Berita Daerah

Mural Shirohige Dihapus, Warga Kecewa dan Kritik Mengalir Deras

371
×

Mural Shirohige Dihapus, Warga Kecewa dan Kritik Mengalir Deras

Sebarkan artikel ini

Sragen, SniperNew.id – Sebuah mural bergambar bajak laut Shirohige dari serial anime One Piece yang dilukis di sebuah jalan lingkungan di Sragen, Jawa Tengah, mendadak viral usai dihapus oleh aparat pada Minggu, 3 Juli 2025. Aksi penghapusan tersebut memicu gelombang kekecewaan dan reaksi keras dari warganet serta masyarakat lokal, yang menganggap mural itu sebagai bentuk ekspresi seni anak muda sekaligus upaya merangkul Generasi Z dalam menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia.

Akun Threads @folkonoha mengunggah video dan informasi mengenai penghapusan mural ini. Disebutkan bahwa mural tersebut sengaja dibuat oleh warga sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan RI sekaligus untuk menyapa generasi muda dengan pendekatan budaya pop yang sedang viral, yakni One Piece.

Komandan Kodim 0725/Sragen, Letkol Inf Ricky Julianto Wuwung, menanggapi polemik ini dengan menyatakan akan mengecek terlebih dahulu dan memahami bahwa tema One Piece memang sedang menjadi tren di kalangan anak muda.

  Bendera Negara Rusak, Kepatuhan Undang-Undang Dipertanyakan

Dalam video yang diunggah akun tersebut, terlihat seorang pria mengecat ulang mural bergambar simbol bajak laut Shirohige—karakter dalam One Piece yang dikenal dengan makna kuat tentang keluarga dan loyalitas. Mural yang berada di permukaan jalan tersebut ditimpa dengan cat putih, menutupi seluruh bagian gambar, termasuk lambang tengkorak berjenggot putih dan latar melingkar khas lambang bajak laut tersebut.

Langkah penghapusan ini justru menyulut kontroversi luas. Kolom komentar dalam unggahan itu dipenuhi respons warganet yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pengekangan kebebasan berekspresi.

Salah satu komentar dari pengguna @1__misterius menyampaikan, “Bgs dahal tuh makna simbol bajak laut Shirohige. Ttg kekeluargaan..” menekankan bahwa simbol tersebut sarat makna positif. Komentar lain dari @guidesdod berbunyi, “NEGARA DIKTATOR BUKAN DEMOKRASI”, mencerminkan kekecewaan atas tindakan aparat yang dianggap berlebihan.

Komentar lainnya, dari @dragonfightime, menyatakan bahwa mural itu adalah seni karya anak muda, bukan simbol pemberontakan. Ia menulis, “Padahal itu seni karya anak muda loh, dan itu bukan salah satu BENDERA ONE PIECE loh…”

Pengguna @mohammadfh01 juga menambahkan klarifikasi soal konteks lambang yang digunakan, “Itu salah lambang bajak laut yang lain di One Piece Bang, klo abang belum tahu… karena di One Piece banyak bendera bajak lautnya, tidak hanya yang tengkorak pakai topi jerami.”

  FPII Lampung Gelar MUSDA dan Tetapkan Kepengurusan Baru SETWIL Lampung

Beberapa komentar juga mengaitkan penghapusan mural dengan ketakutan pemerintah terhadap simbol yang viral. Akun @xakartive menulis, “Tandanya pemerintah takut kalau rakyat sudah bergerak.” Sedangkan @aqua_bonum menyindir, “Apa kita sdg mundur ke jaman orba? hayoloooh siapa yg kmaren2 rindu jaman itu…???”

Kritik yang diarahkan pada aparat juga muncul dengan nada sinis, seperti dari akun @leisure.crafts yang menulis, “Dadakan bikin warkop tema one piece boleh g y? Ntar klo dimarahin y kan konsep usaha saya ini pak.” atau @boedprasetyo yang berkomentar, “Keparat sama kartun aja takut.”

Beberapa warganet lainnya membandingkan tindakan ini dengan situasi masa lalu, di mana kontrol terhadap ekspresi masyarakat sangat ketat. “Lahhh mirip jaman dulu ya. Abis ngomong apa dicariin dan menghilang 😢😢,” tulis akun @sesdia_.

Ada pula yang mengkritik inkonsistensi penindakan. Akun @dolybastaman menyindir, “Punya ormas sama genk-genk ga jelas ko dibiarin.” Sedangkan @fahmii.azkaa menulis, “Baru kali ini liat mereka takut sama anime.”

Sementara itu, dari sisi aparat, belum ada penjelasan resmi mengenai alasan pasti penghapusan mural selain pernyataan singkat dari Dandim Sragen yang akan melakukan pengecekan. Tidak ada konfirmasi apakah mural tersebut melanggar aturan tertentu, atau hanya karena dianggap tidak sesuai dengan norma tempat umum.

  Gubernur Maluku Utara Disambut Meriah Warga Moramo Utara

Mural seni jalanan seperti ini sebenarnya bukan hal baru di Indonesia, apalagi menjelang perayaan hari kemerdekaan. Namun, kasus kali ini menjadi sorotan karena menyangkut simbol dari budaya populer Jepang yang tengah digandrungi masyarakat muda Indonesia, serta reaksi keras terhadap penghapusannya.

Fenomena ini menunjukkan adanya jurang komunikasi dan persepsi antara generasi muda dan aparat pemerintah dalam menafsirkan bentuk ekspresi publik. Di satu sisi, anak muda mencoba menyalurkan kreativitas melalui media yang mereka pahami dan gemari; di sisi lain, aparat masih melihatnya dengan lensa kecurigaan dan kekhawatiran atas potensi simbolik yang dibawa oleh gambar, meskipun berasal dari dunia fiksi.

Peristiwa ini membuka ruang diskusi tentang pentingnya literasi budaya pop di kalangan pengambil kebijakan, serta perlunya pendekatan yang lebih bijak dalam menyikapi kreativitas masyarakat. Apalagi jika tujuan utama mural tersebut adalah menyambut perayaan nasional dan mengajak generasi muda untuk turut serta merayakan dengan cara mereka sendiri.

Apakah mural itu memang layak dihapus? Atau justru seharusnya menjadi contoh inklusi budaya generasi baru dalam semangat kemerdekaan?

Hingga saat ini, diskusi di media sosial terus berkembang, dan banyak pihak menantikan sikap lanjut dari pemerintah daerah, termasuk apakah ada upaya mediasi atau klarifikasi publik yang akan dilakukan. (Dar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *