Jakarta, SniperNew.id – Situasi ricuh mewarnai aksi massa yang berlangsung di sekitar kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, pada Kamis (28/8/2025) malam hingga Jumat (29/8/2025) pagi. Berdasarkan unggahan akun media sosial Threads import23_official, massa aksi membakar sembilan unit mobil di lokasi yang berdekatan dengan Markas Satuan Brimobda Polda Metro Jaya.
Aksi tersebut dilaporkan berlangsung sejak malam hari, kemudian berlanjut hingga pagi. Dalam unggahan itu, disebutkan bahwa massa menuntut pertanggungjawaban atas insiden penabrakan dan pelindasan terhadap seorang pengemudi ojek online (ojol) yang diduga dilakukan oleh anggota Brimob Polda Metro Jaya sehari sebelumnya, yakni pada Kamis (28/8/2025).
Akun Threads import23_official menuliskan. “Ada 9 mobil yang dibakar massa aksi tadi malam di Kwitang, Satbrimobda Polda Metro Jaya. Aksi dilaksanakan dari tadi malam hingga pagi hari dan dilanjutkan lagi. Mereka menuntut atas insiden terjadinya penabrakan dan pelindasan driver ojol oleh anggota Brimob Metro Jaya pada Kamis 28/8/2025.”
Unggahan tersebut juga disertai tagar #dprri, #mahasiswa, #stmsejabodetabek, #ojol, #brimob, #polri, #faktanegeri, #beritaterupdate, yang mengindikasikan bahwa kelompok mahasiswa dan solidaritas pengemudi ojol diduga ikut terlibat dalam aksi tersebut.
Dalam video dan foto yang beredar di media sosial, terlihat jelas sejumlah kendaraan roda empat dalam keadaan hangus terbakar. Dari sudut pengambilan gambar, deretan mobil tersebut terparkir di sisi jalan dekat pepohonan besar dan trotoar.
Pada gambar pertama, tampak beberapa unit mobil yang sudah tidak berbentuk, hanya menyisakan rangka dan kerangka besi. Sebagian mobil terbalik dan terbakar habis, memperlihatkan kerusakan parah akibat api. Asap hitam pekat diduga masih terlihat pada malam kejadian, meski dalam foto pagi hari hanya menyisakan bangkai mobil.
Gambar kedua memperlihatkan lebih jelas deretan mobil yang terbakar di sepanjang trotoar. Beberapa mobil minibus tampak berjajar, semuanya hangus hingga bagian interior dan eksterior habis dilalap api. Warna cat mobil lenyap, kaca-kaca pecah, serta bagian ban menyisakan bekas terbakar.
Saksi mata yang berada di sekitar lokasi menyebutkan bahwa peristiwa kebakaran mobil itu terjadi setelah massa mulai melakukan aksi anarkis. Api dengan cepat melalap beberapa kendaraan yang terparkir, hingga akhirnya membakar total sembilan mobil.
Aksi ini dipicu oleh insiden yang diduga menimpa seorang pengemudi ojek online sehari sebelumnya. Menurut narasi yang beredar di media sosial, korban mengalami penabrakan dan pelindasan yang diduga dilakukan anggota Brimob di Jakarta pada Kamis (28/8/2025).
Insiden tersebut menimbulkan reaksi keras dari kelompok masyarakat, khususnya komunitas pengemudi ojol dan mahasiswa. Mereka menilai tindakan itu tidak manusiawi dan menuntut agar aparat penegak hukum mengusut tuntas kejadian tersebut secara transparan.
Meski demikian, hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait kebenaran insiden penabrakan ojol tersebut maupun kronologi lengkap aksi pembakaran mobil di Kwitang.
Aksi pembakaran mobil di tengah kota Jakarta jelas menimbulkan kekhawatiran warga. Kawasan Kwitang yang biasanya ramai dengan aktivitas lalu lintas dan perdagangan mendadak berubah menjadi lokasi penuh kericuhan.
Deretan mobil yang terbakar tidak hanya menimbulkan kerugian materi bagi pemilik kendaraan, tetapi juga memicu keresahan masyarakat. Beberapa ruas jalan harus ditutup sementara untuk mencegah massa semakin meluas.
Sejumlah aparat kepolisian dan petugas pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi. Api berhasil dipadamkan setelah menghanguskan seluruh unit mobil yang ada di lokasi. Tidak ada laporan jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa pembakaran tersebut, namun kerugian material ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Beberapa warga sekitar yang ditemui pada pagi hari mengaku kaget melihat kondisi jalan yang dipenuhi bangkai mobil terbakar.
“Semalam memang ramai sekali, banyak massa yang teriak-teriak, lalu tiba-tiba api besar muncul. Pagi ini kami lihat semua mobil sudah habis terbakar. Jujur, kami takut karena ini sudah dekat pemukiman,” ungkap salah seorang warga.
Warga lainnya menambahkan bahwa situasi mencekam membuat mereka memilih berdiam di rumah. Beberapa toko di sekitar lokasi juga memilih menutup lebih awal demi menghindari risiko.
Peristiwa ini menjadi catatan penting tentang bagaimana aksi massa dapat berubah menjadi anarkis jika tidak dikelola dengan baik. Para pengamat menilai bahwa tuntutan massa terkait insiden penabrakan ojol harus segera dijawab oleh aparat dengan penyelidikan transparan.
Pengamat hukum menekankan bahwa kasus dugaan pelindasan pengemudi ojol harus diusut tuntas agar tidak menimbulkan spekulasi liar. Jika benar terbukti ada kesalahan prosedur oleh aparat, maka harus ada tindakan tegas. Namun jika informasi yang beredar belum valid, maka klarifikasi resmi juga perlu segera dilakukan untuk meredam amarah massa.
Beberapa tokoh masyarakat mengingatkan pentingnya komunikasi terbuka antara kepolisian, pengemudi ojol, serta mahasiswa yang kerap menjadi motor gerakan aksi.
“Jangan sampai informasi simpang siur membuat situasi semakin panas. Kepolisian harus memberi keterangan resmi, sementara massa juga sebaiknya menyalurkan aspirasi secara damai, bukan dengan tindakan merusak,” ujar salah satu tokoh pemuda Jakarta.
Dalam unggahan media sosial disebutkan bahwa aksi tidak hanya berhenti pada Kamis malam, tetapi berlanjut hingga Jumat pagi, dan bahkan masih ada kemungkinan lanjutan. Massa menyatakan tidak akan berhenti sampai tuntutan mereka dipenuhi.
Hal ini menjadi perhatian serius aparat keamanan, sebab aksi lanjutan bisa menimbulkan kerusakan yang lebih besar jika tidak diredam sejak dini.
Kericuhan di Kwitang, Jakarta Pusat, pada Kamis malam hingga Jumat pagi 29 Agustus 2025, berujung pada pembakaran sembilan mobil. Aksi massa ini dipicu oleh dugaan insiden penabrakan seorang pengemudi ojek online oleh anggota Brimob sehari sebelumnya.
Hingga kini, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut. Warga berharap agar semua pihak dapat menahan diri dan menyelesaikan masalah dengan jalur hukum, bukan dengan tindakan anarkis.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa setiap tuntutan keadilan harus dikawal dengan cara damai, agar aspirasi masyarakat tersampaikan tanpa menimbulkan kerugian lebih besar. (Red)













