Berita Daerah

Ngulapin di Tengah Reruntuhan: Ritual di Lokasi Ruko Ambruk Tersapu Banjir di Jalan Sulawesi, Denpasar

398
×

Ngulapin di Tengah Reruntuhan: Ritual di Lokasi Ruko Ambruk Tersapu Banjir di Jalan Sulawesi, Denpasar

Sebarkan artikel ini

Denpasar, SniperNew.id  – Sebuah peristiwa langka dan penuh makna spiritual terjadi di Jalan Sulawesi, Denpasar, pada Sabtu, 13 September 2025. Di tengah puing-puing bangunan ruko yang ambruk tersapu banjir, warga bersama pemangku adat menggelar upacara ngulapin, sebuah ritual khas masyarakat Bali untuk memulihkan keseimbangan niskala setelah terjadi bencana.

Informasi ini pertama kali diunggah akun media sosial @baliprawara melalui platform Threads. Dalam unggahannya disebutkan:

“Upacara ngulapin digelar di depan Ruko yang ambruk tersapu banjir, di jalan Sulawesi, Denpasar, Sabtu 13 September 2025.”

Unggahan tersebut juga disertai foto suasana di lokasi, memperlihatkan warga yang masih sibuk membersihkan sisa material bangunan, dengan latar belakang alat berat yang membantu proses evakuasi puing. Di sisi lain, beberapa orang tampak mempersiapkan sesajen dan perlengkapan upacara. Tampilan kontras antara kerusakan fisik akibat banjir dengan aktivitas sakral itu menarik perhatian ribuan warganet, hingga unggahan tersebut ditonton lebih dari 90 ribu kali hanya dalam beberapa jam

Jalan Sulawesi dikenal sebagai salah satu sentra perdagangan tekstil di Denpasar. Kawasan ini dipadati deretan ruko yang menjual kain, pakaian, serta perlengkapan konveksi. Pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari (12–13 September 2025), hujan lebat mengguyur wilayah Denpasar dan sekitarnya. Curah hujan tinggi yang terjadi dalam waktu singkat menyebabkan banjir di beberapa titik, termasuk kawasan Jalan Sulawesi.

Aliran air yang deras membuat salah satu bangunan ruko tidak mampu menahan tekanan. Bagian depan bangunan itu runtuh, menimbun sejumlah kain dagangan serta menghambat lalu lintas di sekitar lokasi. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam peristiwa ini, namun kerugian material diperkirakan mencapai miliaran rupiah mengingat ruko tersebut menyimpan stok dagangan dalam jumlah besar.

  Tanah Tanjung Kemala Kobarkan Semangat Persatuan di HUT RI ke-80

Di tengah kesibukan pembersihan puing dan evakuasi barang, masyarakat setempat memilih untuk segera menggelar upacara ngulapin. Dalam tradisi Hindu Bali, ngulapin merupakan upacara untuk memanggil kembali keseimbangan sekala (nyata) dan niskala (tak kasat mata).

Ritual ini diyakini penting dilakukan setelah sebuah tempat mengalami bencana atau insiden besar. Tujuannya adalah untuk menenangkan unsur-unsur gaib yang mungkin terganggu, sekaligus memohon restu agar kejadian serupa tidak kembali menimpa.

Prosesi ngulapin biasanya dipimpin oleh seorang pemangku atau sulinggih. Sesajen berupa banten, canang sari, serta bebantenan lain dipersembahkan. Dalam foto yang diunggah, tampak seorang perempuan membawa gebogan, susunan buah dan bunga yang dihaturkan sebagai persembahan. Sementara itu, di depan reruntuhan dipasang sesajen kecil, lengkap dengan dupa yang menyala.

Menurut penuturan warga yang hadir, ritual ngulapin dilakukan dengan sederhana namun penuh khidmat. “Walaupun di tengah kondisi sulit, kami wajib menghaturkan upacara. Ini untuk menetralisir aura negatif setelah bangunan ambruk,” ujar salah satu pemangku adat yang memimpin prosesi.

Suasana di Jalan Sulawesi pada hari itu menjadi potret nyata tentang bagaimana masyarakat Bali menjalani kehidupan. Di satu sisi, terlihat petugas dan warga bahu membahu membersihkan tumpukan kain yang terendam lumpur serta bongkahan bangunan. Alat berat dikerahkan untuk mengangkat material besar yang menutupi akses jalan.

Di sisi lain, dengan tenang dan teratur, upacara ngulapin berlangsung di sudut jalan. Aroma dupa dan bunga-bunga persembahan menebar wangi, seakan menjadi penyeimbang dari bau debu, lumpur, dan reruntuhan.

  Bupati Pesawaran Resmi Lepas Peserta Perlombaan Muktamad RMI Tingkat Provinsi Lampung

Bagi masyarakat Bali, menggelar ritual di tengah bencana bukanlah sekadar tradisi, melainkan wujud rasa syukur sekaligus permohonan agar diberi kekuatan menghadapi ujian. “Bencana ini memang menyulitkan kami, tetapi dengan ngulapin, kami percaya bahwa alam akan kembali seimbang,” kata seorang warga yang ikut menghaturkan canang sari.

Ambruknya ruko di Jalan Sulawesi memberikan dampak besar, khususnya bagi pedagang tekstil. Banyak dari mereka harus menanggung kerugian besar akibat barang dagangan rusak atau hanyut terbawa banjir. Sejumlah pedagang yang ditemui di lokasi mengaku pasrah, meski tetap berharap ada bantuan dari pemerintah.

Selain kerugian ekonomi, banjir yang menyebabkan bangunan ambruk juga menimbulkan keresahan warga sekitar. Mereka khawatir kondisi drainase yang buruk dan pembangunan yang padat menjadi faktor pemicu mudahnya kawasan tersebut tergenang. “Setiap hujan deras, kawasan sini pasti kebanjiran. Tapi kali ini lebih parah karena sampai membuat ruko runtuh,” tutur salah satu warga.

Pemerintah Kota Denpasar melalui dinas terkait langsung turun ke lapangan melakukan penanganan darurat. Aparat kepolisian dan Satpol PP mengamankan lokasi agar tidak menimbulkan kemacetan parah. Sementara itu, tim BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Bali mendata kerugian dan menyiapkan bantuan tanggap darurat bagi pedagang terdampak.

Wali Kota Denpasar dalam keterangannya menyampaikan duka cita dan simpati kepada para pedagang yang terdampak musibah tersebut. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase dan tata ruang di kawasan Jalan Sulawesi agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.

Meski dirundung kesedihan, peristiwa ini juga menampilkan kuatnya solidaritas warga Bali. Banyak masyarakat sekitar yang ikut membantu membersihkan lokasi dan menyelamatkan barang dagangan yang masih bisa dipakai. Di sela-sela aktivitas itu, mereka tetap menyisihkan waktu untuk mengikuti prosesi ngulapin.

  Keluarga Besar SniperNew.id Sampaikan Duka Mendalam atas Wafatnya Harjo Yiyatno, Ketua LSM Bintang Nusantara

Kehadiran ritual ini tidak hanya menjadi sarana pemulihan spiritual, tetapi juga memberikan kekuatan moral bagi warga yang kehilangan harta benda. “Dengan bersama-sama menghaturkan doa, kami jadi merasa lebih ringan menghadapi musibah ini,” ucap seorang pedagang kain yang rukonya terdampak.

Unggahan akun @baliprawara mengenai upacara ngulapin di lokasi bencana ini menuai banyak komentar positif dari warganet. Banyak yang mengapresiasi bagaimana masyarakat Bali mampu menjaga tradisi dan spiritualitas meski dalam kondisi terpuruk.

Sejumlah komentar menyebut bahwa upacara tersebut menjadi bukti harmoni khas Bali yang selalu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. “Inilah Bali, di tengah musibah tetap ada ruang untuk yadnya (persembahan),” tulis seorang pengguna Threads.

Peristiwa banjir yang menyebabkan ambruknya ruko di Jalan Sulawesi, Denpasar, memang menyisakan luka dan kerugian bagi banyak pihak. Namun di balik itu, tersimpan pesan mendalam tentang keteguhan masyarakat Bali menjaga harmoni hidup. Upacara ngulapin yang digelar di tengah reruntuhan tidak hanya menjadi simbol pemulihan spiritual, tetapi juga bukti nyata bahwa kehidupan harus terus berjalan meski diterpa bencana.

Bagi warga Bali, setiap bencana bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang harus dijalani dengan ketabahan, kebersamaan, dan doa. Dan di Jalan Sulawesi, Denpasar, pada Sabtu 13 September 2025 itu, sejarah mencatat bagaimana masyarakat setempat bangkit dengan keyakinan dan kearifan lokal mereka. (Sdmt)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *