Jakarta, SniperNew.id – Dunia pendidikan kembali diguncang kabar yang memicu haru sekaligus keprihatinan. Sebuah video yang diunggah di media sosial menunjukkan momen penuh air mata saat seorang kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus meninggalkan jabatannya. Dalam rekaman tersebut, terlihat ratusan murid memeluk dan menangis melepas sang kepala sekolah yang disebut-sebut dicopot dari jabatannya usai menegur seorang murid yang diduga anak pejabat, Selasa (16/09/25).
Peristiwa ini kemudian viral dan menjadi bahan perbincangan hangat di jagat maya. Video yang dibagikan akun makassarfeeds di platform Threads memperlihatkan suasana di halaman sekolah, tepat di depan ruang guru. Puluhan siswa terlihat berdesakan untuk memeluk kepala sekolah mereka. Tangis pecah, bahkan banyak siswa yang tampak enggan melepaskan pelukan, seakan tidak rela sang pemimpin sekolah pergi begitu saja.
Kabar yang beredar menyebutkan bahwa kepala sekolah tersebut diduga diberhentikan dari jabatannya setelah menegur seorang murid yang dikatakan sebagai anak pejabat. Meski detail kasus ini belum mendapatkan klarifikasi resmi dari pihak berwenang, unggahan tersebut sudah memicu gelombang simpati luar biasa dari masyarakat.
Unggahan video berdurasi singkat itu disertai keterangan. “Diduga tegur anak pejabat pak kepsek dicopot! Murid² SMP ini tak kuasa menahan tangis.”
Keterangan singkat tersebut menambah keharuan publik yang menyaksikan. Ribuan komentar pun mengalir, sebagian besar menyuarakan dukungan kepada sang kepala sekolah.
Aktor utama dalam kejadian ini adalah sang kepala sekolah yang dicopot dari jabatannya, murid-murid SMP yang melepasnya dengan penuh tangis, serta sosok murid yang disebut-sebut anak pejabat.
Di balik layar, publik juga menyoroti dugaan adanya intervensi pihak tertentu yang membuat kebijakan pencopotan tersebut. Namun, hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari dinas pendidikan setempat maupun instansi terkait.
Komentar warganet pun menyoroti hal ini. Akun dnrzt_hudi menuliskan, “Kalau memang benar berita ini, harusnya pejabat itu yang dicopot jabatannya. Yang namanya di sekolah seharusnya tidak ada privilege. Kepala sekolah hanya menjalankan tugas agar si murid menjadi disiplin, punya attitude yang baik karena pada dasarnya kepala sekolah paham murid adalah generasi penerus bangsa. Kalau dari masih sekolah saja seenaknya begitu, bagaimana nanti kalau sudah di dunia kerja atau amit-amit jangan sampai jadi pejabat. Ini termasuk penyalahgunaan wewenang.”
Komentar lain dari akun dj_markeje45 juga mengkritisi, “Bukan anak pejabat itu tapi anak penjahat.”
Sementara akun yoyowahid123 lebih memilih memberikan dukungan moral untuk sang kepala sekolah, “Sabar yah pak kepsek, Insya Allah ini semua akan ada hikmahnya dan Tuhan maha melihat dan mendengar.”
Ketiga komentar tersebut menggambarkan betapa masyarakat luas ikut terbawa suasana, mulai dari marah, kecewa, hingga memberikan doa penguat.
Berdasarkan unggahan, peristiwa ini baru-baru ini terjadi dan mulai viral sejak Senin (16/9/2025) dini hari. Video berdurasi singkat itu sudah ditonton ribuan kali dan menuai puluhan komentar hanya dalam hitungan jam.
Momen haru di halaman sekolah itu terjadi tepat setelah pengumuman resmi bahwa sang kepala sekolah akan dicopot dari jabatannya. Para siswa yang mendengar kabar tersebut langsung berkumpul di halaman sekolah, menunggu sang pemimpin yang mereka cintai keluar dari ruang guru.
Lokasi peristiwa ini terjadi di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) yang bangunannya terlihat jelas dalam video unggahan. Di dinding sekolah tampak tulisan “Ruang Guru”, yang memperlihatkan suasana nyata saat perpisahan berlangsung.
Meski nama sekolah belum disebut secara eksplisit, unggahan tersebut berasal dari akun media sosial berbasis di Makassar, sehingga publik menduga kejadian ini berada di wilayah Sulawesi Selatan.
Dugaan pencopotan jabatan kepala sekolah karena menegur anak pejabat menuai kritik keras. Publik menilai sekolah adalah tempat pendidikan karakter, bukan arena privilese. Kepala sekolah dipandang hanya menjalankan tugas mendidik dan menegakkan disiplin.
Dalam konteks pendidikan, teguran dari guru maupun kepala sekolah merupakan bagian penting dari proses pembelajaran sikap dan tanggung jawab. Karena itu, masyarakat mempertanyakan bila benar pencopotan terjadi hanya karena alasan tersebut.
Banyak pihak khawatir, bila dunia pendidikan sudah tidak bisa lagi memberikan teguran kepada siswa hanya karena status sosial atau latar belakang keluarganya, maka masa depan generasi bangsa akan terancam.
Reaksi publik begitu cepat dan deras. Ribuan warganet menumpahkan rasa kecewa sekaligus dukungan lewat komentar. Banyak yang memuji keberanian kepala sekolah dalam menegakkan disiplin. Ada pula yang merasa prihatin melihat anak-anak menangis histeris melepas kepergian sosok pemimpin yang mereka kagumi.
Salah satu siswa dalam video terlihat berteriak sambil menangis, “Jangan tinggalkan kami, Pak.” Tangisan itu menggambarkan betapa dalamnya ikatan emosional antara kepala sekolah dan murid-muridnya.
Tak hanya murid, sejumlah guru pun kabarnya ikut larut dalam kesedihan. Mereka menilai, kepala sekolah yang dicopot ini dikenal disiplin, adil, dan dekat dengan para siswa.
Fenomena ini memunculkan diskusi lebih luas tentang integritas dunia pendidikan di Indonesia. Publik menilai, bila benar pencopotan dilakukan karena tekanan pihak tertentu, maka itu dapat mencederai marwah pendidikan.
Banyak aktivis pendidikan menekankan bahwa sekolah harus bebas dari intervensi dan kepentingan politik. Guru dan kepala sekolah harus diberikan ruang untuk mendidik dengan cara yang benar, tanpa takut pada status sosial siswa atau keluarganya.
Kekecewaan publik tercermin dalam komentar-komentar yang ramai diunggah. Bahkan ada yang menyebut pencopotan ini sebagai bentuk “penyalahgunaan wewenang.”
Di sisi lain, ada juga warganet yang mencoba menenangkan suasana dengan keyakinan bahwa peristiwa ini akan membawa hikmah di kemudian hari.
Kisah haru murid-murid SMP yang menangis melepas kepala sekolah mereka bukan hanya menyentuh hati, tetapi juga menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan.
Apapun penyebab sebenarnya di balik pencopotan jabatan tersebut, peristiwa ini sudah membuka mata publik tentang pentingnya menjaga integritas sekolah sebagai ruang mendidik karakter bangsa.
Murid-murid yang menangis itu seolah menjadi saksi nyata, bahwa kepemimpinan kepala sekolah tersebut meninggalkan kesan mendalam. Ia bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga sosok yang dicintai dan dihormati oleh anak-anak didiknya.
Kini publik menanti penjelasan resmi dari pihak terkait. Sementara itu, masyarakat terus berharap agar dunia pendidikan tidak lagi terkontaminasi oleh kepentingan di luar tugas mulianya: mencetak generasi penerus bangsa yang berkarakter, berintegritas, dan berakhlak mulia. (Ahm/red).
-













