Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Peristiwa

Wagub Lampung Tanggapi Kasus Guru Viral di Pesawaran

797
×

Wagub Lampung Tanggapi Kasus Guru Viral di Pesawaran

Sebarkan artikel ini

Lam­pung, SniperNew.id – Media sosial baru-baru ini dihe­bohkan den­gan beredarnya video seo­rang oknum guru di salah satu seko­lah dasar (SD) at di Keca­matan Kedon­dong, Kabu­pat­en Pesawaran, Lam­pung, Ming­gu (24/08/25)

Dalam reka­man yang viral itu, guru bersangku­tan ter­li­hat bersikap aro­gan dan ham­pir mencekik salah seo­rang murid­nya. Keja­di­an terse­but son­tak memicu per­ha­t­ian pub­lik, teruta­ma orang tua siswa ser­ta masyarakat Lam­pung secara umum.

Menang­gapi hal terse­but, Wak­il Guber­nur (Wagub) Lam­pung, Chus­nunia Chal­im atau yang akrab dis­apa Nunik, mem­berikan klar­i­fikasi res­mi. Melalui ung­ga­han yang dis­am­paikan akun media sosial lam­pun­greels, Wagub men­je­laskan bah­wa insi­d­en itu bukan peri­s­ti­wa baru, melainkan sudah ter­ja­di pada bulan Feb­ru­ari lalu.

Menu­rut pen­je­lasan Wagub, berdasarkan lapo­ran dan inves­ti­gasi yang dilakukan, guru yang terekam dalam video viral itu terny­a­ta men­gala­mi gang­guan keji­waan. Pemer­in­tah Provin­si Lam­pung melalui dinas terkait sudah menan­gani peri­s­ti­wa terse­but den­gan langkah-langkah medis dan admin­is­tratif.

“Peri­s­ti­wa itu memang benar adanya, ter­ja­di di salah satu SD di Kedon­dong, Kabu­pat­en Pesawaran, dan ter­ja­di pada bulan Feb­ru­ari. Guru terse­but men­gala­mi gang­guan keji­waan,” demikian perny­ataan res­mi Wagub Lam­pung seba­gaimana dis­am­paikan ulang oleh akun lam­pun­greels.

  Penipuan Emas Palsu Sukajadi Berujung Penembakan Airsoft

Respons Pub­lik di Media Sosial

Ung­ga­han terse­but segera men­u­ai beragam tang­ga­pan dari war­ganet. Seba­gian besar masyarakat meny­oroti pent­ingnya per­ha­t­ian lebih bagi tena­ga pen­didik, teruta­ma menyangkut kese­hatan men­tal. Dalam kolom komen­tar, seo­rang peng­gu­na den­gan nama akun arishem_the_jug menulis:

Orang gila gak bisa dip­i­dana, tapi kalau kita mukul orang gila dip­i­dana gak?”

Per­tanyaan ini meman­tik diskusi men­ge­nai aspek hukum terkait orang den­gan gang­guan jiwa (ODGJ).

Semen­tara itu, akun lain berna­ma agung­pharm mem­berikan tang­ga­pan lebih menekankan sisi kemanu­si­aan. Ia menulis:

Jan­gan pukul ODGJ-nya bang kecuali untuk mem­per­ta­hankan diri, bawa ke rumah sak­it jiwa ter­dekat. Saya per­nah beru­ru­san den­gan kelu­ar­ga yang ODGJ. Sete­lah minum obat ter­atur, mere­ka akan berang­sur nor­mal kem­bali. Kita hanya per­lu care den­gan mere­ka. Ingat, bawa ke rumah sak­it jiwa bukan ke dukun.”

Komen­tar ini menekankan pent­ingnya per­awatan medis bagi ODGJ ketim­bang stig­ma negatif atau penan­ganan den­gan cara kek­erasan.

Kasus guru yang diduga men­gala­mi gang­guan jiwa ini juga meny­oroti bagaimana sis­tem pen­didikan harus lebih mem­per­hatikan kese­hatan men­tal tena­ga pen­didik. Guru bukan hanya ditun­tut men­ga­jar, tetapi juga men­ja­di teladan, sehing­ga kon­disi psikol­o­gis mere­ka san­gat berpen­garuh ter­hadap suasana bela­jar di kelas.

Beber­a­pa pemer­hati pen­didikan di Lam­pung meni­lai bah­wa kasus ini seharus­nya men­ja­di bahan eval­u­asi menyelu­ruh, baik oleh Dinas Pen­didikan maupun pihak seko­lah. Guru yang men­gala­mi gang­guan kese­hatan men­tal sebaiknya men­da­p­atkan cuti atau per­awatan inten­sif sebelum kem­bali men­jalankan tugas. Hal ini pent­ing untuk mence­gah teru­langnya kasus seru­pa yang berpoten­si mem­ba­hayakan murid.

  Beda Jalan, Beda Kondisi: Banjir Tanjung Pura Mulai Surut

Pemer­in­tah daer­ah, melalui Wak­il Guber­nur Lam­pung, memas­tikan bah­wa kasus ini telah ditan­gani secara serius. Selain penan­ganan medis ter­hadap guru yang bersangku­tan, dinas terkait juga akan melakukan mon­i­tor­ing di seko­lah-seko­lah agar kon­disi seru­pa tidak teru­lang.

Di sisi lain, pemer­in­tah juga mengim­bau masyarakat, teruta­ma orang tua, untuk tetap ten­ang dan tidak ter­pro­vokasi oleh poton­gan video yang viral di media sosial. Klar­i­fikasi res­mi ini dihara­p­kan dap­at meredam kere­sa­han pub­lik sekali­gus mem­berikan pema­haman bah­wa isu kese­hatan jiwa tidak bisa dis­e­pelekan.

Secara hukum, orang den­gan gang­guan jiwa tidak bisa dim­intai per­tang­gung­jawa­ban pidana kare­na diang­gap tidak mam­pu men­gen­da­likan per­bu­atan­nya. Hal ini sesuai den­gan keten­tu­an Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Namun, jika tin­dakan yang dilakukan mem­ba­hayakan orang lain, maka negara memi­li­ki kewa­jiban untuk menan­ganinya melalui jalur medis, yakni den­gan reha­bil­i­tasi di rumah sak­it jiwa.

Dalam kasus di Pesawaran, pen­dekatan hukum pidana tidak dit­er­ap­kan, tetapi pemer­in­tah lebih menekankan aspek per­awatan kese­hatan ter­hadap oknum guru terse­but.

Kasus ini mem­berikan pela­jaran pent­ing ten­tang bagaimana masyarakat harus bersikap ter­hadap orang den­gan gang­guan jiwa. Alih-alih mem­berikan stig­ma negatif, masyarakat dihara­p­kan lebih bijak dan mema­ha­mi bah­wa ODGJ adalah pasien yang mem­bu­tuhkan per­awatan medis.

Komen­tar akun agung­pharm di media sosial mencer­minkan pent­ingnya kesadaran pub­lik: bah­wa ODGJ bisa kem­bali berfungsi secara nor­mal apa­bi­la men­da­p­atkan pen­go­b­atan ter­atur. Edukasi pub­lik ten­tang pent­ingnya mem­bawa pasien ODGJ ke rumah sak­it jiwa, bukan ke tem­pat-tem­pat alter­natif yang tidak ter­buk­ti secara medis, men­ja­di poin uta­ma yang per­lu terus digen­car­kan.

  Koalisi Masyarakat Pulau Pelapis Geruduk Kantor Desa  Pelapis 

Fenom­e­na viral­nya kasus ini juga menun­jukkan bagaimana media sosial berper­an besar dalam mem­ben­tuk opi­ni pub­lik. Sebuah video berdurasi singkat bisa menim­bulkan kere­sa­han luas jika tidak diim­ban­gi den­gan klar­i­fikasi res­mi. Dalam hal ini, respon cepat dari Wak­il Guber­nur Lam­pung cukup pent­ing untuk mene­nangkan masyarakat.

Namun demikian, viral­i­tas juga bisa diman­faatkan seba­gai momen­tum untuk meningkatkan kesadaran pub­lik ten­tang pent­ingnya kese­hatan jiwa, khusus­nya di lingkun­gan pen­didikan.

Kasus guru di Pesawaran yang ham­pir mencekik murid­nya bukan hanya per­soalan indi­vidu, melainkan per­soalan sis­tem yang lebih besar: bagaimana kese­hatan men­tal para tena­ga pen­didik harus dija­ga den­gan baik.

Wagub Lam­pung telah mem­berikan klar­i­fikasi bah­wa guru bersangku­tan men­gala­mi gang­guan jiwa dan keja­di­an itu sudah ter­ja­di beber­a­pa bulan lalu. Masyarakat diim­bau untuk tidak lagi mem­perkeruh suasana den­gan stig­ma negatif, melainkan men­dukung upaya pemer­in­tah dalam mem­berikan per­awatan medis bagi yang bersangku­tan.

Kasus ini dihara­p­kan men­ja­di momen­tum bagi semua pihak—pemerintah, seko­lah, orang tua, dan masyarakat—untuk lebih peduli ter­hadap kese­hatan men­tal di dunia pen­didikan. Kare­na pen­didikan yang sehat bukan hanya soal ilmu penge­tahuan, tetapi juga ten­tang kon­disi psikol­o­gis yang kon­dusif bagi guru maupun murid. (Suf/Ahm)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *