Berita Sejarah

Sangiang Sirah: Kepala Pulau, Napas Tua Ujung Kulon

463
×

Sangiang Sirah: Kepala Pulau, Napas Tua Ujung Kulon

Sebarkan artikel ini

Ujungku­lon, SniperNew.id — Di ujung barat Pulau Jawa, berdiri­lah sebuah tan­jung sun­yi yang oleh para tet­ua dise­but San­giang Sir­ah, kepala sang pulau, tem­pat awal segala arah dim­u­lai. Di sanalah laut berte­mu lan­git tan­pa batas, dan angin mem­bawa bisik doa para leluhur.

  Tugu Batu Pejuang RI: Saksi Bisu Tragedi Berdarah 25 Maret 1949 di Tanah Anai

Hutan Ujung Kulon bernafas dalam kesun­yian yang sakral, men­ja­di sak­si bisu atas kisah pur­ba ten­tang asal mula kesadaran manu­sia, Selasa (11/11/2025).

Menu­rut leg­en­da yang diwariskan turun-temu­run, pada masa keti­ka bumi masih muda, San­giang Jagat Pra­mu­di­ta menu­runk­an tiga penyang­ga tanah Jawa:

San­giang Sir­ah, di ujung barat, lam­bang kesadaran dan kaur sejati. Sangiyang Udel, di ten­gah pulau, lam­bang kehidu­pan. San­giang Lapas Bumi, di timur, lam­bang langkah per­jalanan manu­sia menu­ju cahaya.

Dari kepala pulau ini­lah, kata para peta­pa zaman dahu­lu, piki­ran dan nur manu­sia berasal. Di sini­lah tem­pat turun­nya Sab­da Tung­gal, ajaran ten­tang kese­im­ban­gan antara rasa, hitam, dan karsa, har­moni antara manu­sia dan semes­ta.

  Gubuk Misterius di Tengah Hutan, Ternyata Tempat Pertapaan Eyang Semar.

Dalam salah satu gua di tepi karang, ter­da­p­at sum­ber air jernih yang meman­tulkan cahaya keemasan. Air itu diyaki­ni memi­li­ki daya suci. Orang-orang per­caya, sia­pa pun yang man­di di sana den­gan hati bersih akan mem­per­oleh pan­car­an kaur kebi­jak­sanaan dari Sangiyang Sir­ah.

Namun leg­en­da juga menu­turkan adanya pen­ja­ga gaib, yang dise­but Siang Pen­ja­ga Ombak, makhluk halus yang men­ja­ga kesu­cian tem­pat terse­but. Ia diper­caya akan mene­gur sia­pa saja yang bersikap som­bong, mere­mehkan alam, atau menan­tang gelom­bang.

  Ramai Ziarah ke Makam Puyang Sakti Dusun Tue, Warganet Berdebat Soal Syirik dan Tradisi

“Barang sia­pa bersikap sen­tral dan menan­tang samu­dra, nis­caya akan dite­lan ombak,” begi­tu pesan para karuhun.

Para pen­de­ta tua dahu­lu berka­ta. “Bila manu­sia kehi­lan­gan arah, maka ia harus kem­bali ke Sir­ah, kem­bali ke kesadaran­nya. Sebab di sanalah Pulau Jawa berdoa kepa­da lan­git.”

Kini, San­giang Sir­ah tak hanya men­ja­di leg­en­da, tapi juga sim­bol reflek­si spir­i­tu­al ten­tang kese­im­ban­gan manu­sia den­gan alam. Di ten­gah deras­nya arus moder­ni­tas, kisah ini mengin­gatkan bah­wa kesadaran sejati bukan­lah ten­tang menaklukkan dunia, melainkan meny­atu den­gan­nya. (Sum­ber: Akun Beti Seti­awati)

Penulis (Iskan­dar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *