak­sa terse­but, situ­asi berubah ricuh. Mere­ka jus­tru men­ja­di kor­ban pengeroyokan oleh para debt col­lec­tor. Insi­d­en kek­erasan ini pun menim­bulkan reak­si keras dari war­ga sek­i­tar yang menyak­sikan keja­di­an.

  Kakek Dihalangi Saat Hendak ke Masjid Karena Jalan Dipakai Hajatan

Pihak yang ter­li­bat dalam insi­d­en ini adalah:

1. Debt col­lec­tor dari perusa­haan leas­ing yang berop­erasi di Rantau Pra­p­at, Kabu­pat­en Labuhan­batu.

2. Dua pria kor­ban pengeroyokan, yang berusa­ha menghen­tikan tin­dakan penarikan pak­sa kendaraan.

3. War­ga sek­i­tar, yang turut menyak­sikan peri­s­ti­wa terse­but dan seba­gian men­co­ba mel­erai.

4. Pemer­in­tah dan aparat hukum, yang dim­inta turun tan­gan untuk mene­gakkan atu­ran sesuai perun­dang-undan­gan yang berlaku.

Insi­d­en ini berlang­sung pada Sab­tu, 20 Sep­tem­ber 2025, di wilayah Rantau Pra­p­at, Kabu­pat­en Labuhan­batu, Sumat­era Utara. Lokasi tepat­nya tidak dise­butkan secara rin­ci, namun video keja­di­an beredar luas melalui media sosial dan memicu reak­si neti­zen.

Ada beber­a­pa fak­tor penye­bab men­ga­pa insi­d­en seper­ti ini bisa beru­lang kali ter­ja­di:

1. Prose­dur hukum dia­baikan
Berdasarkan Putu­san Mahkamah Kon­sti­tusi (MK) Nomor 18/PUU-XVII/2019, pelak­sanaan eksekusi jam­i­nan fidu­sia harus dilakukan melalui mekanisme pen­gadi­lan apa­bi­la deb­itur meno­lak meny­er­ahkan barang jam­i­nan. Namun dalam prak­tiknya, banyak debt col­lec­tor di lapan­gan yang tetap melakukan penarikan pak­sa tan­pa pros­es pen­gadi­lan.

2. Kurangnya pen­gawasan
Perusa­haan leas­ing ser­ing kali meny­er­ahkan uru­san penag­i­han ke pihak keti­ga atau debt col­lec­tor. Namun, min­im­nya pen­gawasan dan edukasi hukum mem­bu­at penag­i­han ser­ing dilakukan den­gan cara intim­i­dasi bahkan kek­erasan.

3. Kurangnya pema­haman deb­itur
Banyak deb­itur tidak mema­ha­mi hak-hak mere­ka berdasarkan hukum. Aki­bat­nya, keti­ka meng­hadapi debt col­lec­tor, mere­ka ser­ing ter­je­bak dalam situ­asi yang merugikan dan tidak mam­pu melawan secara hukum.

  Bentrokan Ormas dan Debt Collector di Cengkareng, Diduga Dipicu Penarikan Paksa Motor

Men­gacu pada Putu­san MK Nomor 18/PUU-XVII/2019, mekanisme penarikan kendaraan bermo­tor yang dijaminkan pada leas­ing hanya dap­at dilakukan melalui jalur pen­gadi­lan apa­bi­la deb­itur meno­lak meny­er­ahkan­nya.

Den­gan kata lain, debt col­lec­tor tidak memi­li­ki kewe­nan­gan untuk menarik kendaraan secara sepi­hak. Apa­bi­la mere­ka tetap melakukan­nya, maka tin­dakan terse­but bisa dikat­e­gorikan seba­gai per­am­pasan atau tin­dak pidana.

Ung­ga­han video yang mem­per­li­hatkan ker­icuhan ini lang­sung men­u­ai komen­tar luas dari masyarakat. Tagar seper­ti #Bubarkan­Debt­Col­lec­tor bahkan muncul di media sosial seba­gai ben­tuk protes ter­hadap prak­tik penag­i­han yang ker­ap menim­bulkan kek­erasan.

Banyak neti­zen meni­lai bah­wa keber­adaan debt col­lec­tor jus­tru mem­per­bu­ruk cit­ra perusa­haan pem­bi­ayaan. Alih-alih menye­le­saikan masalah kred­it macet, mere­ka jus­tru menim­bulkan ketaku­tan dan kere­sa­han di ten­gah masyarakat.

Prak­tisi hukum mengin­gatkan kem­bali bah­wa hasil Putu­san MK bersi­fat final dan mengikat. Artinya, perusa­haan leas­ing wajib mematuhi mekanisme hukum yang berlaku. Jika deb­itur meno­lak meny­er­ahkan kendaraan, maka leas­ing harus men­ga­jukan per­mo­ho­nan eksekusi ke pen­gadi­lan.

Penarikan kendaraan secara pak­sa oleh debt col­lec­tor tan­pa dasar hukum dap­at dijer­at den­gan pasal-pasal pidana, ter­ma­suk tin­dak kek­erasan dan per­am­pasan.

War­ga sek­i­tar lokasi keja­di­an menge­cam keras tin­dakan para debt col­lec­tor. Mere­ka meni­lai tin­dakan kek­erasan hanya akan mem­perkeruh suasana dan merugikan pihak deb­itur. “Kalau memang ada masalah kred­it, seharus­nya lewat jalur hukum, bukan main pak­sa dan memukul orang,” ujar salah seo­rang war­ga yang menyak­sikan keja­di­an.

  Warga Padati Lokasi Jatuhnya Pesawat di Area Persawahan Karawang

Beber­a­pa tokoh masyarakat di Labuhan­batu juga mende­sak aparat kepolisian agar segera menin­dak tegas para pelaku kek­erasan. Mere­ka menekankan pent­ingnya rasa aman dan per­lin­dun­gan hukum bagi masyarakat kecil yang ser­ing kali men­ja­di kor­ban.

Dari kasus ini, muncul beber­a­pa tun­tu­tan yang dis­uarakan masyarakat:

1. Pem­bubaran prak­tik debt col­lec­tor ile­gal yang melakukan penarikan kendaraan tan­pa putu­san pen­gadi­lan.

2. Tin­dakan hukum tegas ter­hadap debt col­lec­tor yang melakukan kek­erasan.

3. Pen­ingkatan lit­erasi hukum bagi deb­itur agar mema­ha­mi hak dan kewa­jiban­nya.

4. Pen­gawasan ketat ter­hadap perusa­haan leas­ing dalam menun­juk pihak keti­ga seba­gai penag­ih.

5. Penye­le­sa­ian damai den­gan tetap mengede­pankan prose­dur hukum agar tidak menim­bulkan kere­sa­han pub­lik.

Kasus penarikan kendaraan secara pak­sa oleh debt col­lec­tor di Rantau Pra­p­at, Kabu­pat­en Labuhan­batu, Sumat­era Utara, kem­bali mem­bu­ka mata masyarakat ten­tang prak­tik penag­i­han utang yang ker­ap mengabaikan prose­dur hukum.

Insi­d­en ini bukan hanya soal kred­it macet, melainkan juga menyangkut hak asasi manu­sia, kepas­t­ian hukum, dan rasa aman di ten­gah masyarakat. Den­gan adanya putu­san Mahkamah Kon­sti­tusi, sudah seharus­nya perusa­haan leas­ing menaati mekanisme yang sah dan menghen­tikan prak­tik penarikan pak­sa yang mere­sahkan.

Masyarakat kini menung­gu langkah tegas dari aparat hukum untuk menun­taskan kasus ini dan memas­tikan tidak ada lagi war­ga yang men­ja­di kor­ban kek­erasan debt col­lec­tor di masa men­datang. (Abd/abd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *