Lombok Barat, SniperNew.id – Lebih dari 3000 hektar sawah di wilayah Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini menikmati manfaat besar dari sistem irigasi yang telah direvitalisasi. Irigasi DI Pengga menjadi sorotan utama karena telah ditingkatkan menggunakan teknologi precast terbaru. Langkah strategis ini diharapkan mampu menjadi salah satu pilar utama dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional dan mendukung visi pembangunan pertanian menuju Asta Cita Presiden Prabowo, Minggu (03/8/25)
Teknologi precast, atau pracetak, merupakan sistem konstruksi dengan komponen beton yang dicetak terlebih dahulu sebelum dipasang di lokasi. Teknologi ini tidak hanya mempercepat proses pembangunan, tetapi juga meningkatkan efisiensi, daya tahan, dan mengurangi rembesan air yang selama ini menjadi kendala utama dalam sistem irigasi konvensional.
Agus Harimurti Yudhoyono, tokoh nasional yang saat ini aktif dalam mendukung program-program ketahanan pangan nasional, mengungkapkan optimismenya terhadap dampak positif dari revitalisasi ini. Dalam unggahan terbarunya di platform Threads, Agus menyampaikan bahwa teknologi precast ini memungkinkan air mengalir secara lebih efisien ke lahan pertanian para petani.
“Teknologi ini juga mereduksi adanya rembesan air sehingga bisa lebih optimal dalam menyuplai air ke lahan para petani,” tulisnya.
Lebih jauh, Agus berharap bahwa langkah ini akan mendorong peningkatan produktivitas pertanian di NTB, menaikkan indeks pertanaman, serta mendorong swasembada pangan secara nasional.
“Harapannya upaya ini akan meningkatkan produktivitas pertanian, menaikkan indeks pertanaman, dan mewujudkan swasembada pangan menuju Asta Cita Presiden Prabowo,” imbuhnya, disertai simbol bendera merah putih yang menggambarkan semangat nasionalisme dan kedaulatan pangan.
Sektor pertanian di Indonesia sangat bergantung pada sistem irigasi yang andal. Tanpa pasokan air yang konsisten, petani tidak dapat menanam secara optimal, yang berakibat pada menurunnya hasil panen dan terganggunya rantai pasok pangan.
DI Pengga yang terletak di Lombok Barat telah menjadi tumpuan pengairan bagi ribuan hektar sawah. Namun, seiring berjalannya waktu, sistem irigasi tersebut mengalami kerusakan dan penurunan efisiensi.
Revitalisasi irigasi menjadi solusi mendesak. Dengan penggunaan teknologi modern seperti precast, permasalahan kebocoran dan kerusakan struktur dapat diminimalisir. Hal ini memungkinkan air mengalir lebih jauh dan merata, menjangkau areal persawahan yang sebelumnya sulit terairi.
Menurut data dari Kementerian Pertanian, peningkatan efisiensi irigasi sebesar 10% saja dapat berdampak besar terhadap luas lahan tanam dan jumlah produksi pangan. Dengan revitalisasi DI Pengga, potensi peningkatan ini bahkan bisa lebih tinggi.
Salah satu keunggulan utama teknologi precast adalah kemampuannya dalam mengurangi rembesan air. Dalam sistem irigasi tradisional, rembesan menjadi masalah serius, karena menyebabkan kehilangan air dalam jumlah besar sebelum sampai ke lahan petani. Precast menawarkan sambungan yang rapat dan tahan lama, sehingga distribusi air lebih terkontrol dan hemat.
Selain itu, teknologi ini lebih ramah lingkungan. Proses konstruksi yang lebih singkat dan penggunaan material yang efisien mengurangi jejak karbon dibandingkan metode konvensional. Bagi kawasan seperti NTB yang memiliki kondisi geografis menantang, kecepatan dan efisiensi menjadi kunci keberhasilan proyek.
Dengan kombinasi teknologi dan pendekatan kebijakan yang tepat, Indonesia semakin mendekati tujuannya untuk menjadi negara yang mandiri secara pangan dan agrikultur.
Indeks pertanaman (IP) adalah ukuran seberapa sering lahan pertanian digunakan dalam setahun. Di banyak wilayah Indonesia, IP masih berada di bawah 200, yang artinya lahan hanya digunakan untuk satu hingga dua musim tanam per tahun. Salah satu penyebab utamanya adalah ketersediaan air yang tidak konsisten sepanjang tahun.
Dengan pengairan yang stabil dari DI Pengga, para petani di Lombok Barat memiliki peluang besar untuk meningkatkan IP mereka. Tanpa harus bergantung pada curah hujan yang tak menentu, petani dapat menanam hingga tiga kali setahun. Ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan lokal dan nasional.
Menurut penelitian Lembaga Penelitian Pertanian Indonesia, peningkatan IP dari 150 ke 200 dapat meningkatkan produktivitas beras hingga 33% dalam satu tahun. Jika tren ini terjadi di NTB, maka wilayah ini berpotensi menjadi salah satu lumbung pangan baru di kawasan timur Indonesia.
Swasembada Pangan Menuju Asta Cita
Presiden terpilih Prabowo Subianto telah mencanangkan delapan cita-cita pembangunan nasional, dikenal sebagai Asta Cita. Salah satu pilar utamanya adalah pencapaian swasembada pangan. Tujuan ini bukanlah sekadar mimpi politik, tetapi merupakan kebutuhan strategis dalam menghadapi tantangan global seperti krisis pangan, perubahan iklim, dan ketegangan geopolitik yang dapat mengganggu rantai pasok makanan internasional.
Program revitalisasi irigasi seperti yang terjadi di DI Pengga adalah bagian dari realisasi konkret menuju cita-cita tersebut. Dengan kemandirian pangan, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor beras atau komoditas lain, tetapi juga memberikan jaminan stabilitas sosial-ekonomi di tingkat akar rumput.
Agus Yudhoyono, yang dikenal memiliki latar belakang militer dan pendidikan tinggi di bidang kebijakan publik, menyampaikan dukungannya terhadap upaya konkret pemerintah dalam mengakselerasi pembangunan pertanian. Dukungan ini menjadi sinyal positif bahwa pembangunan infrastruktur dasar seperti irigasi mendapat perhatian dari berbagai elemen pemimpin bangsa.
Dari segi sosial ekonomi, para petani di Lombok Barat menjadi pihak yang paling diuntungkan dari proyek revitalisasi ini. Dengan pasokan air yang stabil, mereka bisa mengurangi biaya operasional seperti pompa air diesel dan memperluas lahan tanam tanpa khawatir kekeringan. Hal ini berujung pada peningkatan pendapatan rumah tangga petani dan penguatan ekonomi desa.
Dalam video unggahan Agus, tampak beberapa petani berdiskusi bersama petugas lapangan di tengah hamparan sawah hijau. Ini menunjukkan sinergi antara masyarakat, teknisi, dan pemerintah dalam mendorong kemajuan bersama.
Para petani yang sebelumnya hanya mampu panen dua kali dalam setahun kini bisa berharap menanam tiga kali. Selain itu, risiko gagal panen akibat kekurangan air pun berkurang secara signifikan.
Revitalisasi irigasi ini juga menjadi titik awal bagi transformasi pertanian di NTB. Dengan infrastruktur dasar yang memadai, wilayah ini dapat menjadi contoh modernisasi pertanian berbasis teknologi di Indonesia bagian timur.
Langkah berikutnya adalah integrasi sistem irigasi dengan digitalisasi pertanian, penggunaan pupuk organik, diversifikasi tanaman, dan pelatihan petani berbasis teknologi. Jika digerakkan secara sinergis, NTB berpeluang menjadi provinsi model dalam hal ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan.
Pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pertanian dan Dinas Sumber Daya Air NTB, juga diharapkan mampu menjaga keberlanjutan sistem irigasi ini melalui pemeliharaan rutin, pelibatan petani dalam manajemen air, serta penguatan kelembagaan pertanian lokal.
Revitalisasi DI Pengga bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Ini adalah simbol dari komitmen pemerintah terhadap kedaulatan pangan, kesejahteraan petani, dan efisiensi pengelolaan sumber daya alam.
Dengan pemanfaatan teknologi modern, dukungan pemimpin nasional, serta keterlibatan aktif masyarakat, NTB kini bergerak lebih dekat ke arah masa depan pertanian yang mandiri dan berkelanjutan.
Asta Cita bukan sekadar slogan. Ia hidup dalam bentuk nyata di tanah-tanah basah Lombok Barat yang kini lebih subur dari sebelumnya. (Red).



















