Jakarta, SnperNew.id – Komitmen besar ditunjukkan oleh PSSI dan Djarum Foundation dalam membangun masa depan sepakbola putri Indonesia. Tak hanya sekadar wacana, kolaborasi ini bergerak nyata dari akar rumput dimulai dari pembinaan usia dini, sekolah-sekolah, hingga SSB (Sekolah Sepak Bola) di seluruh penjuru Nusantara.
Langkah ini menjadi angin segar bagi kemajuan sepakbola perempuan di Indonesia yang selama ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari minimnya kompetisi, kurangnya jumlah pemain, hingga absennya industri hiburan yang mendukung liga putri. PSSI dan Djarum Foundation bersepakat bahwa perubahan besar harus dimulai dari bawah, bukan hanya membangun liga di permukaan tanpa fondasi kuat.
“Kami percaya bahwa masa depan sepakbola putri Indonesia ada di akar rumput. Karena itu, kami akan memperluas program pembinaan yang terintegrasi dari usia dini di sekolah-sekolah dan SSB,” ujar perwakilan PSSI dalam konferensi pers pada Minggu (14/7).
Fokus Usia Dini: Cetak Generasi Emas Sepakbola Putri, Dalam beberapa bulan ke depan, program pembinaan sepakbola putri akan menyasar lebih dari 300 sekolah dasar dan SSB di berbagai daerah. Format pelatihan akan dikombinasikan dengan kurikulum pendidikan karakter dan gizi, memastikan setiap pemain muda tidak hanya terampil di lapangan, tetapi juga sehat secara fisik dan mental.
“Ini bukan hanya soal mencetak pemain bintang, tapi membentuk perempuan-perempuan tangguh yang punya masa depan lewat sepakbola,” ungkap Program Director Djarum Foundation, Sylvia Arisanti.
Menurutnya, untuk bisa menghadirkan Liga Putri yang benar-benar profesional dan berkelanjutan, perlu waktu, tenaga, dan konsistensi. “Kita butuh lebih banyak pemain. Tapi juga, kita butuh tontonan yang layak dijual. Liga Putri harus bisa dinikmati, punya kualitas permainan dan nilai hiburan yang menarik,” katanya.
Liga Putri Harus Dibangun dengan Strategi Entertainment, Di sisi lain, pernyataan dari akun X (dulu Twitter) @gilabola_ina pada Minggu (14/7) menjadi sorotan publik. Dalam unggahannya, disebutkan bahwa pembangunan Liga Putri tak bisa asal jadi. “Membangun Liga Putri di Indonesia butuh waktu. Selain jumlah pemain, perlu adanya segi entertainment yang baik sehingga menarik penonton. Tanpa itu, Liga Putri bisa berhenti kembali,” tulis akun tersebut.
Pernyataan ini sejalan dengan visi PSSI dan Djarum Foundation. Sepakbola profesional hari ini tak bisa dilepaskan dari aspek komersial dan hiburan. Tanpa dukungan penonton, sponsor, dan media, liga apapun termasuk Liga Putri akan sulit bertahan.
Karena itu, berbagai konsep pengemasan pertandingan dan promosi talenta muda akan ikut dijalankan. Salah satunya adalah dengan menyisipkan turnamen-turnamen usia dini ke dalam event-event sepakbola besar di Indonesia, seperti Liga 1 dan Piala Presiden.
Harapan Baru untuk Talenta Putri
Inisiatif ini langsung mendapat respons positif dari pelatih, pengamat, dan aktivis olahraga perempuan. Banyak yang menilai langkah ini sebagai gerakan progresif yang sudah lama ditunggu.
“Selama ini sepakbola putri berjalan sendiri-sendiri. Sekarang, kalau PSSI dan Djarum Foundation serius turun ke akar rumput, kita bisa punya harapan besar. Bahkan bukan tidak mungkin dalam 10 tahun ke depan, Indonesia punya pemain putri yang tampil di level dunia,” ucap Dian Kusuma, pelatih SSB di Yogyakarta.
Program ini akan terus dipantau dan dievaluasi tiap tahun. Target jangka menengahnya adalah membentuk struktur kompetisi putri di tingkat daerah secara berjenjang, lalu membangun Liga Putri Nasional dengan sistem yang kuat dan menarik bagi penonton maupun sponsor.
Bangkitnya sepakbola putri Indonesia bukan lagi angan-angan. PSSI dan Djarum Foundation telah membuka jalan lewat strategi akar rumput, pembinaan menyeluruh, dan pendekatan hiburan modern. Dengan dukungan masyarakat, media, dan dunia usaha, masa depan cerah bagi sepakbola putri Indonesia sangat mungkin tercapai.
Kini saatnya para talenta muda perempuan menunjukkan bahwa mereka juga bisa menendang bola sejauh mimpi.
Editor: (Darmawan)



















