Jakarta, SniperNew.id – Sebuah postingan dari akun Facebook Jaki Klassic mendadak viral setelah mengunggah video ritual ruwatan anak versi Jaranan Mawar Sari. Unggahan yang telah dibagikan satu hari lalu itu berhasil menyita perhatian warganet dan kini telah mengumpulkan lebih dari 1.700 komentar, serta ratusan reaksi dan dibagikan puluhan kali, Selasa 10 Juni 2025.
Postingan tersebut menampilkan prosesi ruwatan anak, sebuah ritual yang diyakini masyarakat Jawa sebagai cara untuk membuang sial atau tolak bala, terutama bagi anak-anak yang dianggap memiliki “weton” tertentu atau lahir dengan perhitungan Jawa yang khusus. Namun yang membedakan adalah, ruwatan ini dilakukan dalam versi Jaranan Mawar Sari, sebuah kelompok kesenian tradisional yang menggabungkan unsur mistis dan seni tari jaranan.
Akun Jaki Klassic, yang dikenal sering membagikan konten budaya, tradisi, dan kegiatan adat lokal, menjadi pusat perhatian warganet setelah mengunggah video berdurasi hampir 10 menit tersebut. Dalam caption-nya, akun ini menulis bahwa ruwatan tersebut dilakukan sebagai bentuk pelestarian budaya dan warisan leluhur.
Video yang diunggah pada sehari lalu itu belum disebutkan secara jelas lokasi pastinya, namun dari logat dan latar suasana terlihat bahwa ritual tersebut kemungkinan besar dilakukan di wilayah Jawa Timur, tempat di mana tradisi jaranan berkembang pesat dan masih dijalankan hingga kini.
Warganet ramai-ramai meninggalkan komentar karena terkesan dengan nuansa magis dan estetika visual dari pertunjukan tersebut. Beberapa netizen merasa merinding, sementara yang lain merasa bangga karena budaya leluhur masih dijaga. Tak sedikit pula yang mempertanyakan relevansi ritual seperti ini di era modern.
“Mistik tapi indah… Bangga jadi orang Jawa,” tulis salah satu warganet.
“Anakku juga termasuk weton seng kudu diruwat, tapi belum berani, takut,” tulis komentar lain yang mendapat banyak likes.
Dalam video terlihat sejumlah anak berdiri di tengah lingkaran penari jaranan. Mereka diiringi alunan gamelan dan mantra dari pawang atau sesepuh adat. Prosesi berlangsung dengan khidmat, penuh simbolisme, mulai dari penyalaan kemenyan, pemotongan rambut anak, hingga simbol “penyucian” menggunakan air bunga. Yang membedakan, seluruh prosesi dibalut dalam pertunjukan jaranan, lengkap dengan pemain kesurupan dan atraksi memukau yang menambah daya magis acara tersebut.
Fenomena ini menarik perhatian pemerhati budaya. Menurut Dewi Hartati, seorang antropolog dari Universitas Negeri Yogyakarta, ruwatan versi jaranan ini adalah bentuk adaptasi tradisi dalam konteks seni pertunjukan.
“Ini bukan hanya upacara spiritual, tapi juga medium pertunjukan. Generasi muda bisa menikmati, dan nilai-nilai tradisi tetap hidup,” jelasnya saat dimintai tanggapan oleh Liputan6.
Kesimpulan: Ruwatan anak versi Jaranan Mawar Sari ini menjadi bukti bahwa warisan budaya Nusantara masih memiliki tempat di hati masyarakat, bahkan di era digital seperti sekarang. Dengan viralnya unggahan Kaki Klassic, semangat untuk melestarikan tradisi kembali mendapat angin segar — bahkan mungkin menjadi inspirasi untuk kemasan budaya yang lebih modern dan menarik perhatian generasi muda.
Reporter: [Abd]
Editor: [Isk]



















