Berita Pendidikan

“Wisuda TK: Tradisi Manis atau Beban Finansial? Orangtua Mengeluh, Sekolah Ditanya Urgensinya”

883
×

“Wisuda TK: Tradisi Manis atau Beban Finansial? Orangtua Mengeluh, Sekolah Ditanya Urgensinya”

Sebarkan artikel ini

Ban­dung, SniperNew.id – Di ten­gah eufo­ria kelu­lu­san anak-anak Taman Kanak-Kanak (TK), suara-suara keluhan mulai ter­den­gar dari para orang­tua. Tra­disi wisu­da TK, yang awal­nya diang­gap momen lucu dan mem­bang­gakan, kini men­ja­di sorotan lan­taran dini­lai lebih mem­ber­atkan secara ekono­mi ketim­bang mem­beri man­faat nya­ta.

Sebuah ung­ga­han dari akun “Nice Idea 01” , yang dibagikan ulang oleh media Swara Jabar pada Jumat, 21 Juni 2025, men­ja­di viral. Ung­ga­han itu mem­per­tanyakan urgen­si dan man­faat dari acara wisu­da TK yang ser­ingkali dibaren­gi den­gan pung­utan biaya yang tak sedik­it.

Acara wisu­da TK kini diang­gap banyak pihak bukan lagi momen per­ayaan, melainkan beban. Tak sedik­it orang­tua yang harus mero­goh kocek hing­ga Rp500 ribu hanya untuk mem­bi­ayai ser­e­mo­ni­al kelu­lu­san anak dari jen­jang TK ke SD. Keluhan ini datang dari berba­gai lapisan masyarakat, teruta­ma dari kalan­gan ekono­mi menen­gah ke bawah.

  Dari Gedung Sederhana Menuju Sekolah Berkemajuan: SMP Muhammadiyah 2 Pagelaran Terus Tumbuh dan Dipercaya Masyarakat

Salah satu orang­tua, yang bek­er­ja seba­gai buruh tani di Kabu­pat­en Ban­dung, men­gungkap­kan bah­wa ia bahkan harus mem­in­jam uang agar anaknya bisa mengiku­ti wisu­da.

“Kalau nggak bayar katanya anak saya nggak bisa ikut. Pada­hal katanya ada tabun­gan di seko­lah, tapi kena­pa bukan untuk keper­lu­an masuk SD saja?” keluh­nya.

Pihak yang pal­ing ter­dampak ten­tu adalah para orang­tua siswa, khusus­nya mere­ka yang memi­li­ki peng­hasi­lan pas-pasan. Den­gan pen­da­p­atan har­i­an yang tidak menen­tu, teruta­ma bagi buruh tani dan peker­ja infor­mal lain­nya, biaya wisu­da men­ja­di beban yang memak­sa.

Tidak hanya orang­tua siswa yang men­geluh, guru dan pihak seko­lah pun kini bera­da di posisi sulit. Di satu sisi, mere­ka ingin mem­berikan momen berke­san bagi anak-anak, namun di sisi lain juga harus berhada­pan den­gan tun­tu­tan transparan­si dan kead­i­lan sosial.

Fenom­e­na ini ter­ja­di di berba­gai daer­ah di Indone­sia, khusus­nya di kawasan pedesaan dan semi-urban. Di momen akhir tahun ajaran, sek­i­tar bulan Juni, seko­lah-seko­lah TK ramai men­gadakan acara wisu­da. Namun, dari tahun ke tahun, biaya yang dike­nakan makin mem­bengkak tan­pa keje­lasan peman­faatan dana secara rin­ci.

  Polemik Biaya Seragam SMKN 9 Bandar Lampung, Wali Murid Mengeluh, LSM Desak Disdik Audit Lapangan

Beber­a­pa lapo­ran menye­butkan, selain biaya Rp500 ribu, orang­tua juga harus mem­be­li kos­tum ser­agam, menye­wa fotografer, hing­ga menyum­bang kon­sum­si.

Per­tanyaan besar muncul: Apa man­faat nya­ta dari wisu­da anak TK? Banyak ahli pen­didikan dan psikolog anak meni­lai bah­wa wisu­da pada usia dini tidak memi­li­ki pen­garuh sig­nifikan ter­hadap perkem­ban­gan men­tal anak.

“Anak usia TK belum mema­ha­mi kon­sep kelu­lu­san. Mere­ka hanya mengiku­ti pros­esi. Jus­tru, ter­lalu memak­sakan kon­sep for­mal bisa mem­bu­at anak tertekan,” ujar Dr. Nina Aulia, psikolog anak dari Uni­ver­si­tas Pen­didikan Indone­sia (UPI).

Selain itu, urgen­si acara ini juga diper­tanyakan kare­na jen­jang TK bukan pen­didikan wajib, melainkan pen­gan­tar sebelum masuk SD. Artinya, tidak ada stan­dar kelu­lu­san yang per­lu dirayakan secara for­mal seper­ti di jen­jang SMP atau SMA.

Beban biaya men­ja­di alasan uta­ma orang­tua mende­sak agar acara wisu­da TK dit­in­jau ulang atau bahkan diti­adakan. Di ten­gah kon­disi ekono­mi yang tidak sta­bil, teruta­ma bagi masyarakat desa yang men­gan­dalkan per­tan­ian – yang har­ga jual hasil panen­nya kian merosot – biaya wisu­da men­ja­di semacam “pak­saan sosial”.

Muncul desakan agar pemer­in­tah daer­ah dan dinas pen­didikan ikut turun tan­gan. Sejum­lah orang­tua men­gusulkan agar kegiatan ser­e­mo­ni­al wisu­da:

  Program Pemberdayaan Jadi Perhatian

1. Diti­adakan sepenuh­nya.
2. Dibatasi biayanya oleh reg­u­lasi.
3. Digan­ti den­gan kegiatan seder­hana, seper­ti acara makan bersama atau pengam­bi­lan rapor tan­pa pros­esi mewah.

Aktivis pen­didikan dan penga­mat kebi­jakan pub­lik juga men­dorong seko­lah untuk lebih ter­bu­ka terkait peng­gu­naan dana kegiatan dan mengede­pankan mod­el per­ayaan non-komer­sial.

“Kalau per­lu, wisu­da cukup dilakukan di kelas, den­gan guru mem­berikan ser­ti­fikat dan hadi­ah kecil. Itu sudah cukup berke­san dan men­didik keseder­hanaan,” saran Ahmad Seti­awan, pemer­hati pen­didikan anak usia dini.

Semen­tara itu, seba­gian seko­lah mulai menyadari kere­sa­han masyarakat. Beber­a­pa TK swasta dan negeri di wilayah Garut dan Sumedang dila­porkan mem­bat­alk­an acara wisu­da dan meng­gan­ti­nya den­gan kegiatan san­tai seper­ti out­ing ke taman kota tan­pa biaya tam­ba­han.

Tra­disi wisu­da TK kini ten­gah men­ja­di perde­batan pub­lik: antara kebu­tuhan emo­sion­al dan beban ekono­mi. Masyarakat berharap, ke depan, pihak seko­lah dan pemer­in­tah lebih bijak dalam mena­ta ulang tra­disi ini agar tidak men­ja­di beban tahu­nan bagi raky­at kecil.

Edi­tor: (Redak­si)
Sum­ber: (Face­book: Nice Idea 01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *