Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Viral di Medsos! Postingan “Ruwatan Anak Versi Jaranan Mawar Sari” Banjir 1.700 Komentar di Facebook

558
×

Viral di Medsos! Postingan “Ruwatan Anak Versi Jaranan Mawar Sari” Banjir 1.700 Komentar di Facebook

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id – Sebuah postin­gan dari akun Face­book Jaki Klas­sic men­dadak viral sete­lah men­gung­gah video rit­u­al ruwatan anak ver­si Jaranan Mawar Sari. Ung­ga­han yang telah dibagikan satu hari lalu itu berhasil menyi­ta per­ha­t­ian war­ganet dan kini telah mengumpulkan lebih dari 1.700 komen­tar, ser­ta ratu­san reak­si dan dibagikan puluhan kali, Selasa 10 Juni 2025.

Postin­gan terse­but menampilkan pros­esi ruwatan anak, sebuah rit­u­al yang diyaki­ni masyarakat Jawa seba­gai cara untuk mem­buang sial atau tolak bala, teruta­ma bagi anak-anak yang diang­gap memi­li­ki “weton” ter­ten­tu atau lahir den­gan per­hi­tun­gan Jawa yang khusus. Namun yang mem­be­dakan adalah, ruwatan ini dilakukan dalam ver­si Jaranan Mawar Sari, sebuah kelom­pok kesen­ian tra­di­sion­al yang meng­gabungkan unsur mist­is dan seni tari jaranan.

  Tari Kamoro Sambut 2026, Kampung Nawaripi Jadi Simbol Perdamaian di Mimika

Akun Jaki Klas­sic, yang dike­nal ser­ing mem­bagikan kon­ten budaya, tra­disi, dan kegiatan adat lokal, men­ja­di pusat per­ha­t­ian war­ganet sete­lah men­gung­gah video berdurasi ham­pir 10 menit terse­but. Dalam cap­tion-nya, akun ini menulis bah­wa ruwatan terse­but dilakukan seba­gai ben­tuk pelestar­i­an budaya dan warisan leluhur.

Video yang diung­gah pada sehari lalu itu belum dise­butkan secara jelas lokasi pastinya, namun dari logat dan latar suasana ter­li­hat bah­wa rit­u­al terse­but kemu­ngk­i­nan besar dilakukan di wilayah Jawa Timur, tem­pat di mana tra­disi jaranan berkem­bang pesat dan masih dijalankan hing­ga kini.

  Ngopi Serasi #20 dan Safari Ramadan Hadir di Banyuwangi

War­ganet ramai-ramai mening­galkan komen­tar kare­na terke­san den­gan nuansa magis dan esteti­ka visu­al dari per­tun­jukan terse­but. Beber­a­pa neti­zen merasa merind­ing, semen­tara yang lain merasa bang­ga kare­na budaya leluhur masih dija­ga. Tak sedik­it pula yang mem­per­tanyakan rel­e­van­si rit­u­al seper­ti ini di era mod­ern.

“Mist­ik tapi indah… Bang­ga jadi orang Jawa,” tulis salah satu war­ganet.

“Anakku juga ter­ma­suk weton seng kudu diruwat, tapi belum berani, takut,” tulis komen­tar lain yang men­da­p­at banyak likes.

Dalam video ter­li­hat sejum­lah anak berdiri di ten­gah lingkaran penari jaranan. Mere­ka diirin­gi alu­nan game­lan dan mantra dari pawang atau sesepuh adat. Pros­esi berlang­sung den­gan khid­mat, penuh sim­bolisme, mulai dari penyalaan kemenyan, pemo­ton­gan ram­but anak, hing­ga sim­bol “penyu­cian” meng­gu­nakan air bun­ga. Yang mem­be­dakan, selu­ruh pros­esi diba­lut dalam per­tun­jukan jaranan, lengkap den­gan pemain kesu­ru­pan dan atrak­si memukau yang menam­bah daya magis acara terse­but.

  Proyek Mobil Jenazah Jadi Sorotan Publik

Fenom­e­na ini menarik per­ha­t­ian pemer­hati budaya. Menu­rut Dewi Har­tati, seo­rang antropolog dari Uni­ver­si­tas Negeri Yogyakar­ta, ruwatan ver­si jaranan ini adalah ben­tuk adap­tasi tra­disi dalam kon­teks seni per­tun­jukan.

“Ini bukan hanya upacara spir­i­tu­al, tapi juga medi­um per­tun­jukan. Gen­erasi muda bisa menikmati, dan nilai-nilai tra­disi tetap hidup,” jelas­nya saat dim­intai tang­ga­pan oleh Liputan6.

Kes­im­pu­lan: Ruwatan anak ver­si Jaranan Mawar Sari ini men­ja­di buk­ti bah­wa warisan budaya Nusan­tara masih memi­li­ki tem­pat di hati masyarakat, bahkan di era dig­i­tal seper­ti sekarang. Den­gan viral­nya ung­ga­han Kaki Klas­sic, seman­gat untuk melestarikan tra­disi kem­bali men­da­p­at angin segar — bahkan mungkin men­ja­di inspi­rasi untuk kemasan budaya yang lebih mod­ern dan menarik per­ha­t­ian gen­erasi muda.

 

Reporter: [Abd]
Edi­tor: [Isk]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *