Berita Daerah

Temu Kangen 59 Tahun TRANS-AD II Hanura: Nostalgia, Jasmerah, dan Persatuan Lintas Generasi

479
×

Temu Kangen 59 Tahun TRANS-AD II Hanura: Nostalgia, Jasmerah, dan Persatuan Lintas Generasi

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id - Suasana haru, tawa baha­gia, dan keakra­ban yang begi­tu terasa men­girin­gi acara “Temu Kelu­ar­ga Besar TRANS-AD II (Trans­mi­grasi Angkatan Darat) Desa Hanu­ra” yang berlang­sung meri­ah di Sang­gar Man­gli­awan, Desa Hanu­ra, Keca­matan Teluk Pan­dan, Kabu­pat­en Pesawaran, pada Rabu malam (17/9/2025). Kegiatan ini men­ja­di momen­tum berse­jarah sekali­gus pengin­gat kuat akan arti keber­samaan, per­juan­gan, dan iden­ti­tas budaya yang telah diwariskan sela­ma 59 tahun ter­akhir, Kamis (18/09/2015).

Sejak sore hari, arus kedatan­gan para putra-putri TRANS-AD II Hanura—baik yang mene­tap di desa maupun yang datang dari berba­gai daer­ah di luar Lam­pung-sudah mulai terasa. Jalanan menu­ju Sang­gar Man­gli­awan ramai den­gan suara sapaan akrab, pelukan hangat, dan tawa riang yang menyi­ratkan kerind­u­an men­dalam.

“Sudah bertahun-tahun tidak berte­mu teman-teman masa kecil di Hanu­ra. Rasanya seper­ti kem­bali ke masa-masa dulu, saat semuanya masih seder­hana,” ungkap Rini (48), salah satu anak trans­mi­gran gen­erasi ked­ua yang kini mene­tap di Palem­bang.

Pang­gung acara dihias seder­hana namun sarat mak­na, menampilkan foto-foto lama para pen­dahu­lu dan momen berse­jarah awal kedatan­gan pro­gram trans­mi­grasi angkatan darat. Potret wajah-wajah muda para orang tua mere­ka yang dulu mena­pa­ki kehidu­pan baru di Hanu­ra mem­bu­at banyak peser­ta tak kuasa mena­han haru.

Kepala Desa Hanu­ra, Rio Remo­ta, dalam sambu­tan­nya mene­gaskan pent­ingnya acara ini bukan sekadar nos­tal­gia. Ia menyam­paikan apre­si­asi besar kepa­da pani­tia Putrad (Putra-Putri Trans-ad) yang telah bek­er­ja keras mere­al­isas­ikan acara temu kan­gen ini.

  Talang Pajaresuk, Dari Viral Kini Sepi: Saatnya Bangkitkan Wisata Pringsewu

“Pent­ingnya men­ja­ga tali silat­u­rah­mi dan terus men­jalin komu­nikasi, meskipun ada yang sudah tidak ting­gal lagi di Desa Hanu­ra,” ucap Rio Remo­ta, dis­am­but tepuk tan­gan riuh.

Ia menam­bahkan bah­wa peringatan hari jadi TRANS-AD Hanu­ra yang ke-59 bukan hanya untuk men­ge­nang per­jalanan pan­jang para pen­dahu­lu, tetapi juga seba­gai wujud rasa syukur atas keber­hasi­lan dan iden­ti­tas yang telah diban­gun bersama.

“Seman­gat keber­samaan yang diwariskan para bapak-bapak Trans-ad II Hanu­ra ini­lah yang harus kita teruskan. Jan­gan sam­pai gen­erasi muda melu­pakan sejarah per­juan­gan itu,” imbuh­nya.

Di sela-sela acara, beber­a­pa tokoh kelu­ar­ga besar TRANS-AD II Hanu­ra mene­gaskan kem­bali sem­boy­an “Jan­gan Lupakan Sejarah” atau Jas­mer­ah, yang men­ja­di pengin­gat bagi selu­ruh war­ga. Bagi mere­ka, sem­boy­an ini bukan sekadar slo­gan, tetapi pesan moral yang harus terus dija­ga agar iden­ti­tas budaya dan per­juan­gan para pen­dahu­lu tidak memu­dar.

Suwito (65), salah satu gen­erasi per­ta­ma anak Trans-ad, men­ge­nang bagaimana orang tuanya dulu mem­u­lai hidup baru di Hanu­ra pada era trans­mi­grasi angkatan darat. “Mere­ka datang ke sini den­gan tekad kuat, mes­ki ser­ba ter­batas. Kita sekarang bisa menikmati hasil ker­ja keras itu. Jan­gan sam­pai per­juan­gan mere­ka sia-sia,” ujarnya penuh emosi.

Nilai-nilai ini, lan­jut Suwito, pent­ing untuk diwariskan. “Anak-anak sekarang harus tahu, apa yang mere­ka nikmati hari ini adalah hasil dari darah dan keringat para pen­dahu­lu. Per­sat­u­an itu pent­ing, jan­gan mudah ter­pec­ah,” tam­bah­nya.

Sete­lah sambu­tan res­mi, acara dilan­jutkan den­gan potong tumpeng seba­gai sim­bol rasa syukur. Poton­gan per­ta­ma dis­er­ahkan kepa­da salah satu tokoh ter­tua di kelu­ar­ga besar TRANS-AD II Hanu­ra seba­gai ben­tuk peng­hor­matan.

Keme­ri­ahan berlan­jut den­gan pem­ba­gian door­prize yang memanc­ing tawa dan sorak gem­bi­ra. Hadi­ah-hadi­ah seder­hana seper­ti per­ala­tan rumah tang­ga, cen­dera­ma­ta khas Hanu­ra, hing­ga paket sem­bako men­ja­di pengikat suasana kekelu­ar­gaan.

  Mural Shirohige Dihapus, Warga Kecewa dan Kritik Mengalir Deras

Tak ket­ing­galan, sesi makan malam bersama men­ja­di pun­cak keakra­ban. Ane­ka masakan khas Lam­pung dan hidan­gan tra­di­sion­al Jawa dis­ajikan, mencer­minkan ker­aga­man budaya yang hidup di Hanu­ra. Banyak yang meman­faatkan momen ini untuk berba­gi ceri­ta lama dan bertukar kabar ten­tang kehidu­pan mas­ing-mas­ing.

“Ini bukan soal hadi­ah atau makanan­nya, tapi keber­samaan yang mem­bu­at semuanya terasa istime­wa,” ujar Bayu (42), peser­ta yang datang dari Jakar­ta.

TRANS-AD II Hanu­ra adalah bagian pent­ing dari sejarah trans­mi­grasi angkatan darat yang dim­u­lai pada era 1960-an. Desa Hanu­ra men­ja­di salah satu titik awal pen­em­patan trans­mi­gran yang kemu­di­an berkem­bang men­ja­di komu­ni­tas mandiri. Per­jalanan pan­jang sela­ma ham­pir enam dekade ini telah melahirkan banyak ceri­ta ten­tang per­juan­gan, per­sat­u­an, dan pem­ban­gu­nan desa.

Menu­rut penga­mat sosial lokal, Dr. Lestari Wido­do, acara seper­ti ini memi­li­ki per­an strate­gis dalam mem­perku­at iden­ti­tas budaya. “Keti­ka masyarakat berkumpul untuk men­ge­nang sejarah, mere­ka bukan hanya mer­ayakan masa lalu, tetapi juga mem­perku­at jati diri kolek­tif. Ini pent­ing untuk men­ja­ga nilai-nilai keber­samaan di ten­gah tan­ta­n­gan mod­ernisasi,” ujarnya.

