Banyuasin, SniperNew.id – Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, pada Kamis (25/9/2025). Agenda ini menjadi sorotan publik setelah unggahan resmi dari akun media sosial Threads atas nama gibran.rakabuming_ menyampaikan detail kegiatan tersebut, Jumat (26/09).
Dalam keterangan unggahan yang disertai foto, Gibran tampak berjalan berdampingan dengan tokoh agama, para kyai, guru ngaji, serta petani setempat. Ia juga didampingi oleh Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, yang turut hadir menyambut dan mengawal jalannya kunjungan.
Tujuan utama dari agenda ini adalah mempererat tali silaturahmi dengan masyarakat, khususnya komunitas pesantren, tokoh agama, dan petani. Kehadiran Wapres Gibran di Pondok Pesantren Bahrul Ulum dimaknai sebagai bentuk kepedulian pemerintah pusat terhadap dunia pendidikan keagamaan, penguatan nilai-nilai Islam di masyarakat, serta peningkatan kesejahteraan petani di daerah Banyuasin.
Pesantren sendiri telah lama menjadi pusat pendidikan dan peradaban Islam di daerah tersebut. Dengan kunjungan ini, Gibran berharap bisa mendengar langsung aspirasi masyarakat, terutama tentang pendidikan agama, kesejahteraan guru ngaji, serta persoalan yang dihadapi petani di Banyuasin.
Selain Wapres Gibran dan Gubernur Herman Deru, kegiatan ini dihadiri oleh. Para kyai dan pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Guru ngaji dari berbagai desa sekitar Kecamatan Tanjung Lago. Tokoh masyarakat dan petani Banyuasin. Sejumlah aparat pemerintah daerah dan pengamanan setempat.
Dalam unggahan Threads yang beredar, tampak suasana kebersamaan yang hangat. Gibran mengenakan pakaian sederhana dengan sorban hijau melilit lehernya, menunjukkan penghormatan terhadap budaya lokal pesantren. Kehadiran para tokoh agama dengan pakaian khas mereka menambah nuansa khidmat dan penuh kebersahajaan.
Beberapa hal yang menjadi pembahasan inti dalam kunjungan ini antara lain. Pesantren di Banyuasin diharapkan mendapat perhatian lebih dalam bentuk dukungan sarana dan prasarana, termasuk peningkatan kesejahteraan tenaga pengajar.
Guru ngaji, yang berperan penting dalam membina generasi muda sejak dini, seringkali menghadapi tantangan kesejahteraan. Dalam kesempatan ini, Gibran mendengar aspirasi langsung dan menjanjikan evaluasi lebih lanjut agar kesejahteraan mereka diperhatikan.
Sebagai daerah dengan sektor pertanian yang dominan, petani Banyuasin menyampaikan keluhan terkait harga komoditas, distribusi hasil pertanian, hingga akses pupuk. Wapres Gibran menyatakan akan berupaya menyampaikan persoalan ini kepada kementerian terkait agar segera dicarikan solusi.
Kunjungan ini juga menjadi ajang memperkuat ikatan emosional antara pemerintah dan masyarakat, khususnya melalui tokoh agama yang memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas sosial.
Kabupaten Banyuasin, yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Sumatera Selatan, dipilih sebagai lokasi kunjungan karena peran strategisnya. Selain itu, keberadaan pesantren di wilayah ini menjadi pusat pendidikan spiritual yang berpengaruh besar pada masyarakat.
Dengan datang langsung ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Wapres Gibran ingin menunjukkan bahwa perhatian pemerintah tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi juga menjangkau daerah pedesaan yang memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan dan pendidikan moral bangsa.
Kunjungan berlangsung pada Kamis, 25 September 2025. Berdasarkan informasi yang diunggah, agenda dimulai sejak pagi hari. Wapres Gibran dan rombongan tiba di lokasi dengan pengawalan ketat, namun tetap disambut sederhana oleh pihak pesantren dan masyarakat sekitar.
Setelah penyambutan, rombongan melanjutkan dengan dialog dan tatap muka bersama kyai, guru ngaji, serta perwakilan petani. Acara berlangsung dalam suasana kekeluargaan, tanpa jarak, dan penuh rasa hormat.
Foto yang dibagikan memperlihatkan Gibran berjalan bersama tokoh pesantren dengan ekspresi serius namun hangat. Hal ini menggambarkan upaya nyata pemerintah untuk turun langsung ke masyarakat.
Unggahan tersebut memicu beragam komentar positif dari netizen. Banyak yang mengapresiasi kehadiran Gibran di Banyuasin, menilai bahwa pemimpin muda tersebut mau mendengar langsung aspirasi masyarakat di daerah.
Beberapa komentar publik menekankan pentingnya tindak lanjut nyata dari dialog tersebut. Mereka berharap agar janji peningkatan kesejahteraan guru ngaji dan solusi bagi petani tidak berhenti hanya di forum silaturahmi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kebijakan pemerintah.
Ada pula netizen yang menyoroti gaya berpakaian Gibran yang sederhana dan penuh penghormatan terhadap budaya pesantren. Hal itu dianggap menunjukkan sikap merakyat dan menghargai tradisi Islam.
Kunjungan ini memberi sejumlah dampak, antara lain. Simbol Penghormatan: Kehadiran pejabat negara di pesantren menjadi simbol pengakuan terhadap peran penting ulama dan guru ngaji.
Motivasi Bagi Petani: Dengan menyampaikan langsung keluhan mereka, petani merasa lebih diperhatikan. Penguatan Identitas Lokal: Agenda ini memperkuat hubungan pemerintah pusat dengan masyarakat Sumsel, khususnya Banyuasin.
Harapan Baru: Masyarakat menaruh harapan agar isu-isu yang disampaikan benar-benar masuk dalam prioritas program nasional.
Kunjungan silaturahmi Wapres Gibran Rakabuming Raka ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum untuk bertemu kyai, tokoh agama, guru ngaji, dan petani. Wapres RI Gibran Rakabuming Raka, didampingi Gubernur Sumsel H. Herman Deru, tokoh agama, guru ngaji, dan petani Banyuasin. Di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kecamatan Tanjung Lago, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Kamis, 25 September 2025.
Why (Mengapa): Untuk mempererat silaturahmi, mendengar aspirasi masyarakat, dan memperhatikan isu pendidikan serta pertanian.
How (Bagaimana): Dilaksanakan melalui tatap muka langsung, dialog, dan sambutan hangat di pesantren.
Kunjungan Wapres Gibran Rakabuming Raka ke Banyuasin bukan hanya sekadar agenda formal, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan antara pemerintah pusat dan masyarakat pedesaan. Kehadiran langsung di tengah-tengah kyai, guru ngaji, dan petani menjadi simbol nyata bahwa suara rakyat di tingkat bawah memiliki tempat untuk didengar.
Dengan dukungan Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru, kunjungan ini diharapkan membuka jalan bagi realisasi kebijakan yang lebih berpihak pada pendidikan agama dan kesejahteraan petani. Pada akhirnya, masyarakat menantikan tindak lanjut nyata agar kunjungan ini tidak hanya meninggalkan jejak simbolis, tetapi juga hasil yang dapat dirasakan secara langsung. (ahm)













