Di tengah lebatnya hutan bambu dan bisikan angin yang menyapu daun-daun, berdiri sebuah tempat yang tidak hanya sakral, namun juga menyimpan jejak sejarah kuno yang menggetarkan. Lokasinya berada di Rowo Bayu, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Di tempat inilah, konon Prabu Tawang Alun menjalani tapa brata—sebuah laku spiritual nan sakral yang hingga kini masih menggugah rasa penasaran para peziarah dan peneliti sejarah.
Sebuah unggahan dari akun Facebook Petung Sewu membagikan potret bangunan sederhana berdinding bambu dan beratap seng, dikelilingi rerimbunan bambu yang menjulang tinggi. Dalam keterangan unggahan tersebut, disebutkan:
“TEMPAT PERTAPAAN PRABU TAWANGALUN. Lokasi Rowo Bayu Banyuwangi ini terletak di Kentangan alias Desa Rowo Bayu, Songgon, Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.”
Unggahan ini segera menuai respons beragam dari para pengguna Facebook. Banyak yang tertarik, beberapa menyangsikan, namun sebagian besar larut dalam nostalgia dan kenangan lama yang tertanam dalam memori kolektif masyarakat sekitar.
Salah satu komentar menarik datang dari akun bernama BankSayur Zalma. Ia menulis. ”Kalau dalam cerita terkenal, raja/prabu Tawang Alun yang mempunyai adik laki-laki bernama Mas Wilabrata, dikenal sebagai Adipati Wilabrati. Wilabrata sempat menjadi raja di Kedawung sebelum akhirnya menyatukan kembali wilayah Kedawung dengan macan putih.”
Sebuah narasi penuh imajinasi yang membawa pembaca melintasi lorong waktu ke masa di mana raja-raja Jawa hidup berdampingan dengan mitos dan makhluk gaib. Nama-nama seperti Kedawung, Macan Putih, dan Mas Wilabrata seolah menjadi pintu gerbang ke dunia masa lalu yang penuh intrik, perjuangan, dan spiritualitas.
Menanggapi komentar tersebut, Mohammad Nurkhoiri menuliskan. “Kedawung mana? Di desaku ada juga. Kalau 1 Muharam ada tradisi takir sewu.”
Komentar ini mengindikasikan bahwa lokasi dan cerita-cerita semacam ini mungkin tidak hanya hidup di satu tempat, melainkan menjadi bagian dari budaya yang lebih luas, tersebar dan mengalami adaptasi sesuai dengan tradisi lokal masing-masing daerah.
Namun tidak semua menyetujui narasi tersebut. Arya Acarya, salah satu pengguna lain, menulis dengan nada skeptis. “Ahhh ndak benar ini.”
Di sisi lain, Hari Pranoyo justru mengonfirmasi keberadaan lokasi tersebut. “Bukannya ada di tepian Rowo Bayu dan sudah dibangun indah + dipagar.”
Komentar ini seakan menyodorkan fakta bahwa tempat pertapaan tersebut bukan sekadar mitos atau dongeng rakyat, melainkan situs nyata yang dapat dikunjungi, dilihat, dan dirasakan atmosfer spiritualnya.
Membubuhkan sentuhan personal, Wira Bhumi menambahkan. ”Aku tau lokasi itu… Pasti lewat tengah pohon kembar.”
Pernyataan ini bukan hanya menambah keautentikan informasi, namun juga memberi nuansa magis. Pohon kembar dalam banyak budaya lokal sering dihubungkan dengan gerbang spiritual atau penjaga alam gaib. Bila seseorang harus “lewat tengah pohon kembar” untuk menuju tempat pertapaan, itu mengisyaratkan bahwa lokasi ini bukan sekadar titik geografis, tapi juga pintu menuju alam kebatinan.
Nama Prabu Tawang Alun bukanlah asing bagi masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Ia merupakan tokoh legendaris yang konon pernah memimpin Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di Jawa Timur. Sosoknya sering dikaitkan dengan kebijaksanaan, kekuatan spiritual tinggi, dan kemampuan menyatukan wilayah yang tercerai-berai.
Menurut beberapa versi cerita rakyat, adik beliau, Mas Wilabrata (atau Wilabrati), pernah memimpin daerah Kedawung dan akhirnya menyatukan kembali wilayah tersebut dengan bantuan kekuatan gaib berwujud macan putih. Macan putih sendiri dalam kebudayaan Jawa kerap melambangkan penjaga raja atau simbol kesucian yang turun dari alam gaib.
Sementara itu, Rowo Bayu bukan hanya sebuah desa, tapi juga kawasan yang dikenal memiliki aura mistis kuat. Selain sebagai tempat pertapaan, Rowo Bayu juga dikenal sebagai tempat berlangsungnya tradisi takir sewu, sebuah ritual sedekah bumi yang dilaksanakan setiap 1 Muharam oleh warga sekitar.
Tradisi ini sarat akan nilai spiritual dan budaya. Takir, yaitu wadah dari daun pisang yang berisi makanan, disusun dan dibagikan sebagai bentuk syukur kepada Yang Maha Kuasa serta penghormatan kepada leluhur. Ritual ini menunjukkan bahwa warisan Prabu Tawang Alun dan nilai-nilai luhur yang dibawanya masih dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat Banyuwangi.
Apa yang muncul dalam unggahan dan komentar-komentar tersebut bukanlah semata debat sejarah atau validitas cerita. Melainkan cermin dari bagaimana masyarakat memelihara warisan budaya lewat memori kolektif, narasi lisan, dan jejak-jejak spiritual yang menyeberangi batas antara dunia nyata dan gaib.
Bagi sebagian orang, lokasi seperti tempat pertapaan Prabu Tawang Alun bukan hanya situs sejarah, tapi juga ruang kontemplasi. Sebuah tempat di mana kita dapat merenung tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan warisan apa yang ingin kita tinggalkan.
Seperti yang ditulis oleh Wira Bhumi—“Pasti lewat tengah pohon kembar”—kalimat ini bisa dimaknai secara simbolik. Bahwa untuk sampai pada pemahaman sejarah dan kearifan lokal, kita harus melewati ‘pintu kembar’ antara dunia modern dan tradisi leluhur, antara logika dan kepercayaan, antara fakta dan legenda.
Mungkin benar apa yang diyakini sebagian masyarakat, bahwa Prabu Tawang Alun pernah bertapa di Rowo Bayu. Atau mungkin hanya bagian dari mitos yang diceritakan turun-temurun. Namun yang pasti, warisan seperti ini adalah bagian penting dari identitas budaya.
Banyuwangi bukan hanya tentang pantai dan festival. Di balik hijaunya hutan dan sunyinya Rowo Bayu, ada suara masa lalu yang masih bergema hingga hari ini—mengajak kita untuk mengenal lebih dalam akar sejarah, dan menghormati cerita yang membentuk wajah daerah ini.
“Dan bila engkau melewati pohon kembar itu, jangan hanya gunakan matamu… gunakan pula hatimu.”
Jika Anda menyukai kisah ini, mungkin sudah waktunya untuk berkunjung kembali ke Rowo Bayu — tempat legenda dan kenangan lama saling berpelukan dalam sunyi.
Editor: (Ahmad)