Selain itu, kegiatan ini juga men­ja­di sarana edukasi bagi gen­erasi muda. Banyak anak-anak dan rema­ja yang hadir malam itu tam­pak antu­sias menden­garkan ceri­ta-ceri­ta masa lalu yang dicer­i­takan oleh orang tua dan kakek-nenek mere­ka.

Beber­a­pa tokoh masyarakat dalam acara itu berpe­san agar gen­erasi muda tidak sekadar men­ge­nang, tetapi juga men­er­ap­kan nilai-nilai per­juan­gan dalam kehidu­pan sehari-hari.

“Sekarang tan­ta­n­gan­nya berbe­da. Bukan lagi soal mem­bu­ka hutan atau mem­ban­gun rumah dari nol. Tapi tan­ta­n­gan moral, teknolo­gi, dan iden­ti­tas. Kalau gen­erasi muda bisa men­ja­ga nilai gotong roy­ong dan keber­samaan, itu sudah meneruskan per­juan­gan orang tua kita,” ujar Rini.

  Duka Bencana Sumatera, Perkumpulan Aritonang Hadir Menguatkan Korban di Tapanuli Utara

Kepala Desa Rio Remo­ta juga menam­bahkan bah­wa pemer­in­tah desa siap men­dukung kegiatan seru­pa di masa depan. “Kami akan terus mem­fasil­i­tasi agar silat­u­rah­mi ini tidak berhen­ti di tahun ke-59 saja. Kita ingin seti­ap tahun ada momen­tum seper­ti ini, seba­gai pengin­gat dan pen­guat per­sat­u­an,” tegas­nya.

Di akhir acara, pani­tia menyam­paikan hara­pan agar temu kan­gen ini dap­at men­ja­di tra­disi tahu­nan. Mere­ka juga meren­canakan pro­gram sosial bersama, seper­ti ban­tu­an pen­didikan untuk anak-anak kelu­ar­ga TRANS-AD II dan pelati­han keter­ampi­lan bagi pemu­da desa.

“Temu kan­gen ini bukan hanya untuk nos­tal­gia, tetapi juga wadah untuk mem­beri man­faat nya­ta bagi masyarakat Hanu­ra,” kata Ket­ua Pani­tia, Arif San­toso.

Arif menam­bahkan bah­wa kegiatan sosial terse­but akan men­ja­di ben­tuk peng­hor­matan ter­hadap per­juan­gan gen­erasi per­ta­ma trans­mi­gran. “Kita tidak bisa mem­ba­yar pen­gor­banan mere­ka den­gan apa pun, tetapi kita bisa meneruskan nilai-nilai yang mere­ka ajarkan—kerja keras, keber­samaan, dan rasa syukur,” katanya.

Malam itu, Sang­gar Man­gli­awan kem­bali senyap sete­lah gelak tawa dan lagu-lagu nos­tal­gia berhen­ti. Namun, seman­gat yang dit­ing­galkan begi­tu terasa. Temu kan­gen ke-59 TRANS-AD II Hanu­ra bukan hanya ten­tang reuni kelu­ar­ga, tetapi ten­tang warisan nilai-nilai luhur yang terus hidup di hati seti­ap anggotanya.

Den­gan pelukan per­pisa­han dan jan­ji untuk berte­mu kem­bali, para peser­ta mening­galkan Sang­gar Man­gli­awan mem­bawa kenan­gan baru, seman­gat per­sat­u­an, dan kebang­gaan seba­gai bagian dari sejarah pan­jang Desa Hanu­ra.

Temu kan­gen ini sekali lagi mem­buk­tikan, bah­wa Jas­mer­ah — Jan­gan Sekali-kali Melu­pakan Sejarah- bukan sekadar slo­gan, melainkan kom­pas moral yang akan terus menun­tun kelu­ar­ga besar TRANS-AD II Hanu­ra di ten­gah arus peruba­han zaman.

Penulis: (Sufiyawan)


 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *