Sumedang, SniperNew.id – Suasana budaya Sunda di Kabupaten Sumedang kembali hidup semarak dengan hadirnya Pasanggiri Sinden Muda se-Sumedang. Kegiatan ini menjadi sorotan publik, bukan hanya karena menjadi wadah kompetisi bagi para sinden muda, tetapi juga karena nilai luhur yang diusung di dalamnya.
Informasi mengenai acara ini awalnya diunggah oleh akun media sosial @donyahmad.munir melalui platform Threads. Dalam unggahannya, ia menekankan pentingnya menjaga tradisi dan warisan seni melalui ajang ini. “Menjaga tradisi dan warisan seni. Pasanggiri Sinden Muda se-Sumedang tidak hanya sebagai ajang kompetisi nembang para sinden muda semata, namun juga sebagai wadah untuk belajar tentang rasa, etika, dan tata krama sinden,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Unggahan itu juga disertai foto suasana acara yang menampilkan latar panggung dengan tulisan ‘Pasanggiri Sinden Muda Sumedang’ serta beberapa tokoh dan peserta yang hadir.
Pasanggiri ini bukan sekadar lomba menyanyi tembang Sunda, tetapi lebih dari itu. Seperti yang ditegaskan oleh @donyahmad.munir, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran. Para sinden muda tidak hanya diuji dalam kemampuan olah vokal, melainkan juga dalam penguasaan etika, tata krama, dan filosofi sinden.
Hal ini penting, karena sinden bukan sekadar penyanyi pengiring gamelan, melainkan figur yang memiliki peran penting dalam menjaga kesakralan seni tradisi. Dengan demikian, kehadiran kompetisi ini menjadi langkah nyata untuk menjaga keaslian nilai budaya Sunda agar tetap hidup dan tidak terkikis zaman.
Dalam unggahannya, @donyahmad.munir juga menambahkan. “Sinden-sinden muda tidak hanya memperoleh pengalaman berharga, tetapi menginspirasi generasi muda lainnya untuk terus menjaga kekayaan budaya bangsa.”
Pesan tersebut menegaskan bahwa kehadiran sinden muda bukan hanya simbol pelestarian, tetapi juga sumber inspirasi. Anak-anak muda lain di Sumedang maupun di daerah lain diharapkan bisa melihat bahwa menjaga budaya tidak harus ketinggalan zaman, justru bisa menjadi kebanggaan tersendiri.
Ajang ini sekaligus menunjukkan bahwa budaya Sunda tetap relevan, mampu berdampingan dengan perkembangan modernisasi, dan bahkan bisa menarik perhatian generasi milenial serta Gen Z.
Kabupaten Sumedang memang dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Sunda. Tidak hanya terkenal dengan tahu Sumedang, daerah ini juga punya warisan seni yang kaya. Mulai dari kacapi suling, wayang golek, hingga seni tari tradisional.
Dengan hadirnya Pasanggiri Sinden Muda se-Sumedang, Sumedang kembali menegaskan dirinya sebagai daerah yang konsisten merawat budaya. Ajang ini diinisiasi oleh Paguyuban Seniman Budayawan Sumedang (PSBS), bekerja sama dengan pemerintah daerah dan para tokoh budaya.
Mereka percaya, pelestarian budaya hanya bisa dilakukan jika generasi muda ikut terlibat aktif. Dengan mengemasnya dalam bentuk pasanggiri, anak muda bisa ikut terjun langsung sekaligus merasa bangga pada identitas budaya sendiri.
Sinden dalam budaya Sunda bukan hanya penyanyi yang melantunkan lagu atau tembang. Sinden adalah simbol ketulusan, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menjaga keharmonisan pertunjukan.
Di balik suara merdu yang mereka lantunkan, sinden juga memegang peran penting dalam memberikan roh pada pertunjukan gamelan dan wayang golek. Sinden adalah penghubung rasa antara seniman dan penonton.
Oleh karena itu, pembinaan sinden muda menjadi langkah penting agar nilai-nilai luhur ini tetap diwariskan. Seperti yang ditegaskan dalam unggahan @donyahmad.munir, ajang ini menjadi tempat belajar tentang rasa, etika, dan tata krama.
Dalam video yang dibagikan, terlihat suasana panggung dengan dekorasi yang penuh nuansa budaya Sunda. Poster besar bertuliskan “Pasanggiri Sinden Muda Sumedang” dengan ilustrasi seorang sinden yang sedang bernyanyi.
Di panggung, tampak beberapa tokoh budaya, juri, dan peserta yang hadir. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan besar terhadap acara ini. Antusiasme masyarakat juga tinggi, terutama generasi muda yang hadir baik sebagai peserta maupun penonton.
Dari unggahan akun @donyahmad.munir dan jalannya acara, pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: budaya adalah identitas bangsa yang harus dijaga.
Generasi muda diingatkan untuk tidak melupakan akar budaya di tengah gempuran globalisasi. Justru dengan budaya, bangsa Indonesia bisa berdiri tegak di hadapan dunia.
Pasanggiri Sinden Muda menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak harus kaku, tetapi bisa dikemas menarik dan inspiratif.
Tak bisa dipungkiri, media sosial juga punya peran besar dalam mengenalkan budaya. Unggahan dari akun @donyahmad.munir di Threads menjadi contoh nyata bagaimana sebuah postingan bisa menjangkau ribuan orang, menyebarkan pesan positif, sekaligus menginspirasi banyak pihak.
Di era digital, dokumentasi kegiatan budaya seperti ini bisa menjadi arsip berharga sekaligus promosi budaya ke dunia luar. Semakin banyak yang membagikan, semakin luas pula pesan pelestarian budaya tersebar.
Pasanggiri Sinden Muda se-Sumedang hanyalah salah satu contoh upaya menjaga warisan budaya. Namun, semangat yang lahir dari kegiatan ini bisa menjadi fondasi kuat untuk menjaga keberlanjutan budaya Sunda dan budaya Indonesia secara keseluruhan.
Harapan besar, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam melestarikan seni dan tradisi. Dengan demikian, kekayaan budaya bangsa tidak hanya menjadi cerita masa lalu, melainkan tetap hidup dan relevan hingga masa depan.
Dari unggahan akun @donyahmad.munir, jelas bahwa Pasanggiri Sinden Muda se-Sumedang lebih dari sekadar lomba. Ia adalah ruang pembelajaran, inspirasi, dan pengingat akan pentingnya menjaga identitas budaya.
Sinden muda bukan hanya pemenang di panggung, tetapi juga pemenang dalam perjuangan melestarikan budaya bangsa.
Dengan dukungan publik, pemerintah, tokoh budaya, dan generasi muda, Sumedang sekali lagi membuktikan diri sebagai penjaga warisan seni Sunda.
Sumber utama: Akun Threads @donyahmad.munir. (abd/Amy,)



















